Selasa, 14 April 2026

Birau Bulungan

Mamanda, Seni Teater Tradisional Bulungan yang Pernah Populer dan Kini Dihidupkan Kembali

Mengenal seni teater Mamanda Bulungan, dilengkapi dengan musik dan tarian khas Jepen, hingga penampilan seni beladiri Kuntau.

Penulis: Edy Nugroho | Editor: Cornel Dimas Satrio
TribunKaltara.com/Edy Nugroho
SENI TEATER TRADISIONAL - Pementasan seni Mamanda Bulungan di panggung Birau 2025 yang digelar di Lapangan Kebun Raya Bundayati, Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara, Selasa (14/10/2025) malam. 

TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR - Tabuhan gamelan khas Bulungan, kulintang dan rebab mengawali pertunjukan teater tradisional yang ditampilkan di panggung utama lapangan Kebun Raya Bundayati, Tanjung Selor, Kalimantan Utara, Selasa (14/10/2025) malam.

Di atas panggung tampak beberapa pemain peran, penari dan juga pemain Kuntau, seni bela diri khas Bulungan.

Pertunjukan ini namanya Mamanda. Berbeda dengan Mamanda dari Kalimantan Selatan yang menjadi asal muasalnya, Mamanda Bulungan memiliki kekhasan tersendiri, karena dipengaruhi oleh sejarah Kesultanan Bulungan

Meski secara umum masih mengandung unsur-unsur seni Mamanda. Seperti drama, teater rakyat, dan terkadang dilengkapi dengan musik serta tarian khas seperti Jepen. Juga penampilan seni beladiri Kuntau.

Mengisahkan, sejarah Kesultanan Bulungan kala masih berjaya. Begitu lah cerita-cerita yang ditampilkan dalam seni Mamanda Bulungan.

Beberapa pemain memang sudah berusia di atas 40 tahunan. Namun tak sedikit generasi muda, bahkan remaja yang turut tampil dalam gelaran seni Mamanda malam itu.

161025 seni Mamanda Bulungan 1
SENI TEATER TRADISIONAL - Pementasan seni Mamanda Bulungan di panggung Birau 2025 yang digelar di Lapangan Kebun Raya Bundayati, Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara, Selasa (14/10/2025) malam.

Baca juga: Momen Birau Bulungan Kaltara, Liagu Desa Pesisir di Kecamatan Sekatak Pilih Pamerkan Hasil Laut

Gemulai penari, rancak musik tradisionalnya, serta gerak pemain Kuntau menambahkan penampilan mereka tambah menarik.

Pemain yang memerankan tokoh dalam drama, juga cukup menjiwai. Ada yang berperan sebagai Sultan, sebagai hulubalang. Ada juga pemeran jahat yang antagonis. Cukup menarik.

Kesenian ini patut dilestarikan. Demikian disampaikan Ketua Adat Bulungan Kaltara, Datu Buyung Perkasa. Untuk itu lah, dalam beberapa tahun terakhir, seni Mamanda kerap ditampilkan kembali di berbagai acara.

Ia mengatakan, alasan para tokoh dan pegiat seni Bulungan menghidupkan kembali seni budaya drama Mamanda, karena seni tradisional ini kian terancam punah.

Berkat dukungan tetua adat serta mantan pelakon (pemain drama) Mamanda yang umumnya sudah sepuh sebagai penasehat, maka seni drama itu ditampilkan.

Seni drama Mamanda dianggap cukup signifikan untuk menghidupkan seni budaya lain.

Hal itu karena dalam seni drama Mamanda terdapat seni berpantun, menyanyi, menari, silat hingga melawak.

"Beberapa anak muda, telah dilatih untuk memainkan musik melengkapi Mamanda. Seperti terlihat saat tampil tadi. Utamanya para penari dan pemain Kuntau, rata-rata anak remaja mereka," ujarnya.

Beberapa warga berharap agar acara pentas seni Mamanda kerap ditampilkan. Bahkan bisa dikemas dengan baik agar bisa menjadi obyek wisata budaya yang bisa diandalkan.

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved