Berita Tarakan Terkini
Kenaikan Harga Cabai Terjadi di Seluruh Indonesia, Badan Pangan Nasional Beber Alasannya
Jelang Natal dan Tahun Baru, sejumlah pangan naik, salah satunya harga cabai di seluruh Indonesia mengalami lonjakan yang sangat tinggi.
Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Kenaikan harga cabai menjelang Natal dan Tahun Baru ternyata tidak hanya terjadi di Tarakan tetapi juga di beberapa wilayah secara nasional.
Seperti diakui Yudi Harsatriadi Sandiatma, Koordinator Kelompok Substansi Stabilisasi Pasokan Pangan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI. Dari Badan Pangan Nasional, dari sisi tupoksi pihaknya yakni bagaimana menstabilkan pasokan harga pangan.
"Memang dewasa ini untuk cabai mengalami peningkatan harga. Ini memang disinyalir di wilayah sentra produksi mengalami pengurangan dari sisi produktivitas. Dalam hal ini sudah datang musim hujan. Jadi ketika areal penanaman cabai itu sudah mulai berbunga, bunganya agak mula rontok dan mengurangi potensi produktivitas cabai itu sendiri," terangnya.
Berbagai upaya sudah dilakukan Bapanas. Di antaranya menggalakkan masyarakat untuk bisa menanam cabai melalui Gerakan Tanam Cabai.
Baca juga: Pantau Pasokan di Pasar Gusher, Dinas Pangan Kaltara Temukan Harga Cabai Tinggi, Beras dan Gula Naik
"Ini memang diinisiasi tidak hanya di kementerian teknis dalam hal ini Kementerian Pertanian, melalui forum Tim Pengendali Inflasi Pangan baik di pusat maupun di daerah ini kita galakkan," terangnya.
Dimana, BI sebagai leading sektor kegiatan TPID pusat dan daerah, sudah menggalakkan hal ini. Bapanas juga demikian sudah melakukan aksi dalam hal meredam gejolak harga cabai melalui kegiatan memobilisas cabai. Dalam hal ini kegiatannya adalah fasilitasi distribusi pangan yakni cabai.
"Bagaimana memindahkan harga pangan di wilayah sentra produksi ataupun wilayah surplus ke wilayah defisit. Sehingga nanti akan terbentuk harga baru atau harga yang tinggi-tingginya bisa terkoreksi menjadi harga lebih murah dan terjangkau masyarakat," ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Tarakan, Elang Buana juga menyampaikan bahwa dari sisi produksi sebenarnya, sudah swasembada di Tarakan.
Hanya saja ia mengulang apa yang disampaikan Bapanas, bahwa di Desember mulai terjadi hujan.
"Sifatnya nasional. Kalau sudah hujan rontok. Kemudian penyakit muncul seperti layu, pembusukan. Kemarin juga kami mengundang para pakar Budi daya lombok terutama untuk penanganan hama penyakit tanaman (HPT) dan organisme pengganggu tanaman kemarin kita ada melakukan pelatihan-pelatihan untuk menanggulangi penyakit cabai," paparnya.
Sehingga lanjutnya, dengan adanya penanganan ini diharapkan tahun depan panen bisa lebih lama dan panjang. Produksi lokal cabai di Tarakan sendiri bisasampai 2 ton. Jenisnya lombok kecil, rawit dan jenis lainnya.
"Potensial ditanam di Tarakan. Tapi memang kita juga dapat info dari pusat, ada penurunan produksi memang setiap Desember tidak hanya Tarakan tapi nasional. Kalau sudah hujan," urainya.
Adapun lanjutnya, Tarakan ini pada dasarnya memiliki hujan stabil. Hanya saja setiap Desember intensitasnya tinggi sekali. "Dalam sebulan 15 hari normal, nah di Desember lebih deras malam hari dan lebih dari 15 hari," paparnya.
Adapun sentra penanaman lombok tersebar di Tarakan Utara, Tarakan timur. Yang harus digalakkan adalah melakukan penanaman cabai sendiri salah satunya dan perlu penambahan lahan.
"Dan saya yakin tidak rugi kalau nanam lombok. Tidak hanya petani, semua juga bisa menanam asal ada lahan, kami insyaAllah bisa bantu. Asal punya areal," tukasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/Yudi-Harsatriadi-14122023.jpg)