Berita Tarakan Terkini

Milo dan Apollo Ilegal Malaysia Masuk Tarakan Dimusnahkan, Begini Alasan Balai POM 

Ternyata ada 19.000 item produk yang dimusnahkan Balai POM di Tarakan. Tidak hanya milo dan apollo, tapi juga kosmetik dan obat.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/ ANDI PAUSIAH
Milo dan Apollo asal Malaysia masuk ilegal Tanpa Izin Edar (TIE) BPOM siap dimusnahkan dengan cara dibakar 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Pekan kemarin, Balai POM di Tarakan Kalimantan Utara, melakukan pemusnahan sekitar 19.000 item kosmetik, obat dan pangan ilegal. Salah satu pangan ilegal ikut dimusnahkan ada Milo dan Apollo, produk asal Malaysia yang tak dipugkiri kerap dijadikan oleh-oleh keluar Kaltara.

Pemusnahan yang dilakukan mengundang pro dan kontra lantaran Milo dan Apollo. Kepala Balai POM di Tarakan, Harianto Baan memberikan penjelasan secara tegas mengapa barang asal Malaysia yang masuk ilegal tanpa dokumen resmi dan tanpa label BPOM wajib dimusnahkan.

“Kami selalu mengingatkan, Apollo dan Milo adalah produk Malaysia berstatus Tanpa Izin Edar (TIE). Produk TIE dari BPOM artinya tidak memiliki kewenangan atau izin dari BPOM. Otomatis produknya tidak dijamin walaupun banyak orang mengatakan tidak masalah, kami minum saja tidak ada masalah. Tapi itu bisa satu dua orang,” beber Harianto Baan.

Baca juga: Gula dan Milo Malaysia Dimusnahkan Disperindagkop Kaltara, Tak Memliki Izin Edar

Yang ingin ia luruskan dalam kasus ini, adalah efek jangka panjang yang mungkin bisa dimunculkan dari konsumsi makanan TIE label BPOM. Salah satunya Milo dan Apollo serta berlaku bagi pangan baik makanan dan minuman asal dari luar negeri dan dalam negeri tanpa label BPOM.

“Kita tidak tahu ke depan, bisa menimbulkan diare, tidak ada yang melapor. Pada prinsipnya, namanya produk tanpa ada jaminan, masa mau korbankan tubuh kita, konsumsi makanan yang tidak ada jaminannya dari otoritas yang ada yakni BPOM,” jelas Harianto Baan.

Karena lanjutnya, jika sudah masuk terkonsumsi dalam tubuh, tidak bisa dimusnahkan atau dimuntahkan. Sehingga diharapkan masyarakat bisa teredukasi dengan ketegasan yang disampaikan BPOM.

Baca juga: Berbagai Barang Ilegal Asal Malaysia Dimusnahkan, Disperindagkop Kaltara Harap Komitmen Semua Pihak

Dan lanjutnya, akan lebih baik membeli produk Milo atau makanan dengan wujud serupa yang diproduksi di dalam negeri alias mencintai produk negara sendiri.

“Karena sudah pasti ada jaminan BPOM-nya. Ada registrasinya. Sebenarnya Milo dan Apollo asal luar negeri juga sudah ada yang teregistasi. Dan itu penyalur ada di Indonesia. Hanya saya tidak tahu kenapa Tarakan masih banyak beredar Milo asal Malaysia tanpa kode registasi BPOM,” jelasnya.

Ia juga tak menampik, penilaian masyarakat akan kualitas rasa dari Milo dan Apollo produk Malaysia dan yang diproduksi dalam negeri sendiri.

Harianto Baan, Kepala Balai POM di Tarakan 28112022
Harianto Baan, Kepala Balai POM di Tarakan.

“Banyak yang mengatakan Milo dari Malaysia lebih manis. Inilah perbedaan masing-masing negara dalam menentukan kadar baik pemanisnya dan sebagainya. Karena negara masing-masing punya perhitungan tersendiri menentukan berapa kadar pemanis digunakan dan tambahan lain digunakan,” ujarnya.

Begitu juga di Indonesia, memiliki standarisasi dalam penggunaan tambahan pemanis dan semua akan dicek oleh BPOM.

Kasus pihaknya tegas memusnahkan Milo dan Apollo serta segala pangan lainnya yang masuk Ilegal ke Tarakan ibaratnya seperti penolakan yang dilakukan Hongkong atas masuknya mi instan dari Indonesia.

Baca juga: Kronologi Disperindagkop Kaltara Gagalkan Peredaran Barang Ilegal Asal Malaysia, Informasi BAIS TNI

“Karena mereka punya standar sendiri. Begitu juga Indonesia, punya standar sendiri yang beda dengan Malaysia. Oleh karenanya kami mohon dukungan bebagai pihak, kalau ada tamu dari luar, jangan jadikan Milo Malaysia sebagai oleh-oleh,” jelasnya.

Karena masih banyak produk UMKM lainnya yang lebih melokal bisa dijadikan oleh-oleh khas asal Tarakan.

“Carilah Milo dan Apollo produksi Indonesia sebagai oleh-oleh. Saya rasa UMKM yang sudah ada izin8 edarnya sudah bisa jadi oleh-oleh, seperti Sambal Dayak contohnya,” pungkasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah 

Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved