Minggu, 19 April 2026

Perbatasan RI Malaysia

Problem Perbatasan RI-Malaysia Tak hanya Sinyal & Listrik, Tenaga Pengajar Muda Ungkap Hal Lain

Setahun mengabdi, tenaga pengajar muda di perbatasan RI-Malaysia kesulitan mendapat sinyal & listrik, serta ini.

Penulis: Febrianus Felis | Editor: M Purnomo Susanto
TRIBUNKALTARA.COM/FELIS
Pengajar muda di perbatasan RI-Malaysia, Yuga Putri Pramesty (24). (TRIBUNKALTARA.COM/ Febrianus felis) 

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Setahun mengabdi, tenaga pengajar muda di perbatasan RI-Malaysia kesulitan mendapat sinyal & listrik, serta ini.

Setahun mengabdi di perbatasan RI-Malaysia, enam tenaga pengajar muda ini memiliki segudang cerita suka dan duka.

Keenam tenaga pengajar itu berasal dari latar belakang pendidikan, perguruan tinggi dan asal yang berbeda-beda. Mereka tergabung dalam Yayasan Indonesia Mengajar.

Baca juga: Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Kaltara Agust Suwandy Pastikan Rapid Antigen di Perbatasan Gratis

Baca juga: Tersisa 2 Desa Sangat Tertinggal, Pemkab Malinau Genjot Pemberdayaan di Perbatasan RI-Malaysia

Baca juga: Pos Pengecekan Kesehatan di Perbatasan Kaltara Dibangun, Beroperasi Senin Besok, Wajib Rapid Antigen

Mulai Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jepara, Sukabumi, dan Yogyakarta.

Yuga Putri Pramesty (24), satu diantara 6 pengajar muda yang memutuskan untuk mengabdi di pelosok desa Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, sejak tahun 2020.

Mereka tersebar di lima kecamatan yaitu Sebatik Tengah, Tulin Onsoi, Sembakung Atulai, Lumbis Ogong dan Lumbis.

Di tiap kecamatan, enam tenaga pengajar itu mengajar untuk 6 sekolah yang berbeda.

"Kami angkatan XIX, angkatan pengajar muda terakhir. Kami berenam itu terbagi untuk mengajar dienam sekolah. Kalau saya ditempatkan di Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah. Jadi ada satu kecamatan yang ditempatkan dua orang," kata wanita yang akrab disapa Yuga kepada TribunKaltara.com, Minggu (21/02/2021), pukul 13.00 Wita.

Menurut lulusan Universitas Gadjah Mada itu, tugas mereka selama setahun yakni mengajar di sekolah yang notabene masih kekurangan SDM tenaga pengajar.

Bahkan dari pengakuan Yuga, wilayah tempat mereka mengabdi masih terbilang cukup sulit, mulai akses jalan, sinyal hingga transportasi.

"Tugas kami mengajar anak SD. Ada beberapa wilayah yang dari segi SDM tenaga pengajarnya masih kurang. Demikian akses jalan, sinyak hingga transportasi. Seperti di Binter, Patal, Sukamaju, Semunak, Sembakung dan Lourdes tempat saya," ucapnya.

Tak hanya itu, selama di sana mereka juga mengajak aktor lokal atau penggerak muda lainnya untuk terlibat dalam program membuat rumah baca.

Hal itu dilakukan Yuga, pasalnya anak usia sekolah di desa pelosok itu masih bermain tanpa tau manfaatnya.

"Kami sempat ajak Kepala Desa dan orang di desa itu yang mau bersama buat rumah baca. Di sana anak-anak masih bermain tapi nggak ada manfaatnya. Nah di luar sekolah, kami aktif membuat rumah baca. Waktu itu kami buat rumah baca di rumah Kepala Desa, kemudian juta di dekat Posyandu," ujarnya.

Meskipun baground pendidikan Yuga yaitu gizi kesehatan, namun pengetahuan dasar ditambah loyalitas mengajar, sehingga membuat dirinya mampu mengajar mata pelajaran IPA, Matematika, Bahasa Inggris, membaca dan lainnya.

"Setiap sore kita sempatkan untuk ngajar anak-anak. Kalau saya di sekolah ngajar khusus Bahasa Inggris. Tapi di luar sekolah mata pelajaran lain juga bisa. Karena sebelum pandemi Covid-19 masuk ke Nunukan, banyak guru di sana yang sering tidak masuk sekolah. Mau tidak mau kita harus gantikan, bahkan kami jadi wali kelas mereka. Minimal pengetahuan dasar kita kuasai," tutur Yuga.

Susah Sinyal dan Listrik, Jalan Masih Tanah Merah

Yuga mengaku, kendala yang mereka temui selama setahun mengabdi di perbatasan RI-Malaysia yakni sinyal dan listrik.

Sehingga konsep mengajar Daring ala Menteri Pendidikan RI, Nadiem Makarim terbilang rumit untuk diterapkan di perbatasan RI-Malaysia, utamanya di pelosok desa Kabupaten Nunukan.

"Di tempat kami sinyal dan listrik masih susah. Selama pandemi ini, kami dan guru lakukan pendekatan langsung ke rumah siswa. Jadi guru itu ke rumah siswa untuk mengajar dan memberikan tugas. Meskipun ada beberapa guru yang menyuruh siswa datang ke sekolah secara bergantian mengambil tugas. Kalau di tempat saya sama sekali nggak ada tatap muka. Berbeda di Desa Binter, bisa tatap muka karena nggak ada kasus positif. Sudah gitu, jauh akses dari perkotaan, kalau nyeberang sungai tiga sampai empat jam," ungkap Yuga.

Bahkan, parahnya jika turun hujan, akses jalan menuju sekolah tidak bisa dilalui kendaraan baik motor begitupula mobil.

"Di tempat saya, kalau hujan motor nggak bisa jalan. Suka tidak suka kita harus jalan kaki. Soalnya belum tersentuh aspal, masih tanah merah. Jadi kalau hujan anak sekolah jarang masuk," imbuhnya.

Baca juga: Gebrakan Zainal Paliwang Seusai Dilantik Jokowi Jadi Gubernur Kaltara, Langsung Perketat Perbatasan

Baca juga: Dipesan Jokowi, Gubernur Kaltara Zainal Paliwang Akan Buka Posko Pengawasan Covid-19 di Perbatasan

Baca juga: Cerita Bajib, WNI Asal Nunukan yang Ditangkap di Perbatasan RI Malaysia, Speedboat Sempat Diserempet

Diketahui, Rabu (17/02/2021) lalu, keenam pengajar muda itu sudah berpamitan secara langsung kepada orang nomor satu di Nunukan, Asmin Laura.

Mereka kembali ke tempat asalnya masing-masing, lantaran kontrak kerja antara Yayasan Indonesia Mengajar dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan hanya berlansung 5 tahun.

Sebelumnya, empat tahun sudah diselesaikan oleh 8 pengajar muda angkatan XVIII. Sedangkan pengajar muda angkatan XIX hanya setahun.

Penulis: Febrianus felis

Jangan Lupa Like Fanpage Facebook TribunKaltara.com

Follow Twitter TribunKaltara.com

Follow Instagram tribun_kaltara

Subscribes YouTube Tribun Kaltara Official

Sumber: Tribun Kaltara
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved