Kamis, 4 Juni 2026

Jejak Islam di Kaltim

Sosok Syekh Abu Thalhah, Diutus Sebarkan Islam Bersama 4 Saudara di Tanah Kutai

Dikisahkan sang ayah memerintahkan Abu Thalhah serta 4 saudaranya menyebarkan Islam di wilayah Kalimantan, diantaranya  Sampit, Kandangan, Pagatan.

Tayang:
Editor: Sumarsono
Tribun Kaltim/Dwi Ardianto
Makam Abu Thalhah di Tenggarong Kutai Kartanegar, yang dikenal sebagai seorang ulama yang ikut menyebarkan Islam di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. 

TRIBUNKALTARA.COM - Dikisahkan sang ayah memerintahkan Abu Thalhah serta 4 saudaranya menyebarkan agama Islam di wilayah Kalimantan, diantaranya  Sampit, Kandangan, Pagatan.

Sedangkan Syekh Abu Thalhah menjadi ulama besar dengan meneruskan permintaan ayahnya tersebut ke Tanah Kutai.

Dalam catatan jejak syiar Islam di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Syekh Abu Thalhah memiliki banyak versi dengan cerita yang terekam dalam sejarah.

Kendati demikian, sosok Syekh Abu Thalhah jarang diketahui jasa besarnya dalam jejak penyebaran Islam di Kutai Kartanegara.

Tim Tribun Kaltim mencoba menggali sosok Syekh Abu Thalhah dari berbagai sumber. Salah satunya dari pengurus makam beliau, Taufik.

Taufik menceritakan, mubaligh yang berilmu luas ini dikenal sebagai ulama tersohor yang berasal dari Kalimantan Selatan.

Baca juga: Perjalanan Dakwah Pangeran Noto Igomo, Menyebarkan Agama Islam Sembari Membuka Perkebunan

Beliau seorang keturunan, yakni cucu dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau biasa dikenal dengan Datu Kalampayan.

Adapun ayah Syekh Abu Thalhah yang merupakan seorang mufti di Kerajaan Paser, memerintahkan ke lima dari 12 anaknya untuk menyebarkan agama Islam ke daerah terpencil.

Diantaranya Syekh Abu Hamid di Sampit, Syekh Ahmad Balimau di Kandangan, Syekh M. Arsyad di Pagatan, dan Syekh Sa’dudin Taniran di Kandangan.

Makam Pangeran Noto Igomo yang dimakamkan berdampingan  bersama istrinya Aji Raden Lesminingpuri  di Tenggarong, Kutai Kartanegara. Pangeran Noto Igomo sendiri dikenal sebagai salah seorang ulama besar di Kesultanan Kutai Kartanegara yang berdakwah sembari berkebun.
Makam Pangeran Noto Igomo yang dimakamkan berdampingan bersama istrinya Aji Raden Lesminingpuri di Tenggarong, Kutai Kartanegara. Pangeran Noto Igomo sendiri dikenal sebagai salah seorang ulama besar di Kesultanan Kutai Kartanegara yang berdakwah sembari berkebun. (Tribun Kaltim/Dwi Ardianto)

Sedangkan Syekh Abu Thalhah menjadi ulama besar dengan meneruskan permintaan ayahnya tersebut ke Tanah Kutai.

Maka tak heran, jika akhlak mulia sang ayah diwariskan kepada anak-anaknya yang menjadi penerus menyebarkan ajaran Islam, khususnya di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Salah satu dzuriyat Datu Kalampayan ini wafat dan dimakamkan di Jalan KH Ahmad Muksin, Gang Kubur, Kelurahan Timbau, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Taufik menuturkan bahwa sosok Syekh Abu Thalhah adalah salah satu ulama besar yang sangat berjasa di Kutai Kartanegara.

Mulanya, beliau diperintahkan oleh Datu Kalampayan untuk berhijrah dengan menyebarluaskan agama Islam ke Kutai Kartanegara. Dengan menyampaikan ilmu-ilmu agama dalam bahasa syiar Islam.

Kala itu, Syekh Abu Thalhah masuk ke Kutai Kartanegara pada masa Indonesia belum merdeka.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved