Berita Berau Terkini

Kisah Bayu dari Pulau Terluar Kaltim, Semangat Optimistis Jaga Keandalan Listrik di Pulau Maratua

Bayu, seorang pemuda berusia 24 tahun membawa kisah semangat menjaga keandalan pasokan listrik di Pulau Terluar di Kalimantan Timur, Pulau Maratua.

Editor: Sumarsono
HO
Bayu Handoyo, pemuda berusia 24 tahun, petugas PLN membawa kisah semangat menjaga keandalan pasokan listrik di Pulau Terluar di Kalimantan Timur, tepatnya di Pulau Maratua, Berau. 

TRIBUNKALTARA.COM – Sudah 77 tahun PLN hadir menerangi negeri. Tepatnya tanggal 27 Oktober 2022 diperingati Hari Listrik Nasional ke-77.

Tentunya, dari tahun ke tahun PLN terus memberikan pelayanan dan memastikan bahwa listrik dapat dinikmati hingga ke pelosok negeri, terutama di daerah terdepan, terluar, tertinggal (3T).

Kali ini, seorang pemuda berusia 24 tahun membawa kisah semangat menjaga keandalan pasokan listrik di Pulau Terluar di Kalimantan Timur, tepatnya di Pulau Maratua, Berau.

Bayu Handoyo adalah salah satu potret garda terdepan pejuang kelistrikan di Pulau Terluar Indonesia.

Ia bertanggung jawab penuh atas distribusi listrik bagi 750 pelanggan PLN di sana.

Baca juga: Program Light Up The Dream, Donasi Pegawai PLN Wujudkan Mimpi Listrik Gratis di Nunukan Kaltara

Sebagai punggawa kelistrikan PLN di Unit Layanan Desa (ULD) Maratua, sehari-hari Bayu bertanggung jawab atas keandalan pembangkit, jaringan, dan pelayanan pelanggan.

ULD Maratua di Pulau Maratua adalah salah satu unit di bawah PLN UIW Kaltimra yang baru saja beroperasi sejak tahun 2020.

“Menjadi satu-satunya pejuang PLN di Pulau Maratua memang tidak mudah.

Namun saya dibantu oleh tim yang luar biasa dan solid, sehingga hari demi hari mampu saya lewati dengan semangat optimistis memberikan pelayanan terbaik bagi para pelanggan,” jelas Bayu

Bekerja di Pulau Terluar Indonesia tentunya memiliki tantangan tersendiri bagi Bayu.

Baca juga: Kisah Haru Maria, Anak PMI Berprestasi Bidang Sains di Tawau, Sembari Belajar Masak buat Adiknya

Terlebih, Bayu adalah pegawai pertama yang bertugas dikala ULD Maratua terbentuk.

Salah satu pengalaman tak terlupakan kala itu dirinya dengan tim yang masih terbatas harus menuntaskan gangguan akibat pohon tumbang yang terjadi bertubi-tubi dalam satu hari.

“Di tahun 2020 tim masih sedikit, saat itu kami terkena cuaca ekstrim yang menyebabkan beberapa jaringan kerebahan pohon.

Dengan anggota yang terbatas, kami harus kerja nonstop selama 2 hari untuk memulihkan gangguan.

Karena kelelahan, kami juga meminta bantuan petugas dari Berau, tapi karena transportasi di era covid kala itu terbatas kami tetap harus menunggu lebih lama,” tuturnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved