Berita Malinau Terkini
Buku Bacaan, jadi Benteng Pertahanan Anak Malinau dari Kecanduan Digital
Di Malinau, buku bukan sekadar bacaan, melainkan senjata utama anak melawan kecanduan gawai di era digital.
Penulis: Mohamad Supri | Editor: Cornel Dimas Satrio
TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU – Ketergantungan terhadap gawai kini menjadi ancaman nyata bagi pertumbuhan anak-anak, khususnya pada fase perkembangan anak usia dini.
Dampak gawai atau perangkat elektronik tidak hanya memengaruhi perilaku, juga pola pikir dan kebiasaan.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menyatakan dominasi gawai selama ini telah menjadi penghambat utama aktivitas sosial anak.
Bacaan fisik menjadi solusi paling efektif untuk menekan dampak negatif teknologi informasi pada Generasi Alpha di Malinau.
"Karena ketergantungan pada gawai banyak menimbulkan dampak negatif, terutama pada anak yang masih dalam fase tumbuh kembang. Bacaan fisik, buku bacaan bisa mengurangi kecanduan," ungkapnya.
Baca juga: Taman Baca Masyarakat di Malinau Berkembang Pesat, Ada 91 Komunitas dan Didukung 700 Pegiat
Aktivitas membaca bersama terbukti mampu memulihkan kemampuan kognitif anak, yang sebelumnya sempat tumpul akibat konsumsi konten digital instan.
Melalui buku, anak-anak kembali belajar berhitung hingga memahami isu krusial seperti pelestarian ekosistem lokal.
Daya nalar anak-anak Malinau dalam memahami bahaya banjir dan pentingnya melindungi hutan menjadi bukti, bacaan berkualitas mampu membentuk kecerdasan ekologis yang tidak didapatkan dari gawai.
Langkah ini didukung penuh pemerintah desa yang mengalokasikan dana khusus untuk menghidupkan budaya baca di tingkat paling bawah.
"Kita bisa lihat bagaimana bacaan anak memperkenalkan apa fungsi pohon, utamanya untuk pendidikan lingkungan. Jadi anak-anak bisa mengerti tujuan memelihara pohon, hutan adalah mencegah longsor, banjir, dan lain sebagainya," tegas Hafidz.
Baca juga: Kepala Badan Bahasa Kemendikdasmen Lirik Model Literasi di Malinau, Dana Komunitas Layak Diadopsi
Buku bacaan bukan sekadar alat untuk mengenal huruf, melainkan instrumen penting untuk memutus rantai kecanduan digital.
Dengan sinergi yang kuat antara sekolah dan komunitas, literasi diharapkan dapat mengembalikan hakikat anak sebagai makhluk sosial yang peduli pada lingkungannya, sekaligus menjauhkan mereka dari isolasi dunia maya.
(*)
Penulis: Mohammad Supri
| Disdukcapil Malinau Sebut 931 warga di 15 Kecamatan Belum Rekam KTP, Didominasi Wilayah Perkotaan |
|
|---|
| Disdik Evaluasi Program Wajib Belajar Malinau Maju, Target Pendidikan Nonformal dan Kesetaraan |
|
|---|
| Turunkan Angka Stunting, di Malinau, Pemkab Fokus pada Akses Air Minum dan Perbaikan Sanitasi |
|
|---|
| Gairah Investasi di Kabuparen Malinau Meningkat, Komponen PMTB Tumbuh Positif Capai 4,84 Persen |
|
|---|
| Harga Ikan Kembung Naik Rp 45 Ribu Per Kg di Malinau, Cabai Rawit Merah Turun Rp 100 Ribu Per Kg |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/07022026-literasi-di-Taman-Baca-Cerdas-Ceria-02.jpg)