Berita Tarakan Terkini
Kisah Bahar Mahmud yang Berhasil Turunkan Berat Badan 150 Kg Jadi 87 Kg, Metode Intermittent Fasting
Takut mati muda, akhirnya Bahar Mahmud lakukan diet dengan metode Intermittent Fasting dan berat badan berhasil turu dari 150 Kg ke 86 Kg.
Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
Dokter mengingatkan risiko berbagai penyakit serius yang mengintai apabila gaya hidupnya tidak segera berubah.
"Saya mulai sadar. Kalau saya tidak melakukan sesuatu, bukan cuma berat badan yang jadi masalah. Saya bisa kena komplikasi. Bisa ke jantung, ginjal, hipertensi," katanya.
Baca juga: Cerita Ikhsan dan Rasya Raih Juara di Kejurprov Pencak Silat Kaltara, Harus Turunkan Berat Badan
Saat itulah untuk pertama kalinya Bahar Mahmud merasa benar-benar takut. Bukan takut karena komentar orang lain terhadap bentuk tubuhnya, melainkan takut meninggalkan keluarga lebih cepat akibat penyakit yang bisa sebenarnya dicegah.
"Saya mulai berpikir bukan cuma tentang diri saya sendiri, tapi tentang keluarga saya. Kalau saya kena komplikasi, secara otomatis mendekatkan saya pada kematian di usia muda," ujarnya.
Kesadaran tersebut menjadi titik awal perjalanan panjangnya keluar dari jerat obesitas. Namun jalan yang harus ditempuh ternyata tidak mudah. Pada minggu-minggu pertama menjalani perubahan pola hidup, tubuhnya mengalami guncangan yang luar biasa.
Selama bertahun-tahun ia terbiasa mengonsumsi makanan dalam jumlah besar. Ketika pola makan itu dihentikan secara bertahap, tubuhnya seolah melakukan perlawanan.
Ia mengaku mengalami masa-masa yang sangat berat. Kepala sering pusing, tubuh terasa lemas, dan pikirannya terus memikirkan makanan.Bahkan kondisi mentalnya sempat terganggu.
"Kalau saya menggambarkan waktu itu, rasanya seperti orang yang sedang sakau. Saya depresi. Bahkan saya suka berhalusinasi. Kepala pusing, badan tidak nyaman, pikiran terus mengajak makan. Berat sekali," ungkapnya.
Meski demikian, Bahar Mahmud memilih bertahan. Ia mulai mengubah kebiasaan satu per satu.
Minuman manis yang sebelumnya hampir selalu dikonsumsi diganti dengan air putih. Porsi nasi dikurangi secara signifikan. Ia mulai menghitung kebutuhan kalori harian dan mempelajari konsep defisit kalori dengan serius.
Berbagai produk pelangsing yang pernah dicobanya di masa lalu tidak lagi menjadi pilihan.Kali ini ia ingin membuktikan bahwa perubahan dapat dicapai melalui disiplin dan konsistensi.
Selain mengatur pola makan, Bahar Mahmud juga mempelajari berbagai metode puasa yang banyak digunakan dalam dunia kesehatan.
Ia memulai dari pola intermittent fasting secara bertahap.
Mulai dari puasa 12 jam, kemudian meningkat menjadi 14 jam, 16 jam, 18 jam hingga akhirnya mampu menjalani water fasting selama 72 jam atau tiga hari dengan hanya mengonsumsi air putih.
Meski demikian, ia menegaskan seluruh proses tersebut dilakukan secara bertahap agar tubuh memiliki waktu beradaptasi.
Baginya, keberhasilan menurunkan berat badan bukan terletak pada metode ekstrem, melainkan kemampuan membangun kebiasaan sehat yang bisa dipertahankan dalam jangka panjang.
Perjuangan yang dijalani akhirnya mulai membuahkan hasil. Berat badannya turun perlahan tetapi konsisten.
Bahar Mahmud
Tarakan
Kalimantan Utara
kursi
Obesitas
ekstrem
berat badan
pakaian
makanan
TribunKaltara.com
| Rumah Singgah Gratis Bagi Keluarga Pasien RSUD Jusuf SK Bertambah, Ada 14 Kamar hingga Dapur |
|
|---|
| Listrik Sempat Padam 3 Jam, PLN Temukan Burung Kesetrum di Jaringan Kusuma Bangsa Tarakan |
|
|---|
| Cara Umat Buddha di Tarakan Rayakan Waisak, Donor Darah hingga Mandi Rupang |
|
|---|
| Dugaan Ada Pemasok Gorontalo Jual Sapi Kurban Langsung ke Warga Tarakan, Penjual Lokal Sepi Pembeli |
|
|---|
| Cerita Ilham Penjual Sapi Limousin di Tarakan tak Laku Dijual, Idul Adha 2026 Diakui Sepi Pembeli |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/Bahar-Mahmud-masih-kurus-01-01062026.jpg)