Berita Nunukan Terkini
Harga Rumput Laut di Nunukan Tembus Rp17 Ribu/Kg, Petani Sumringah
Ketua Koperasi Mamolok Sejahtera, Kamaruddin, mengungkapkan rasa syukurnya atas kenaikan harga rumput laut.
Penulis: Fatimah Majid | Editor: Adhinata Kusuma
Ringkasan Berita:
- Harga rumput laut jenis kotonik dilaporkan melonjak dan kini berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp17.000 per kilogram.
- Kenaikan ini terbilang signifikan dibandingkan sebelumnya yang sempat bertahan di angka Rp13.000 per kilogram.
- Tiga faktor utama jadi penentu kualitas rumput laut yakni usia panen yang cukup, kebersihan, serta tingkat kekeringan yang optimal.
TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Kabar menggembirakan datang dari para petani rumput laut di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Harga rumput laut jenis kotonik dilaporkan melonjak dan kini berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp17.000 per kilogram.
Kenaikan ini terbilang signifikan dibandingkan sebelumnya yang sempat bertahan di angka Rp13.000 per kilogram.
Ketua Koperasi Mamolok Sejahtera, Kamaruddin, mengungkapkan rasa syukurnya atas kondisi tersebut.
Ia menyebut, kenaikan harga ini tidak lepas dari perhatian pemerintah daerah hingga DPRD.
Baca juga: Curhat Pembudidaya Rumput Laut di Tarakan: Harga Turun, Hanya Rp 10 Ribu Per Kilo
“Alhamdulillah berkat perhatian Gubernur, Bupati dan DPRD kita, harga rumput laut sekarang bisa dianggap stabil. Ada kenaikan sekitar Rp4.000 dari harga sebelumnya,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Namun di balik kabar baik ini, Kamaruddin mengingatkan ada syarat penting yang tak boleh diabaikan petani jika ingin harga tetap tinggi.
Tiga faktor utama jadi penentu kualitas rumput laut yakni usia panen yang cukup, kebersihan, serta tingkat kekeringan yang optimal.
Masalahnya, saat ini kadar air rumput laut dari Nunukan masih berada di angka 40 persen, sementara pasar menginginkan standar maksimal 35 persen.
Baca juga: Operasi Gabungan di Nunukan, Puluhan Motor Terjaring Razia Pajak dan Pelanggaran Lalu Lintas
Selisih kecil ini ternyata berdampak besar pada posisi tawar petani saat menjual hasil panen.
Uniknya, cuaca panas ekstrem yang melanda Nunukan sejak awal April 2026 justru membawa berkah tersendiri.
“Cuaca panas memang jadi keluhan, tapi ada hikmahnya. Rumput laut jadi lebih cepat kering dan kualitasnya meningkat tanpa alat tambahan,” jelas Kamaruddin.
Ancaman Pencemaran
Meski begitu, para petani tidak bisa sepenuhnya tenang.
Ancaman serius masih mengintai, mulai dari pencemaran lingkungan hingga maraknya pencurian rumput laut di laut.
| Ini Alasan Pasar Tani Nunukan Ditutup 10 Mei 2026, Pedagang Dipindah ke Jalan Bahari |
|
|---|
| Hanya karena Sarung, Suami di Nunukan Kaltara Tega Aniaya Istri hingga Luka dan Trauma |
|
|---|
| 51 Warga Binaan Lapas Nunukan Ikut Sekolah Paket A hingga C di PKBM Lanuka, Edo: Senang Bisa Belajar |
|
|---|
| Tekanan Global, BPS Catat Perekonomian di Kabupaten Nunukan Tetap Tumbuh Positif |
|
|---|
| Panen di Tengah Kemarau, Warga Binaan Lapas Nunukan Buktikan Bisa Produktif Lewat Pertanian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/20260417-rumput-laut-di-nunukan.jpg)