Senin, 27 April 2026

Berita Tarakan Terkini

Sopir Truk di Tarakan Sulit Dapat Solar, Terpaksa Bermalam di APMS, Begini Penjelasan Pertamina

Saking sulitnya menemukan solar, para sopir pun rela antre bahkan bermalam di depan APMS Jalan Aki Balak Tarakan Kalimantan Utara.

|
Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TribunKaltara.com/Andi Pausiah
ANTREAN TRUK - Antrean yang mengular panjang dari salah satu agen penyalur BBM di Jalan Aki balak Kelurahan Karang Harapan terlihat pada Selasa (3/2/2026). Pantauan hari ini antrean tak lagi terlihat seperti kemarin. 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN- Beberapa pekan terakhir terlihat truk antre panjang di salah satu Agen Premium dan Minyak Solar (APMS) Jalan Aki Balak Kelurahan Karang Harapan, Tarakan Kalimantan Utara.

Pantauan TribunKaltara hari ini, Rabu (4/2/2026) truk yang antre sudah tidak sepanjang seperti yang terlihat kemarin. Tampak sejumlah truk besar parkir rapat, di pinggir Jalan Aki Balak

Bahkan ada truk yang bermalam di lokasi demi mendapatkan solar. Menurut Aleks salah satu satu  sopir, akhir-akhir ini solar semakin sulit diperoleh.  Tentunya ini sangat berdampak pada aktivitas kerja dan penghasilan sopir.

“Yang ngantri ini ada yang dari subuh, ada juga yang dari kemarin. Kemarin itu batas pengisian sampai jam setengah tiga, ada yang dapat, ada juga yang tidak,” ujar sopir yang kerjanya sehari-hari angkut material bangunan.

Baca juga: Stok Pertalite dan Solar di Malinau Kini Kembali Normal, Cukup hingga Natal dan Tahun Baru

Diakui Aleks antrean panjang truk di APMS, karena stok solar di agen penyalur sering kali habis lebih cepat dari biasanya. Jika sebelumnya kuota solar bisa mencukupi hingga satu bulan penuh, kini hanya bertahan sekitar 20 hari.

“Dulu satu bulan full, sekarang paling cuma 20 hari. Dari tanggal 2 sampai 20 sudah habis. Sisanya itu kosong,” katanya.

Ia mengatakan, 10 hari tanpa pengisian solar menjadi masa paling berat bagi para sopir. “Selama 10 hari kosong itu kami mau kerja, mau bikin kegiatan apa pun nggak bisa. Karena nggak ada solar,” ucapnya.

Akibat keterbatasan stok solar, para sopir terpaksa berebut antrean sejak pagi hari. Bahkan, ada yang sudah datang sejak dini hari demi memastikan mendapatkan solar “Ini sudah kayak rebutan. Dari tanggal 2 Februari 2026 itu semua sudah muncul di sini,” katanya.

Aleks mengaku sudah mencoba mencari informasi dan menyampaikan keluhan, namun belum menemukan tempat pengaduan yang benar-benar bisa membantu. “Kalau ada tempat mengadu ya pasti kami mengadu. Kita ini kerja kok susah sekali dapat BBM,” keluhnya.

Ia menjelaskan, setiap kendaraan dibatasi kuota 48 liter per hari, yang sebenarnya cukup untuk satu hari kerja. “48 liter itu per hari. Untuk mobil sebesar ini sebenarnya cukup, asal dapat,” jelasnya.

Baca juga: Atasi Antrean Kendaraan di SPBU, Satpol PP Bulungan Tunggu Regulasi: Penertiban Langkah Terakhir

Namun masalahnya, sering kali solar sudah habis sebelum antreannya sampai. “Kalau 48 liter itu habis, ya parkir. Nggak bisa kerja,” tambahnya.

Aleks menyebut kondisi sulitnya mendapatkan solar ini bukan hal baru. Ia mengaku sudah merasakannya sejak beberapa tahun lalu.

“Bukan baru, dari awal berdirinya pabrik kertas itu sudah seperti ini. Sejak kendaraan-kendaraan besar diarahkan ke sini semua,” ungkapnya.

Menurutnya, SPBU atau APMS lain di Tarakan sudah tidak lagi melayani kendaraan besar, sehingga seluruh antrean menumpuk di satu titik.

“Dulu ada di tempat lain, tapi karena macet dan lain-lain, akhirnya diarahkan ke sini semua,” katanya.

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved