Senin, 20 April 2026

Berita Tarakan Terkini

APINDO Kaltara Khawatir Kenaikan BBM Pukul Dunia Usaha, Bisa Picu PHK

Ketua APINDO Kaltara, Peter Setiawan khawatir kenaikan harga BBM memukul dunia usaha, bisa memicu PHK di sektor industri.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: Cornel Dimas Satrio
ISTIMEWA
DAMPAK KENAIKAN BBM - Ketua Dewan Pimpinan Provinsi Asosiasi Pengusaha Indonesia (DPP APINDO) Kaltara, Peter Setiawan. Ia mengaku khawatir kenaikan harga BBM bisa memukul dunia usaha, biaya produksi meningkat tanpa diimbangi harga jual berpotensi memicu PHK dan penurunan kapasitas produksi, Sabtu (18/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Imbas kenaikan BBM industri, Apindo Kaltara khawatir biaya operasional melonjak signifikan tapi harga jual produk masih stagnan.
  • Perkayuan dan perikanan menjadi sektor yang paling tertekan karena harga jual tidak ikut naik.
  • Apindo Kaltara menilai perusahaan terpaksa melakukan efisiensi, yang bisa berdampak pada penurunan kapasitas produksi hingga potensi.

 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mulai beredar di sejumlah daerah memicu kekhawatiran pelaku usaha di Kalimantan Utara (Kaltara).

Ketua Dewan Pimpinan Provinsi Asosiasi Pengusaha Indonesia (DPP APINDO) Kaltara, Peter Setiawan, mengungkapkan dampak dari kenaikan BBM di sektor industri sudah mulai terasa.

"Sementara ini belum ada informasi kenaikan. Cuma yang naik itu kan BBM untuk industri ya. Sementara industri yang naik tinggi ya, itu dampaknya memang banyak, pengaruh besar sekali," ujar Peter saat dikonfirmasi, Sabtu (18/4/2026).

Menurutnya, kenaikan biaya di sektor industri telah memicu lonjakan ongkos logistik, khususnya untuk pengiriman hasil produksi.

Ia mencontohkan biaya kontainer untuk pengiriman komoditas perikanan seperti udang ke Surabaya yang mengalami kenaikan signifikan.

"Kontainer sudah naik sekarang. Dari biasanya Rp37 juta naik jadi Rp39,5 juta. Itu kontainer pendingin untuk muat udang," jelasnya.

Baca juga: Isu Kenaikan BBM Sempat Picu Antrean Panjang di SPBU Kaltara, Pertamina Pastikan Harga Tetap Sama

Kenaikan tersebut, lanjut dia, terjadi di tengah harga jual produk yang belum mengalami penyesuaian.

Kondisi ini dinilai semakin menekan pelaku usaha, terutama di sektor yang tidak memiliki fleksibilitas harga.

Peter juga menyoroti sektor perkayuan sebagai salah satu yang paling terdampak.

Pasalnya, harga jual kayu relatif stagnan, sementara biaya operasional terus meningkat.

"Di sektor perkayuan, harga kayu tidak mengalami kenaikan, sementara biaya operasional sudah meningkat. Kini ditambah lagi dengan kenaikan harga minyak, dampaknya sangat besar dan saya khawatir bisa berujung pada PHK," ungkapnya.

Ia menjelaskan, kenaikan biaya produksi yang tidak diimbangi kenaikan harga jual berpotensi membuat perusahaan kesulitan bertahan. Dalam kondisi tersebut, efisiensi menjadi langkah yang hampir tak terhindarkan.

"Kalau perusahaan tidak bisa jalan dengan harga yang dikerjakan enggak naik-naik, cuma bahan bakunya naik semua, itu bahaya sekali," tegasnya.

Dampak Tidak Merata

Sebagai organisasi yang menaungi berbagai sektor usaha, mulai dari pertambangan, perkayuan, perikanan hingga cold storage, APINDO melihat dampak kenaikan biaya ini tidak merata.

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved