Breaking News:

Berita Tarakan Terkini

Warga Pantai Amal Sambut Baik Pelatihan Pembibitan dan Penanaman Ulang Pohon Bakau

Belum lama ini Ketua Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) berkunjung ke Kaltara. Salah satu wilayah yang disambangi yakni kawasan pesisir.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/ ANDI PAUSIAH
Momen Kepala BRGM, Hartono mengunjungi KKMB Kota Tarakan 

Sementara itu, Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, Hartono mengungkapkan, secara umum aturan rumus baku keberadaan mangrove di suatu wilayah tak bisa diukur.

Yang bisa dilakukan yakni mengaitkan dengan karakteristik sebuah daerah.
Ia mencontohkan, ada satu lokasi meskipun tidak dimanfaatkan tapi terancam abrasi yang tinggi, maka itu menjadi prioritas untuk dilakukan rehabilitasi mangrove.

Baca juga: Cek Penerima Bansos Tunai Rp 300 Ribu Melalui cekbansos.kemensos.go.id, Jangan Lupa Siapkan KTP

"Itu yntuk perlindungan. Tapi Untuk lokasi tertentu yang ombaknya relatif aman, kemudian wilayahnya cocok untuk budidaya saya kira bisa juga untuk budidaya," ujarnya.

Setelah melihat kawasan mangrove Tarakan lanjut Hartono, secara fungsi hutan, tutupan hutannya melebihi 30 persen dari minimal yang seharusnya disediakan wilayah.

"Untuk mangrove saya lihat tidak terlalu banyak lokasi yang dimanfaatkan," jelasnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, kerusakan mangrove biasanya salah satunya karena pohon bakau ditebang untuk dijadikan bahan bagunan baik untuk bekisting maupun cerucuk.

Sehingga lanjutnya, dalam hal ini BRGM bertugas membantu dua kementerian yakni KLHK dan KKP.

"Yang bersentuhan langsung dengan keberadaan mangrove. Khusus KKP memang berkaitan dengan pemanfaatan mangrove untuk kesejahteraan masyarakat pesisir," ujarnya.

Adapun melihat jenis hutan, harus dilihat dari sisi fungsinya. Jika mangrove itu masuk dalam kawasan hutan produksi, maka harus dilihat terlebih dahulu apakah bisa difasilitasi untuk mendorong masyarakat memanfaatkan mangrove secara berkelanjutan.

Baca juga: Tabiat Asli Dibongkar Anak, Aa Gym Disebut Maki Teh Ninih Musyrik, Munafik dan Menuhankan Makhluk

"Pada lokasi tertentu bisa dimanfaatkan untuk diambil kayunya. Tapi setelah itu ditanam lagi. Misalnya ada 100 hektare kemudian ditetapkan setahun bisa tebang 2 hektare maka dalam 50 tahun bisa muter abis ditebang ditanam. Itu kalau hutan prioduksi," jelasnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved