Selasa, 2 Juni 2026

Berita Tarakan Terkini

Kisah Bahar Mahmud yang Berhasil Turunkan Berat Badan 150 Kg Jadi 87 Kg, Metode Intermittent Fasting

Takut mati muda, akhirnya Bahar Mahmud lakukan diet dengan metode Intermittent Fasting dan berat badan berhasil turu dari 150 Kg ke 86 Kg.

Tayang:
Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TribunKaltara.com/Andi Pausiah
BERBAGI KISAH - Bahar Mahmud, pria obesitas yang berhasil turunkan berat badan 62 kg selama enam bulan saat diwawancarai TribunKaltara.com 
Ringkasan Berita:
  • Bahar (150 kg) nekat berubah karena takut mati muda setelah vonis tensi tinggi dan gejala diabetes.
  • Ia konsisten menerapkan defisit kalori dan puasa bertahap, melewati fase berat mirip sakau.
  • Dalam 6 bulan, beratnya turun 62,3 kg (kini 87,7 kg) dan hidupnya jauh lebih sehat.

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Bagi sebagian orang, duduk di kursi plastik adalah hal biasa yang nyaris tidak pernah dipikirkan. Namun tidak demikian bagi Bahar Mahmud.

Pria asal Tarakan Kalimantan Utara berusia 38 tahun itu pernah menjalani hari-hari dengan ketakutan yang terus menghantuinya setiap kali hendak duduk di tempat umum. Bukan karena alasan tertentu, melainkan karena ia khawatir kursi yang didudukinya tidak mampu menopang berat tubuhnya yang kala itu mencapai sekitar 150 kilogram.

Rasa cemas tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya selama bertahun-tahun ketika Obesitas ekstrem menguasai tubuhnya.

"Kalau dulu saya duduk di kursi, kaki saya kadang ikut menahan beban. Takut kursinya patah. Itu benar-benar saya rasakan. Orang mungkin menganggap sepele, tapi bagi saya itu jadi beban pikiran setiap hari," kenangnya.

Kekhawatiran terhadap kursi patah hanyalah sebagian kecil dari persoalan yang harus dihadapinya.

Dengan tinggi badan sekitar 164 sentimeter dan berat badan mencapai 150 kilogram, hampir seluruh aktivitas sederhana menjadi terasa sulit. Bergerak cepat membuatnya mudah kelelahan. Berjalan jauh terasa berat. Bahkan membeli pakaian pun bukan perkara mudah.

Baca juga: Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar, Tapi Baik untuk Detoks hingga Kontrol Berat Badan

Ukuran pakaian yang tersedia di pasaran tidak lagi mampu menyesuaikan bentuk tubuhnya. Hampir seluruh pakaian harus dibuat secara khusus.

Ukuran XXXL yang biasanya dianggap besar ternyata belum cukup baginya. Celana harus dipesan khusus, begitu pula dengan pakaian lainnya. Bahkan panjang gesper yang digunakannya mencapai sekitar dua meter.

Semakin hari, Bahar merasa tubuhnya perlahan membatasi kehidupannya. Ia kehilangan banyak hal yang selama ini dianggap normal oleh orang lain. Duduk nyaman, bergerak bebas, berjalan tanpa sesak napas hingga memilih pakaian sesuai keinginan menjadi sesuatu yang sulit ia nikmati.Dalam kondisi tersebut, rasa putus asa sempat menghampirinya.

"Ada masa saya merasa putus asa. Karena saya tidak bisa melakukan banyak hal yang orang normal lakukan. Rasanya seperti hidup dibatasi oleh badan sendiri," ujar pria yang juga saat ini sebagai pengajar di SDIT Ulul Albab Kota Tarakan.

Namun titik balik hidupnya datang bukan karena ingin memiliki tubuh ideal atau mengejar penampilan. Ia berubah karena mulai takut kehilangan masa depan.

Awalnya, Bahar Mahmud mengaku sering menerima kiriman video dan informasi mengenai bahaya Obesitas dari teman-temannya. Alih-alih termotivasi, ia justru merasa kesal karena terus diingatkan mengenai kondisi tubuhnya.

Namun lambat laun, berbagai peringatan itu menjadi alarm yang tidak lagi bisa diabaikan.

Ia mulai mencari tahu lebih jauh mengenai Obesitas dan berbagai komplikasi yang dapat mengancam penderitanya. Kesadaran itu semakin kuat ketika dirinya memeriksakan kesehatan ke dokter. Hasil pemeriksaan membuatnya terkejut.

Kadar gula darahnya pernah mencapai angka 216 setelah mengonsumsi makanan manis dalam jumlah besar. Sementara tekanan darahnya sempat berada di angka 180 per 110 mmHg meskipun sedang tidak melakukan aktivitas berat.

Dokter mengingatkan risiko berbagai penyakit serius yang mengintai apabila gaya hidupnya tidak segera berubah.

"Saya mulai sadar. Kalau saya tidak melakukan sesuatu, bukan cuma berat badan yang jadi masalah. Saya bisa kena komplikasi. Bisa ke jantung, ginjal, hipertensi," katanya.

Baca juga: Cerita Ikhsan dan Rasya Raih Juara di Kejurprov Pencak Silat Kaltara, Harus Turunkan Berat Badan

Saat itulah untuk pertama kalinya Bahar Mahmud merasa benar-benar takut. Bukan takut karena komentar orang lain terhadap bentuk tubuhnya, melainkan takut meninggalkan keluarga lebih cepat akibat penyakit yang bisa sebenarnya dicegah.

"Saya mulai berpikir bukan cuma tentang diri saya sendiri, tapi tentang keluarga saya. Kalau saya kena komplikasi, secara otomatis mendekatkan saya pada kematian di usia muda," ujarnya.

Kesadaran tersebut menjadi titik awal perjalanan panjangnya keluar dari jerat obesitas. Namun jalan yang harus ditempuh ternyata tidak mudah. Pada minggu-minggu pertama menjalani perubahan pola hidup, tubuhnya mengalami guncangan yang luar biasa.

Selama bertahun-tahun ia terbiasa mengonsumsi makanan dalam jumlah besar. Ketika pola makan itu dihentikan secara bertahap, tubuhnya seolah melakukan perlawanan.

Ia mengaku mengalami masa-masa yang sangat berat. Kepala sering pusing, tubuh terasa lemas, dan pikirannya terus memikirkan makanan.Bahkan kondisi mentalnya sempat terganggu.

"Kalau saya menggambarkan waktu itu, rasanya seperti orang yang sedang sakau. Saya depresi. Bahkan saya suka berhalusinasi. Kepala pusing, badan tidak nyaman, pikiran terus mengajak makan. Berat sekali," ungkapnya.

Meski demikian, Bahar Mahmud memilih bertahan. Ia mulai mengubah kebiasaan satu per satu.
Minuman manis yang sebelumnya hampir selalu dikonsumsi diganti dengan air putih. Porsi nasi dikurangi secara signifikan. Ia mulai menghitung kebutuhan kalori harian dan mempelajari konsep defisit kalori dengan serius.

Berbagai produk pelangsing yang pernah dicobanya di masa lalu tidak lagi menjadi pilihan.Kali ini ia ingin membuktikan bahwa perubahan dapat dicapai melalui disiplin dan konsistensi.

Selain mengatur pola makan, Bahar Mahmud juga mempelajari berbagai metode puasa yang banyak digunakan dalam dunia kesehatan.
Ia memulai dari pola intermittent fasting secara bertahap.

Mulai dari puasa 12 jam, kemudian meningkat menjadi 14 jam, 16 jam, 18 jam hingga akhirnya mampu menjalani water fasting selama 72 jam atau tiga hari dengan hanya mengonsumsi air putih.

Meski demikian, ia menegaskan seluruh proses tersebut dilakukan secara bertahap agar tubuh memiliki waktu beradaptasi.

Baginya, keberhasilan menurunkan berat badan bukan terletak pada metode ekstrem, melainkan kemampuan membangun kebiasaan sehat yang bisa dipertahankan dalam jangka panjang.

Perjuangan yang dijalani akhirnya mulai membuahkan hasil. Berat badannya turun perlahan tetapi konsisten.

Tubuh yang sebelumnya terasa berat mulai lebih ringan. Aktivitas yang dahulu membuatnya kelelahan kini dapat dilakukan dengan lebih mudah. Energi meningkat, kualitas hidup membaik, dan rasa percaya diri perlahan kembali tumbuh.

Kini berat badan Bahar Mahmud berada di angka 87,7 kilogram. Artinya, lebih dari 62 kilogram berhasil ia turunkan hanya dalam waktu sekitar enam bulan.

Perubahan tersebut membuat banyak orang yang mengenalnya sulit percaya. Meski berhasil menurunkan berat badan secara drastis, jejak perjuangan itu masih terlihat dari kulit kendur yang tersisa di beberapa bagian tubuhnya.

Namun bagi Bahar Mahmud, hal itu bukan sesuatu yang memalukan. Sebaliknya, kulit tersebut menjadi pengingat perjalanan panjang yang pernah dilaluinya.

Bahar Mahmud saat gemuk 02 01062026
BAHAR SEBELUM DIET - Tampak tubuh Bahar Mahmud saat masih memiliki BB 150 kg.

"Itu pengingat buat saya. Bukti bahwa saya pernah gemuk ekstrem. Saya tidak malu menunjukkannya. Kalau itu bisa memotivasi orang lain untuk berubah, saya senang," katanya.

Saat ini olahraga telah menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Ia rutin berolahraga hampir setiap hari. Pada akhir pekan, aktivitas fisiknya bahkan bisa dilakukan dua kali sehari.

Berjalan kaki, on on, berkebun, hingga berbagai aktivitas luar ruangan menjadi rutinitas yang kini dinikmatinya.

Bahar mengaku merasa seperti mendapatkan kesempatan hidup kedua. Di usia 38 tahun, ia tidak lagi berfokus pada angka timbangan semata, tetapi ingin mengajak lebih banyak orang untuk menyadari bahaya obesitas sebelum terlambat.

Sebab ia tahu persis bagaimana rasanya hidup dengan berat badan 150 kilogram, kesulitan bergerak, kehilangan kepercayaan diri, hingga dihantui ketakutan akan masa depan.

Karena pernah berada di titik tersebut, ia berharap kisahnya bisa menjadi motivasi bagi mereka yang saat ini masih berjuang melawan Obesitas.

"Kalau saya yang dulu 150 kilogram bisa berubah, saya yakin orang lain juga bisa. Yang penting jangan menyerah. Mulai saja dulu, pelan-pelan. Karena yang kita selamatkan sebenarnya bukan sekadar berat badan, tapi hidup kita sendiri," pungkasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

Sumber: Tribun Kaltara
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved