Berita Bulungan Terkini
Curhatan Pengusaha Kafe di Bulungan di Masa PPKM, Kafe Sepi Pendapatan Turun hingga 40 Persen
Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di wilayah Kabupaten Bulungan sangat berdampak kepada para pelaku usaha.
Penulis: Maulana Ilhami Fawdi | Editor: Sumarsono
TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR - Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di wilayah Kabupaten Bulungan sangat berdampak kepada para pelaku usaha.
Tak terkecuali bagi pelaku usaha kafe yang beroperasi pada malam hari di Kota Tanjung Selor. Salah satunya ialah Nara Coffee yang terletak di Jalan Jeruk, Tanjung Selor.
Menurut Owner Nara Coffee, Anggrino Gilang Verlando, selama masa PPKM, pengunjung relatif sepi, pendapatan kafe miliknya turun hingga 40 Persen.
Dengan rata-rata pendapatan Rp 1 Juta per harinya, turun jauh dibandingkan di hari normal hingga Rp 3-4 Juta tiap harinya.
Baca juga: Strategi Tangani Covid-19 ala Posko PPKM Terbaik Malinau, Dulu Raih Penghargaan Kapolri Listyo Sigit
Ini dikarenakan, para pengunjung Nara Coffee umumnya datang pada malam hari, yang mana mengacu pada peraturan PPKM, kedai kopi miliknya diwajibkan untuk tutup pada Jam 10 Malam.
"Kalau dampak pasti ada, karena orang di Tanjung Selor ini nongkrong setelah Isya, kadang kita ramai Jam 10 ke atas, siang sore ada saja yang nongkrong, tapi tidak seberapa," ujar Owner Nara Coffee, Anggrino Gilang Verlando, Minggu (25/7/2021).
"Kalau penurunan ya terasa, sekitar 40 Persen berkurang. Kalau sehari, sekarang pas PPKM kita Rp 1 Juta, paling banyak ya Rp 2 Juta itupun kalau lagi ramai malam minggu, padahal kalau normal bisa Rp 3-4 Juta," tambahnya.
Dengan diberlakukannya PPKM, berbagai hal ia siasati agar menarik lebih banyak pengunjung, seperti halnya menganjurkan pengunjung untuk membawa pulang pesanan atau take away hingga buka lebih awal.
Namun, langkah tersebut dirasa masih kurang efektif, untuk meningkatkan pendapatannya.
"Memang sekarang lebih banyak take away, karena anjuran Pemerintah juga kan, tapi biasanya akhir-akhir mau closing banyak yang take away," katanya.
Baca juga: Benarkah Bulungan Segera Terapkan PPKM Level 4? BPBD Mengaku Masih Menunggu Instruksi Mendagri
"Kita juga buka lebih awal, tapi kurang efektif karena budaya ngopi pagi atau dibawa buat ke kantor itu belum ada," terangnya.
Menurut Anggrino, dengan pendapatan yang kian berkurang, maka dirasa semakin memberatkan pengeluaran rutinnya, baik untuk membeli bahan baku hingga membayar gaji kelima pegawainya.
"Pengeluaran terbesar itu untuk bahan baku, karena kopi kita datangkan dari Jogja, dan itu ongkirnya pasti mahal, karena memang cuma itu akses satu-satunya," ujarnya.
"Dan pengeluaran gaji pegawai juga besar, pegawai kami ada lima, sampai sekarang belum ada pengurangan, gaji juga kita tidak kurangi masih tetap saja," terangnya.
Sehingga bila nantinya PPKM Level 4 akan diterapkan di Bulungan, dan jam operasional dibatasi hingga maksimal Jam 8 Malam, Ia mengatakan banyak pengusaha kafe seperti dirinya yang akan kesakitan merasakan dampak dari PPKM.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/nara-kafe.jpg)