Berita Tarakan Terkini
Siswa Sekolah Rakyat di Tarakan Jalani MPLS, Pakai Kurikulum Multi Entry dan Exit, Ini Penjelasannya
Wali Kota Tarakan Khiarul tinjau pelaksanaan MPLS di Sekolah Rakyat Tarakan yang dikuti para siswa dan siswi, Rabu 8 Oktober 2025.
Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN -Pasca dilakukan launching Sekolah Rakyat (SR) di Tarakan, Kalimatan Utara pada Selasa (30/9/2025) lalu, kini para siswa dan siswi Sekolah Rakyat yang tinggal di asrama menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama dua pekan.
Selain mengikuti MPLS, para siswa dan siswi dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh petugas kesehatan dari Puskesmas Mamburungan.
Dikatakan Marisa Aulia, Kepala Sekolah Rakyat, di kegiatan MPLS ini melibatkan banyak dinas. Sebab dalam MPLS diajarkan bagaimana kehidupan berasrama.
"Bagaimana dia ( siswa dan siswi) Sekolah Rakyat bisa akrab dengan temannya, dan lain sebagainya," ujar Marisa Aulia.
Baca juga: Cerita Orangtua Siswa Sekolah Rakyat Bersyukur Anaknya Bisa Lanjutkan SMP, 3 Tahun Putus Sekolah
Setelah MPLS akan dilakukan kegiatan matrikulasi. "Untuk kegiatan matrikulasi kita menunggu informasi dari pusat dulu kapan kita bisa mulai kegiatan belajar mengajarnya. Karena kegiatannya akan serempak se-Indonesia," ungkap Marisa Aulia.
Saat ditanya apakah para siswa dan siswi bisa pulang ke rumah? Marisa Aulia mengatakan, ada regulasi mengatur.
"Mungkin untuk tahap pertama dulu bisa dikunjungi. Seperti itu, orang tuanya datang dulu ke sini. Misalnya pas waktu tidak ada kegiatan pembelajaran, misalnya ketika sore-hari, itu bisa datang. Tapi hanya bisa bertemunya di ruang terbuka, seperti itu," ungkapnya.
Namun untuk pulang, kata Marisa Aulia, orangtua tidak bisa asal memulangkan anaknya.
"Karena kita menghindari anak ini terpengaruh dari lingkungan luar dan tidak mau kembali lagi.Jadi kami menunggu dulu, setidaknya kami tahu dulu nih sifat anak-anaknya seperti apa, baru kami bisa terapkan peraturan," bebernya.
Baca juga: 59 Calon Siswa Sekolah Rakyat di Tarakan Ikut MPLS Selama 10 Hari, Mulai Tinggal di Asrama
Kedepannya aturan akan diberlakukan ketat. Orangtua mengikuti aturan penjemputan, yang hendak menjenguk dan lainnya.
"Dari waka kesiswaan terlebih dahulu, nanti lalu ke bagian asramannya. Jadi ada memang tahap-tahap. Dan kami akan meninggalkan KTP-nya" jelasnya.
Mengenai Kurikulum di Sekolah Rakyat, dikatakan Maria Aulia menggunakan Kurikulum Multi, Entry dan Multi Exit. Jadi tentunya kurikulum ini berbeda dengan sekolah reguler.
"Itu berbeda dari Kurikulum yang lain ya dari sekolah reguler. Karena anak-anak yang masuk itu kan tingkatnya berbeda-beda," jelasnya.
Misalnya, untuk siswa SD ada anak yang masuk dari kelas 1. Ada juga yang tidak pernah bersekolah. Ada juga yang dari kelas 4 dan 5.
"Jadi masuknya itu kan dalam satu kelas. Mungkin kalau mau membayangkannya, seperti membayangkan kalau masuk di sekolah guru ngaji. Guru ngaji kan muridnya berbeda," bebernya.
Untuk jumlah guru di Sekolah Rakyat saat ini ada 12 orang. Dua orang dari guru SD. Sisanya guru SMP dan dibantu guru agama diperbantukan dari Kemenag.
(*)
Penulis: Andi Pausiah
| PKB Kaji Wacana Pemilu Campuran, Zainul Soroti Banyak Suara tak Berbanding Lurus dengan Kursi |
|
|---|
| Setelah Sistem Tertutup, Muncul Wacana Pemilu 2029 Campuran, Begini Tanggapan Ketua KPU Kaltara |
|
|---|
| Wali Kota Tarakan Khairul Blak-blakan Soal Seleksi CASN, Singgung Beban Pegawai 47 Persen |
|
|---|
| Setiap Jumat ASN Pemkot Tarakan Tetap WFO Setengah Hari, Begini Penjelasan BKPSDM |
|
|---|
| Demokrasi Mufakat hingga UKK Jadi Penekanan Muscab PKB Kaltara, Target 2029 Kirim Wakil ke DPR RI |
|
|---|
