Selasa, 14 April 2026

Berita Malinau Terkini

Buku Bacaan, jadi Benteng Pertahanan Anak Malinau dari Kecanduan Digital

Di Malinau, buku bukan sekadar bacaan, melainkan senjata utama anak melawan kecanduan gawai di era digital.

Penulis: Mohamad Supri | Editor: Cornel Dimas Satrio
TribunKaltara.com/Mohamad Supri
PUTUS KECANDUAN DIGITAL - Aktivitas literasi di Taman Baca Cerdas Ceria, RT 5 Desa Kuala Lapang, Malinau Barat, Malinau, Kalimantan Utara, Kamis (5/2/2026). Di Malinau, buku bukan sekadar bacaan, melainkan senjata utama anak melawan kecanduan gawai di era digital. 

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU – Ketergantungan terhadap gawai kini menjadi ancaman nyata bagi pertumbuhan anak-anak, khususnya pada fase perkembangan anak usia dini.

​Dampak gawai atau perangkat elektronik tidak hanya memengaruhi perilaku, juga pola pikir dan kebiasaan.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menyatakan dominasi gawai selama ini telah menjadi penghambat utama aktivitas sosial anak.

​Bacaan fisik menjadi solusi paling efektif untuk menekan dampak negatif teknologi informasi pada Generasi Alpha di Malinau.

"Karena ketergantungan pada gawai banyak menimbulkan dampak negatif, terutama pada anak yang masih dalam fase tumbuh kembang. Bacaan fisik, buku bacaan bisa mengurangi kecanduan," ungkapnya.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin 07022026
PUTUS KECANDUAN DIGITAL - Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, saat ditemui di Malinau, Kalimantan Utara. Di Malinau, buku bukan sekadar bacaan, melainkan senjata utama anak melawan kecanduan gawai di era digital.

Baca juga: Taman Baca Masyarakat di Malinau Berkembang Pesat, Ada 91 Komunitas dan Didukung 700 Pegiat

Aktivitas membaca bersama terbukti mampu memulihkan kemampuan kognitif anak, yang sebelumnya sempat tumpul akibat konsumsi konten digital instan.

Melalui buku, anak-anak kembali belajar berhitung hingga memahami isu krusial seperti pelestarian ekosistem lokal.

Daya nalar anak-anak Malinau dalam memahami bahaya banjir dan pentingnya melindungi hutan menjadi bukti, bacaan berkualitas mampu membentuk kecerdasan ekologis yang tidak didapatkan dari gawai.

Langkah ini didukung penuh pemerintah desa yang mengalokasikan dana khusus untuk menghidupkan budaya baca di tingkat paling bawah.

"Kita bisa lihat bagaimana bacaan anak memperkenalkan apa fungsi pohon, utamanya untuk pendidikan lingkungan. Jadi anak-anak bisa mengerti tujuan memelihara pohon, hutan adalah mencegah longsor, banjir, dan lain sebagainya," tegas Hafidz.

07022026 literasi di Taman Baca Cerdas Ceria 01
PUTUS KECANDUAN DIGITAL - Aktivitas literasi di Taman Baca Cerdas Ceria, RT 5 Desa Kuala Lapang, Malinau Barat, Malinau, Kalimantan Utara, Kamis (5/2/2026). Di Malinau, buku bukan sekadar bacaan, melainkan senjata utama anak melawan kecanduan gawai di era digital.

Baca juga: Kepala Badan Bahasa Kemendikdasmen Lirik Model Literasi di Malinau, Dana Komunitas Layak Diadopsi

Buku bacaan bukan sekadar alat untuk mengenal huruf, melainkan instrumen penting untuk memutus rantai kecanduan digital.

Dengan sinergi yang kuat antara sekolah dan komunitas, literasi diharapkan dapat mengembalikan hakikat anak sebagai makhluk sosial yang peduli pada lingkungannya, sekaligus menjauhkan mereka dari isolasi dunia maya.

(*)

Penulis: Mohammad Supri

Sumber: Tribun Kaltara
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved