Berita Malinau Terkini
Perumda Intimung Wacanakan SPBU di Desa Malinau Hulu Dikonversi, Begini Alasannya
Harga jual BBM industri tinggi menyebabkan Perumda Intimung memiliki rencana agar SPBU di Desa Malinau Hulu dikonversi, sehingga bisa buat umum.
Penulis: Mohamad Supri | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau SPBU Intimung di Desa Malinau Hulu diwacanakan akan dikonversi, semula penyediaan BBM Industri, menjadi BBM untuk kalangan umum.
Stasiun yang dikelola Perumda Intimung memiliki keunggulan berdasarkan letaknya yang strategis. Namun karena peruntukannya, terbatas pada kalangan industri.
Rencana ini disampaikan Direktur Perumda Intimung, Oktrianus Charles sewaktu peresmian toko rakyat Malinau sepekan lalu.
Unit divisi usaha BBM Industri direncanakan akan dikonversi sehingga bisa dinikmati tidak hanya industri, termasuk kalangan umum.
Baca juga: Gubernur Kaltara Minta Jalan Malinau-Krayan Terhubung di 2024: Supaya Sembako dan BBM Lewat Darat
"Kami sedang menjalin komunikasi dengan Pertamina, untuk bisa BBM Industri ini dapat berubah menjadi BBM yang bisa dikonsumsi masyarakat umum," kata Oktrianus Charles.
Ini dikarenakan BBM yang dikelola bertipe industri, sehingga konsumen hanya meliputi kalangan terbatas.
Problemnya ada pada harga jual. Tingginya harga jual BBM disesuaikan dengan tipe stasiun, mengakibatkan stasiun selalu sepi dari pelanggan.
"Untuk Solar, harga jualnya sekira Rp 21 ribu. Kemudian untuk Pertalite sekitar Rp 24 ribu sesuai harga pasaran yang sering berubah. Harganya yang mahal jadi kendala kita selama ini," ungkap Oktrianus Charles.
Ini menjadi kendala yang dihadapai Perumda Intimung sebagai pengelola APMS yang buka hanya pada Senin dan Kamis.
Baca juga: Stok BBM Subsidi di Indonesia Tidak Cukup Sampai Akhir Desember 2023, BPH Migas Bentuk Tim Pengawas
Menanggapi gagasan tersebut, Bupati Malinau Wempi W Mawa menilai peluang bisnis tersebut memang segmentasinya cukup luas.
Namun, persoalan yang perlu dipikirkan adalah mata rantai distribusi. Usaha tersebut baru dapat optimal jika Perumda Intimung menjadi agen utama suplai BBM di Malinau.
"Karena kita bukan agen utama. Jadi kita mengambil dari sekian penyalur.
Mungkin perlu dilihat seperti apa terobosannya, sehingga BBM bisa bersaing dan kontinyu dalam pengadaannya. Selanjutnya bisa dikaji, dilihat seperti apa (perizinannya)," ucapnya.
(*)
Penulis : Mohammad Supri
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/antrean-bbm-di-apms-malinau-02-31082023.jpg)