Sidang Isbat Ramadhan

Hasil Penghitungan Ketinggian Hilal 7 Derajat, BMKG Tarakan Beber Pantauan Terkendala Cuaca

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) Kalimantan Utara melaksanakan kegiatan rukyatul hilal di Taman Berlabuh, Kota Tarakan.

|
Penulis: Andi Pausiah | Editor: M Purnomo Susanto
TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH
Aktivitas pemantauan hilal di Taman Berlabuh Kota Tarakan, Rabu (22/3/2023). 

TRIBUNKALTARA.COM,TARAKANBadan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Kalimantan Utara melaksanakan kegiatan rukyatul hilal di Taman Berlabuh Kota Tarakan, Rabu (22/3/2023).

Dijelaskan Kepala BMKG Provinsi Kaltara, M. Sulam Khilmi, untuk penentuan awal Ramadan 1444 Hijriah, konjungsi terjadi pada Selasa (21/3/2023) Masehi pada pukul 01.23 WITA.

Kemudian memasuki 22 Maret 2023 di wilayah Indonesia, waktu matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.47 WIT, di Papua dan waktu matahari terbenam paling akhir pukul 18.49 WIB di Banda Aceh.

Dengan memperhatikan waktu konjungsi dan matahari terbenam lanjut Sulam Khilmi, dapat dikatakan konjungsi terjadi sebelum matahari terbenam tanggal 22 Maret 2023 di wilayah Indonesia.

Baca juga: BREAKING NEWS Kemenag Kaltara dan Tarakan Laksanakan Rukyatul Hilal Sore Ini di Taman Berlabuh

“Ketinggian hilal di Tarakan pada 22 Maret 2023 secara hitungan berada di angka 7 derajat 54 menit 91 detik. Dengan sudut elongasi, 8 derajat 44 menit 52 detik. Secara perhitungan sudah di atas 3 derajat,” ungkap Sulam Khilmi.

Kondisi awan juga turut menjadi penentu bisa atau tidak terlihat hilalnya atau munculnya bulan baru. Ia melanjutkan, hilal bisa disaksikan di kisaran kurang lebih 30 menit jika terlihat.

Selanjutnya ia menjelaskan umur bulan saat matahari terbenam berkisar di umur 16 jam 56 menit 56 detik. Jika tidak terlihat di Tarakan, diharapkan di wilayah Indonesia lainnya hilal bisa terlihat.

“Secara umum memang kita peluangnya kecil. Pertama, secara letak, kondisinya tempat kita memantau lebih rendah daripada ufuk kita, permukaan cakrawala kita, yang ideal sebenarnya sama tempat kita mengamati dengan ufuknya itu elevasinya sama,” ungkapnya.

Namun lanjutnya dialami sekarang, ufuk lebih tinggi daripada tempat mengamati dan ini menjadi tantangan tersendiri. Kemudian kedua, di ufuk terlihat masih ada awak dan menjadi kendala menghambat pemantauan atau terlihatnya hilal.

“Walaupun secara perhitungan hari ini, pada saat matahari tenggelam itu ketinggian hilal sudah berada di tujuh derajat 54 menit. Artinya standarnya dari 3 derajat itu sudah dikategorikan masuk bulan baru,” jelasnya.

Namun kembali lagi harus melihat secara real melalui pantauan di lapangan. Ia menambahkan, untuk usia bulan dari masa ijtima, sudah mencapai 16 jam.

Baca juga: Pemilu 2024 Penamaan Dapil Berubah, Alokasi DPRD Tarakan Dijatah 30 Kursi 

“Walaupun tidak bisa melihat di Tarakan diharapakan kawan-kawan BMKG ataupun Kemenag di titik lainnya bisa melihat ataupun ormas yang melaksanakan rukyatul hilal bisa melihat sehingga dibawa ke sidang isbat,” tukasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

Sumber: Tribun Kaltara
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved