Polemik Partai Demokrat

Tak Yakin Hanya Ambisi Moeldoko, Pengamat Bongkar Motif Lain Kudeta Partai Demokrat, Bukan Nyapres?

Tak yakin hanya ambisi KSP Moeldoko, pengamat bongkar motif lain kudeta Partai Demokrat, bukan nyapres?

Kolase TribunKaltara.com / Kompas.com SABRINA ASRIL dan GHINAN SALMAN
ILUSTRASI - Partai Demokrat dan Moeldoko. (Kolase TribunKaltara.com / Kompas.com SABRINA ASRIL dan GHINAN SALMAN) 

TRIBUNKALTARA.COM - Tak yakin hanya ambisi KSP Moeldoko, pengamat bongkar motif lain kudeta Partai Demokrat, bukan nyapres?

Seorang Moeldoko, mantan Panglima TNI Jenderal bintang 4 melakukan pengambil alihan Partai Demokrat?

Pertanyaan itu muncul dalam benak pengamat politik ini, dan tidak yakin dengan apa yang dilakukan mantan Panglima TNI, yang kini menjabat sebagai Kepala Staf Presiden ( KSP ).

Cara pengambil alihan Partai Demokrat sendiri, dibeberkan pengamat dianggap tidak sesuai dengan aturan.

Namun, pengambil alihan Partai Demokrat dengan menggelar Kongres Luar Biasa ( KLB) di Deli Serdang, telah menjadikan Partai Demokrat terpecah menjadi dua.

Baca juga: Eks Kader Demokrat Ferdinand Hutahaean Komentari KLB Pilih Moeldoko: Itu Bukan Perang Sesunguhnya

Baca juga: DPC Partai Demokrat Bulungan Rapatkan Barisan Usai KSP Moeldoko Jabat Ketum Hasil KLB di Sibolangit

Diketahui, KLB tersebut menghasilkan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, sebagai Ketum Partai Demokrat.

Sebelumnya, Ketua Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono ( AHY) menyebut pihak yang melakukan kudeta berambisi menjadi Capres 2024.

Namun, belakangan, Pengamat Politik, Pangi memiliki analisa sendiri terkait upaya memecah belah Partai Demokrat.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago mendug Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko hanya tumbal dalam upaya pembelahan Partai Demokrat.

Sebab, menurut dia, sangat aneh jika Moeldoko bersikap sembrono hendak maju di Pilpres 2024 namun dengan cara membajak partai lain.

Pasalnya hal itu akan meninggalkan citra negatif bagi Moeldoko dan hal itu tentunya tak baik bagi mantan Panglima TNI itu jika hendak menjadi calon presiden di pemilu mendatang.

“Jika pengambilalihan secara paksa Partai Demokrat adalah ambisi pribadi Moeldoko yang katanya ingin maju sebagai Capres 2024, maka tindakan ini adalah kebodohan dan bunuh diri,” kata Pangi saat dihubungi, Senin (8/3/2021).

Pangi menuturkan langkah politik yang dilakukan Moeldoko dengan membajak Partai Demokrat memang seolah membuka jalan bagi ambisinya.

Namun secara bersamaan, citra negatif juga mencoreng muka Moeldoko lantaran dianggap telah melakukan tindakan yang tidak bermoral serta membahayakan demokrasi.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved