Breaking News:

Berita Daerah Terkini

10 Tahun Telantar di Samarinda, Pemuda Asal Jawa Ini Ingin Pulang, Berharap Bantuan Pemerintah

Sempat menjadi sorotan karena menyebabkan kekumuhan, tidak banyak yang tahu sulitnya Afiz dan beberapa rekannya untuk bertahan hidup

Editor: Junisah
TRIBUNKALTIM.CO
Afiz dan barang hasil memulungnya yang berada di Jalan Gaja Mada, Samarinda, Kalimantan Timur 

TRIBUNKALTARA.COM,SAMARINDA- Sempat menjadi sorotan karena menyebabkan kekumuhan, tidak banyak yang tahu sulitnya Afiz dan beberapa rekannya untuk bertahan hidup di tengah Kota Tepian ini.

Perantau asal Pulau Jawa ini mengaku menjadi orang terlantar di tepi Jalan Gaja Mada, Samarinda Kalimantan Timur tersebut sejak 2011 lalu.

Pemuda berusia 26 tahun ini mengaku sehari-harinya dia dan rekannya mencari barang bekas yang masih bisa dijual untuk sekedar membeli makanan.

Baca juga: Naik Pesawat, Enam Orang Terlantar di Tarakan Dipulangkan ke Surabaya, Biaya Ditanggung Baznas

"Dulu ke Samarinda mau cari kerja. Tapi nggak ada kerjaan jadi diajak pemulung sama teman," beber Afiz saat ditemui Tribun Kaltim, Minggu (23/05/2021) di tempat beristirahatnya yang berada tepat di depan Korem 091/Aji Surya Natakesuma tersebut.

Dari hasil memulung tersebut diakuinya bisa mendapat penghasilan Rp 50ribu hingaa Rp 100ribu.

"Cukup buat makan aja. Kadang nggak ada uang saya pergi minta makan ke warung-warung. Alhamdulillah dikasih aja. Kadang juga tentara di seberang ini ngasih saya makan," syukurnya.

Baca juga: Prakiraan Cuaca BMKG, Waspada Hujan Petir Berpotensi Terjadi di Malinau Minggu 23 Mei 2021

Untuk mandi Afiz dan rekannya mengaku selalu berenang di Sungai Mahakam. Dan untuk tidur dia hanya menggunakan kertas karton dan selimut lusuh miliknya.

"Kalau hujan yah ngumpet di bawah jembatan itu. Sudah kebal digigit semut saya," ucapnya sembari tersenyum.

Baca juga: Ajak Masyarakat Atasi Masalah Banjir, Rusmadi Hadiri Halal Bihalal di Masjid Agung Pelita Samarinda

Diakuinya yang sanggup membuatnya bertahan adalah Ayah dan ketiga adiknya di kampung. Meski saat ini yang diketahui keluarganya dia bekerja di Kota Tepian ini.

"Pengen pulang, tapi nggak ada ongkos. Saya tidak mau mencuri. Kita perantau tahu diri juga. Nggak ada identitas jangan bikin ribut di tanah orang," ungkapnya.

"Saya ingin pulang. Kalau pemerintah mau membiayai ongkos Saya pulang. Nggak apa-apa nggak kerja asal sama keluarga di rumah, bukan di jalan begini," harapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved