Berita Tarakan Terkini

MUI Keluarkan Empat Poin Fatwa Boleh Tidaknya Konsumsi Daging PMK, Berikut Ini Penjelasannya

MUI resmi mengeluarkan fatwa terkait panduan pelaksanaan kurban di tengah kondisi munculnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Indonesia.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/ ANDI PAUSIAH
Ilustrasi hewan ternak sapi harus sehat sebelum dikurbankan. 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKANMajelis Ulama Indonesia (MUI) resmi mengeluarkan fatwa terkait panduan pelaksanaan kurban di tengah kondisi munculnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Indonesia.

Adapun fatwa tersebut tertuang dalam Nomor 32 Tahun 2022 tentang Hukum dan Panduan Pelaksanaan Ibada Kurban saat Kondisi Wabah Penyakit Mulut dan Kuku dan dikeluarkan pada 31 Mei 2022 lalu atau pada 30 Syawal 1443 Hijriah.

Dikatakan Ustaz Intan Sumantri, Komisi Fatwa MUI Kota Tarakan dan Provinsi Kaltara, ada empat poin yang dikeluarkan mengenai hukum berkurban dengan hewan yang terkena PMK.

Baca juga: Ramai Wabah PMK Jelang Idul Adha, Pengadaan Sapi Kurban di Malinau Andalkan Pasokan Peternak Lokal

Pertama, hukum berkurban dengan hewan terkena PMK secara tafshil di antaranya pertama, jika terkena gejala klinis kategori ringan seperti lepuh ringan pada celah kuku, kondisi lesu, tidak nafsu makan dan keluar air liur lebih biasanya hukumnya sah dijadikan hewan kurban.

Kedua, hewan terkena PMK dengan gejala klinis kategori berat seperti lepuh pada kuku hingga terlepas dan atau menyebabkan pincang atau tidak bisa berjalan serta menyebabkan sangat kurus, hukumnya tidak sah dijadikan hewan kurban.

Ketiga, hewan terkena PMK dengan gejala klinis kategori berat, dan sembuh dari PMK dalam rentang waktu dibolehkan kurban yakni tanggal 10 Dzulhijjah sampai 13 Dzulhijjah, maka hewan ternak itu sah dijadikan hewan kurban.

Baca juga: Jelang Idul Adha, Dilakuan Uji Sampel Bagi 45 Sapi, Dinas Pertanian Bulungan Sebut Negatif PMK

Keempat, hewan terkena PMK dengan gejala klinis kategori berat dan sembuth dari PMK setelah lewat rentang waktu yang dibolehkan berkurban dari tanggal 10-13 Dzulhijjah, maka sembelihan hewan tersebut dianggap sedekah dan bukan hewan kurban.

Lebih lanjut dikatakan Ustaz Intan Sumantri, pelobangan pada telinga hewan dengan ear tag atau pemberian cup pada tubuhnya sebagai tanda hewan sudah divaksin atau sebagai identitasnya, tidak menghalangi keabsahan hewan kurban.

Ustaz Intan Sumantri, Komisi Fatwa MUI Tarakan dan Provinsi Kaltara
Ustaz Intan Sumantri, Komisi Fatwa MUI Tarakan dan Provinsi Kaltara (TRIBUNKALTARA.COM/ ANDI PAUSIAH)

“Jadi secara garis besar ada empat poin dari fatwa yang dikeluarkan MUI. Pertama kalau kondisi penyakit ringan maka sah dikurbankan, syarat sah menggunakan hewan sebagai kurban itu tidak ada aib atau kekurangan, misal gigi atau kaki patah atau buntut hilang,” ujarnya.

Maka termasuk PMK, jika sampai sebelum hari H pelaksanaan Idul Adha, ternyata mengalami sakit ringan dan sampai di hari H dinyatakan sakit berat maka tidak sah.

Baca juga: Antisipasi Wabah PMK, Kemenag Kaltara Minta Umat Pilih Hewan Kurban yang Sehat Gemuk dan Sempurna

Ia melanjutkan, pada poin kedua maksudnya, jika disembeli dan dikonsumsi manusia bisa berbahaya. Tujuan penyembelihan untuk dikonsumsi manusia.

“Lalu pada poin ketiga, awalnya sakit parah, dekat-dekat Kurban sampai hari H sembuh, maka sah dijadikan hewan kurban. Hewan terkena PMK dengan gejala berat dan sebelum sembuh saat hari tasyrik hukumnya tidak sah untuk kurban,” jelas Ustaz Intan.

Secara garis beras, kriteria hewan dikurbankan haruslah kualitas prima baik dari kesehatan dan daging banyak serta gemuk dan terbaik.

Baca juga: PMK pada Hewan Ternak Bayang-bayangi Perayaan Idul Adha, Kepala Kanwil Kemenag Kaltara Pesan Ini

“Bobotnya berat dan sehat. Disembelih, daging dimakan tidak menimbulkan keraguan. Untuk menentukan hewan sehat atau tidak Dinas Peternakan selalu keliling mengambil sampel paru, hati dan dites laboratrium,” pungkasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved