Berita Malinau Terkini

Warga Desa Data Dian Kini Punya Label Produksi Sendiri, Madu Kayan Siap Menembus Pasar Malinau

Warga Desa Data Dian, KEcamatan Kayan Hilir, Kabupaten Malinau kini punya label produksi sendiri, Madu Kayan siap menembus Pasar Malinau.

Penulis: Mohamad Supri | Editor: M Purnomo Susanto
(HO/KKI Warsi)
Masyarakat di Desa Data Dian, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Malinah, Provinsi Kalimantan Utara saat hendak memanen sarang lebah madu, beberapa hari lalu. 

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Madu Hutan merupakan satu dari sekian komoditas andalan Desa Data Dian, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara.

Tiap musim panen yang biasanya pada bulan Oktober, warga Desa Data Dian mulai mengutip hasil hutan berwarna keemasan tersebut langsung dari pohon Nyawai, sebutan lokal tempat lebah madu bersarang.

Setiap pohonnya, biasanya bisa dipanen satu hingga 3 kali dalam satu periode.

Sementara, sekali panen total madu mencapai hingga 300 liter.

Jika sebelumnya, madu asli dari Desa Data Dian dipasarkan berbentuk produk curah, kini pemasaran madu Desa Data Dian terorganisir melalui label produksi barunya, "Madu Kayan."

Baca juga: Perjuangan IKBM dan Sekolah di Malinau Atasi Learning Loss, Kolaborasi Pembelajaran Ramah Anak

Label Produksi Madu Kayan asal Kelompok Usaha Madu Uyang Lahai siap dipasarkan dari Desa Data Dian, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, beberapa hari lalu.
Label Produksi Madu Kayan asal Kelompok Usaha Madu Uyang Lahai siap dipasarkan dari Desa Data Dian, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, beberapa hari lalu. ((HO/KKI Warsi))

Fasilitator Desa Data Dian, Hafis Rafi Insani menuturkan label Madu Kayan diproduksi Kelompok Usaha Madu Uyang Lahai.

Label produksi tersebut sebagai upaya memasarkan hasil hutan bukan kayu secara luas, tersertifikasi dan menjangkau segmen pasar yang lebih luas.

"Karena pengalaman masyarakat yang sulit memasarkan madu karena akses yang sulit. Untuk biaya kirim per kilogram dihargai Rp 20 ribu sampai Malinau," ungkapnya, Sabtu (1/10/2022).

Kini, Madu Kayan bakal diedarkan dan telah mengantongi Izin Produk Industri Rumah Tangga atau PIRT. Dipasarkan dalam kemasan 250 ml. Dijual seharga Rp 100 ribu per botol.

Koordinator Program KKI Warsi, Furwoko menjelaskan label produksi penting untuk menembus peluang pasar, harga yang lebih bersaing dan kepercayaan konsumen.

Baca juga: Sinergi Sekolah dan Taman Baca Masyarakat Terbukti Efektif Atasi Learning Loss di Malinau

Melalui Kelompok Usaha Madu Uyang Lahai, KKI Warsi mendorong pelaku usaha madu untuk mengantongi sertifikasi PIRT.

"Setelah Madu Kayan memperoleh nomor izin PIRT, produk dapat dipasarkan secara luas. Melalui marketplace, festival maupun melalui aplikasi PRM AID Desa Data Dian," katanya.

Program pemberdayaan masyarakat oleh KKI Warsi tersebut untuk memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus untuk membina kemandirian ekonomi desa.

(*)

Penulis : Mohammad Supri

Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved