Sabtu, 9 Mei 2026

Kelompok Tani Panen 5 Ton Gabah

Cerita Petani dan Warga RT 16 Mamburungan di Tarakan, Panen Padi hingga Berton tapi Jalan Rusak

Selama 14 tahun tinggal di RT 16 Kelurahan Mamburungan Tarakan Kalimantan Utara, Harsono mengaku akses jalan rusak karena licin dan berlumpur.

Tayang:
Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/ ANDI PAUSIAH
Kondisi akses jalan menuju RT 16 Kelurahan Mamburungan Kota Tarakan licin dan bsrlumpur saat hujan tiba. 

TRIBUNKALTARA.COM,TARAKAN- Kelompok Tani Mandiri di Kelurahan Mamburungan RT 16, Tarakan Kalimantan Utara setiap panen padi selalu berhasil. Bahkan pada Oktober 2024 hingga Januari 2025  asil panen padi mencapai 5 ton. Meskipun begitu, namun akses Jalan Rusak dan kini menjadi keluhan petani dan warga.

Selama 14 tahun petani dan warga selalu mengeluhkan akses masuk ke wilayah permukiman RT 16. Kelurahan Mamburungan. Sebab akses masuk jalan  ke permukiman RT 16 hanya bisa dilalui di wilayah Mako Lantamal XIII. 

Selain itu, jalan menuju wilayah RT 16 Kelurahan Mamburungan jika musim penghujan, aksesnya menjadi licin dan jalan berlumpur. Tak jarang banyak korban dari warga yang mengalami kecelakaan seperti motor oleng sampai terjatuh karena jalan berlumpur. Ini menjadi harapan ia bersama warga RT 16 lainnya.

"Kami harap pemerintah bisa bantu akses jalan karena anak sekolah itu pas hujan tidak bisa ke sekolah. Kalau mereka paksa keluar,  kembali lagi ke rumah, karena baju celana  kotor, jadi tidak jadi ke sekolah," kata Harsono, Ketua Kelompok Tani Mandiri Mamburungan  RT 16 Tarakan yang juga warga RT 16.

Baca juga: Program Cetak Sawah dan Optimasi Lahan, Diharapkan Pertanian di Tarakan Dapat Berkelanjutan

Di permukiman tersebut hanya ada 1 RT dan  ada sekitar 70 Kepala Keluarga (KK). Di sana ada anak SMP, SD dan juga SMA. Selain bertani, mayoritas ada juga menjadi nelayan. Yang menyulitkan adalah akses keluar masuk saat musim hujan.

"Seperti kondisi sekarang kerepotan kasihan. Kalau sudah sampai di luar sana, sudah becek jalanan berlumpur, tidak bisa lanjut ke sekolah, jadi kembali ke rumah, pilihannya tidak sekolah," ujarnya.

Begitu juga dalam hal distribusi gabah untuk digiling menjadi beras.  Ia berharap pemerintaj bisa bantu terkait akses jalan yang layak.  Ia melanjutkan memang sempat mendengar rencana pengalihan jalan di belakang bukit atau membuka jalan baru.

"Kendala  lainnya, pabrik atau penggilingan padi  dari padi ke beras cukup jauh, berada di persimpangan amal. Untuk perontokannya sudah ada di lokasi dekat persawahan disiapkan. Tapi itu tadi jauh baru kalau musim hujan susah," aku Harsono.

Ia melanjutkan lagi, pemerintah selama ini cukup aktif. Misalnya ada mesin perontok sendiri diperoleh dari bantuan dari Pemprov Kaltara melalui Dinas Pertanian. 
Termasuk  pernah menerima bantuan bibit atau benih, kemudian ada juga alsintan seperti hand tractor, mesin pompa air dan lainnya.\

Baca juga: BREAKING NEWS Pj Wali Kota dan Kelompok Tani di Tarakan Panen 5 Ton Gabah, Usul Program Cetak Sawah 

Ia mengungkapkan memang masih ada lahan lain yang potensi digarap. Lokasinya   di luar dari kawasan 5 hektare yang eksisting saat ini.

 Untuk  rangkaian penanaman sampai panen dimulai dari penggarapan lahan. Setelah lahan digarap, dilakukan penaburan benih. Setelah itu dilakukan penanaman dan diberi pupuk. Kurang lebih tiga bulan masa panen atau bisa sampao 3-4 kali setahun.

"Panen hari ini, hasil tanam 3 Oktober 2024 kemarin," ujarnya.

Kelompok Tani Mandiri Kelurahan Mamburungan sendiri saat ini memiliki 33 anggota. Sistemnya sendiri dalam lima hektare lahan ada pemilik masing-masing. Dari 33 anggota kelompok datang membantu saat panen dan masa tanam. Sehingga tidak ada istilah penggajian. Hanya dari pemilik lahan yang memberikan. "Kami yang punya lahan kasih sedikit-seditik, 2 kg atau 3 kg yang datang bantu. Karena kami sistemnya saling bantu, gotong royong. Kami juga begitu kalau mereka ada pekerjaan menanam padi datang bantu, begitu juga tanam cabai, sayur dan lain" ungkap  Harsono.

Prinsip kerja diterapkan dalam poktan adalah harus kerja sama dan tidak bisa sendiri dikerjakan. 

Ia sendiri memiliki lahan 1 hektare misalnya. Maka jika hasil panen mencapai 5 ton, maka dibagi juga untuk anggota kelompok. Sisanya digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Biasanya juga dalam proses penggilingan gabah ke beras bisa sampai 3 kali dan tidak hanya sekali.

Harsono Ketua Kelompok Tani Mandiri 16012025.jpg
Kondisi akses jalan menuju RT 16 Kelurahan Mamburungan Tarakan, Kalimantan Utara licin dan bsrlumpur saat hujan tiba.
Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved