Berita Tarakan Terkini
Rupiah Tembus 17 Ribu per Dollar AS, Ini Respons Akademisi Universitas Borneo Tarakan Dr Margiyono
Ini respons Akademisi Universitas Borneo Tarakan Dr Margiyono soal rupiah yang kini tembus 17 Ribu per dollar AS.
Penulis: Andi Pausiah | Editor: Amiruddin
Ringkasan Berita:
- Universitas Borneo Tarakan, Dr Margiyono menilai pelemahan rupiah ke Rp17 ribu/dolar masih lebih stabil dibanding krisis 1998 karena inflasi rendah, ekonomi tumbuh, dan cadangan devisa kuat.
- Tekanan mata uang terjadi global, tidak hanya rupiah, karena dolar AS masih menjadi aset “safe haven” yang banyak diminati dunia.
- Dampaknya, harga impor bisa naik dan perlu diwaspadai, namun pelemahan rupiah juga berpotensi mendorong ekspor dan pariwisata lebih kompetitif.
TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Akademisi Universitas Borneo Tarakan ( UBT ), Dr Margiyono, ikut memberikan perspektif dan sudut pandang terkait nilai tukar dollar terhadap rupiah saat ini telah lampaui Rp17 ribu.
Menurutnya nilai tukar rupiah atas dolar naik tidak berdampak selama stok pangan tersedia berdampak inflasi stabil.
Namun yang perlu diwaspadai adalah dampaknya terhadap impor.
Margiyono menjelaskan, jika dibandingkan secara nominal, ia berada di atas nilai rupiah terhadap dolar pada tahun 1998.
Tetapi untuk melihat nilai itu secara objektif, lanjutnya, harus mengkomparasi beberapa variabel yang mendampingi atau yang berada di sekitar nilai tukar rupiah pada tahun 1998 pada saat terjadi krisis monetar dan saat ini.
"Pada saat terjadi krisis moneter tahun 1998, memang rupiah berada pada kisaran Rp16.000 lebih.
Dan ia diwarnai oleh beberapa variabel ekonomi yang memang boleh dikatakan relatif berisiko ya kalau mungkin agak rapuh begitu.
Kerapuhan itu misalnya pada saat itu cadangan devisa Indonesia itu hanya sekitar antara Rp14.000 sampai dengan Rp16.000 miliar dolar," kata Margiyono di Tarakan, pada Minggu 17 Mei 2026.
Kemudian pertumbuhan ekonomi Indonesia juga minus, kurang lebih itu hampir 11 persen.
Baca juga: Akademisi Universitas Borneo Tarakan Margiyono Sebut Inflasi Bukanlah Penyakit dan Jangan Terjebak
Inflasi saat itu hampir 60 persen.
Dan yang mengalami krisis pada saat itu adalah relatif sedikit, yaitu hanya negara Indonesia dengan Thailand.
Sementara berbeda dengan kondisi saat ini di mana meskipun rupiah berada pada titik yaitu lebih dari Rp17.000-Rp17.200-an, pertumbuhan ekonomi positif yaitu 5,61 persen.
"Terus inflasi kita juga berada di bawah 3 yaitu hanya sekitar 2,6 sampai di bawah 3 persen maksud saya begitu.
Bahkan inflasi intinya terus terjaga.
| Selain Pelabuhan, BI Kaltara Target QRIS untuk SPBU dan Parkir di Tarakan |
|
|---|
| 20 dan 21 Mei Ada Soft Launching Pembelian Tiket Speedboat Pakai QRIS pada 3 Pelabuhan di Kaltara |
|
|---|
| Razia Kamar Hunian Warga Binaan Lapas Tarakan, Petugas Temukan Sendok Besi hingga Kabel Listrik |
|
|---|
| Kepiting dan Udang Windu Tembus Pasar Internasional, Ikan Bawal Ekspor Perdana ke Hongkong |
|
|---|
| Mendekati Idul Adha, Bulog Tarakan Sebut Stok Beras dan Gula Aman, MinyaKita Diupayakan Datang Lagi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/Akdemisi-UBT-Margiyono-06052026.jpg)