Berita Tarakan Terkini
Sempat Ditampung Dinsos Tarakan, PMI Diduga Korban Penipuan Malah Pergi dari Selter
Terima laporan ada PMI yang terlantar di Tarakan, Dinsos Tarakan pun akhirnya menampung Sunaryo. Hari ini mau dipulangkan malah pergi.
Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Selain orang sakit, kasus orang terlantar yang berasal dari pekerja migran Indonesia (PMI) juga ikut ditangani Dinsos Tarakan.
Pada akhir November 2023 kemarin, Dinsos Tarakan menerima laporan PMI yang terlantar berada di Tarakan setelah berhasil kabur dari camp yang ada di perbatasan Kucing Kalbar.
PMI yang diketahui bernama Sunaryo ini ditempatkan sementara di selter per Kamis 23 November 2023 lalu. Namun update sampai hari Jumat (1/12/2023) hari ini kemari informasinya tidak di Selter.
"Ini informasi kemarin, bajunya dibawa tidak punya HP. Yang jaga lagi pulang karena ke Gereja, dia keluar karena Selter tidak dikunci. Dia bebas keluar masuk dan tidak ada CCTV. Sampai hari ini masih dicari tim," beber Akhmad Sujai, Penyuluh Sosial Ahli Muda Seksi Rehabilitasi Dinsos Tarakan.
Baca juga: Dinsos Tarakan Pulangkan Seorang Pria Telantar Asal Sulawesi, Kondisi Sedang Sakit
Padahal lanjut Sujai, rencana juga akan dipulangkan ke Jawa hari ini 1 Desember 2023 atau paling lambat hari Minggu nanti. Saat ditempatkan di selter, Sunaryo diberikan bantuan pakaian.
“Mau dibawa pulang ke kampung yang bersangkutan ada di Malang. Jadi rencana dibawa ke Sulawesi lalu dia transit kemudian lanjut ke Surabaya baru ke Malang," papar Sujai.
Anggaran disiapkan sudah ada dari Dinsos Tarakan untuk pemulangan ke Malang. "Ada uang tiket, uang jalan dari pelabuhan ke kampungnya naik bus, di sana kemungkinan nanti koordinasi dengan teman-teman Dinsos Surabaya," paparnya.
Berdasarkan informasi dihimpur dari PMI yang bersangkutan saat masih di selter, awalnya saat itu korban dari Jawa ada kurang lebih 30 orang dibuatkan paspor oleh pelaku yang disebut cukong pencari kerja di Kalbar. Kemudian diberangkatkanlah dari Jawa ke Kalbar dan dipekerjakan di perkebunan sawit.
"Dijanjikan kalau tidak salah 40 ringgit per hari dan ternyata dalam kesehariannya hanya dibayar 15 ringgit sampai 16 ringgit saja, dipotong terus dan justru malah tambah punya utang mereka-mereka ini yang dibawa ke sana," terangnya.
Baca juga: Disebut-sebut Meresahkan Masyarakat dan Akui Dilema Mengurus ODGJ Terlantar, Ini Kata DSP3A Nunukan
Akhirnya lanjutnya, korban berinisiatif lari dari pekerjaannya. Sebenarnya ada empat orang menurut keterangan orang terlantar ini. Namun dalam perjalanannya lari, berpisah.
"Lari keluar perkebunan sawit, berpencar. Dan yang di Tarakan ini ikut truk yang lewat yang penting keluar dari sana. Kan dia awalnya dari Jawa, direkrut dikirim ke Kalbar dan menyeberang ke Kucing. Kan perbatasan Kalbar lewat darat menyeberang,"paparnya.
Yang bersangkutan memutuskan lari dalam hitungan bulan saja dan tidak sampai setahun. Serta tidak sesuai yang dijanjikan.
"Sementara temanya yang 16 orang masi bertahan. Kalau laporan kekerasan tidak ada hanya gaji yang tidak sesuai diterima. Malah berutang bukannya dapat penghasilan, pokoknya sehari 15 Ringgit saja," paparnya.
Korban nekat lari keluar dari lokasi kamp malam-malam di Kalbar kemudian menumpang bus sampai tembus di Kaltara. Dia bahkan sampai ke Tawau setelah dari Kucing. Kemudian menyeberang ke Sungai Nyamuk dan lanjut ke Tarakan.
"Dia tidak didapat imigrasi karena lewat jalur tikus. Di Tarakan sampai ikut kapal, tidak bawa uang dan baju di badan. Dia tidurnya di masjid. Usianya sekitar 30-40 an. Namanya Suyono kelahiran Kediri tapi orang Batu, Malang," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/Sunaryo-01-01122023.jpg)