Rabu, 22 April 2026

Berita Tarakan Terkini

LGBT Rambah Pelajar Tarakan, Pemerintah Minta Peran Aktif Edukasi Orangtua

DP3AP2KB Tarakan mengakui sudah muncul LGBT yang merambah remaja pelajar di Tarakan, Kalimantan Utara, minta peran aktif edukasi orangtua.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: Cornel Dimas Satrio
TribunKaltara.com/Andi Pausiah
Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3AP2KB Tarakan, Rinny Faulina. (TribunKaltara.com/Andi Pausiah) 

TRIBUNKALTARA.COM,TARAKAN – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tarakan membeberkan fakta temuan kasus LGBT merambah pelajar khususnya anak laki-laki.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3AP2KB, Rinny Faulina membeberkan ada beberapa faktor hal tersebut bisa terjadi.

Dari sisi data, belum ada kasus yang ditangani sebagai korban namun dari sisi komunitas diakuinya sudah muncul LGBT di Tarakan.

"Kalau data kasus masuk belum ada bahwa anaknya korban tapi komunitasnya ada. Kami dapat data dari Dinkes Tarakan bahwa mereka ada dan itu kaitan dengan HIV AIDS dan juga data PPA Polres," ujarnya.

Ia sendiri membenarkan kasus LGBT mulai merambah pelajar di Tarakan.

Iapun berharap peran lingkungan keluarga harus semakin kuat untuk memberikan perhatian pada anak.

"Sudah (merambah pelajar). Harus menciptakan anak lebih terbuka sama kita jangan sampai dia curhatnya kepada orang lain. Kalau anak balita, sampai TK lingkupnya tahunya bapak, ibu, kakak, adiknya. Tapi kalau sudah di SD, bisa saja dia meniru kata guru, bergeser ke SMP meniru kata teman, dan orang tua dalam hal ini harus mendampingi," ungkapnya.

Rinny Faulina mengatakan, saat anak-anak masuk masa pubertas orangtua haruslah mendampingi ketat dan pertama kali mengajarkan kepada anak terutama edukasi kesehatan reproduksi.

Mengenalkan anggota tubuh mengapa berbeda antara laki-laki dan perempuan sedini mungkin diajarkan kepada anak.

"Jangan sampai diajarkan teman," ujarnya.

Menurutnya, orangtua perlu sedini mungkin mengajarkan kepada anak sentuhan fisik yang boleh dan tidak boleh terjadi.

Mengajarkan anak membiasakan berkata tidak walaupun dengan orang terdekat sekalipun.

"Kadang mungkin disentuh, dia harus berani berontak. Sentuhan boleh di pundak, tangan. Sentuhan tidak boleh yah yang di wilayah tertutup dengan pakaian dalam. Anak cewek dan cowok," terangnya.

Ia memberikan contoh, anak laki-laki yang sudah waktunya mengalami mimpi basah, jika tak diarahkan orangtua, bahwa itu hal alami bisa saja terjadi salah paham.

"Misalnya sekolah berasrama tidur dengan temannya laki-laki dan temannya kaget dikira melakukan pelecehan pada temannya, padahal tidak dan dikeluarkan dari sekolah. Padahal kan hal itu tidak harus sampai keluar sekolah. Makanya saat ini sedang gencar masuk sekolah, kelurahan merangkul memperbanyak edukasi," jelasnya.

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved