Senin, 18 Mei 2026

Berita Tarakan Terkini

Rupiah Tembus 17 Ribu per Dollar AS, Ini Respons Akademisi Universitas Borneo Tarakan Dr Margiyono

Ini respons Akademisi Universitas Borneo Tarakan Dr Margiyono soal rupiah yang kini tembus 17 Ribu per dollar AS.

Tayang:
Penulis: Andi Pausiah | Editor: Amiruddin
ISTIMEWA/Margiyono
DOLLAR - Foto Akademisi Universitas Borneo Tarakan, Dr Margiyono. Dr Margiyono ikut memberikan perspektif nilai tukar rupiah terhadap dollar yang terjadi saat ini. ISTIMEWA/Margiyono 

Jadi inflasi inti itu adalah inflasi yang menunjukkan yaitu denyut harga pangan. 

Di mana pangan tersedia, permintaannya stabil, maka harganya cenderung stabil," ungkapnya.

Sehingga jika inflasi inti itu terus terjaga, artinya tidak ada persoalan dengan pangan karena produksinya terus berjalan sementara permintaannya juga terus berjalan.

Ia melanjutkan lagi, salah satunya misalnya produksi terlalu tinggi mungkin bisa terjadi deflasi.  

Lalu jika permintaannya terlalu tinggi juga terjadi inflasi. 

Jadi keseimbangan atau posisi ekuilibrium antara permintaan dan penawaran pangan itu sangat baik.

"Itu untuk pertumbuhan dengan inflasinya. 

Kemudian kalau kita lihat dari cadangan devisa kita, cadangan devisa kita jauh lebih tinggi. 

Misalnya cadangan devisa kita itu saat ini adalah berada pada sekitaran 146 miliar dolar. 

Jadi kalau tadi ribuan sekarang 10 kali lipat kira-kira begitu, hampir 10 kali lipat," ujarnya.

Sementara yang mengalami kondisi yang sama sebagaimana yang dialami rupiah itu hampir semua negara. 

Ia menjabarkan  misalnya mata uang peso juga mengalami tekanan, rupee India mengalami tekanan, begitu juga mata uang China, Yuan juga mengalami tekanan. Termasuk  mata uang Won Korea juga semua mengalami tekanan. 

"Jadi tekanan terhadap mata uang itu tidak hanya dialami oleh rupiah, tetapi hampir semua mata uang terhadap dolar. Nah kberbeda tadi kalau pada krismon  tahun 1898 kan hanya Indonesia dengan Thailand. Jadi itu hal yang membedakan posisi yaitu nilai tukar rupiah kita terhadap mata uang dolar. Jadi memang dolar ini adalah fenomena yang unik di perekonomian global," ujar Margiyono.

Ia menyebutkan dollar  dalam kondisi apapun dolar itu selalu menguat. Jadi misalnya kondisinya saat ini ekonomi Amerika itu juga tidak baik-baik saja. 

"Kita sama-sama monitor di mana harga BBM naik, sebagaimana juga kenaikan harga BBM di dalam negeri, di Indonesia dan juga di negara lain oleh karena gangguan distribusi atau gangguan transportasi yang ada di Selat Hormuz, akibat terjadinya konflik antara Amerika dengan Iran," lanjutnya.

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved