Perbatasan RI Malaysia
Problem Perbatasan RI-Malaysia Tak hanya Sinyal & Listrik, Tenaga Pengajar Muda Ungkap Hal Lain
Setahun mengabdi, tenaga pengajar muda di perbatasan RI-Malaysia kesulitan mendapat sinyal & listrik, serta ini.
Penulis: Febrianus Felis | Editor: M Purnomo Susanto
TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Setahun mengabdi, tenaga pengajar muda di perbatasan RI-Malaysia kesulitan mendapat sinyal & listrik, serta ini.
Setahun mengabdi di perbatasan RI-Malaysia, enam tenaga pengajar muda ini memiliki segudang cerita suka dan duka.
Keenam tenaga pengajar itu berasal dari latar belakang pendidikan, perguruan tinggi dan asal yang berbeda-beda. Mereka tergabung dalam Yayasan Indonesia Mengajar.
Baca juga: Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Kaltara Agust Suwandy Pastikan Rapid Antigen di Perbatasan Gratis
Baca juga: Tersisa 2 Desa Sangat Tertinggal, Pemkab Malinau Genjot Pemberdayaan di Perbatasan RI-Malaysia
Baca juga: Pos Pengecekan Kesehatan di Perbatasan Kaltara Dibangun, Beroperasi Senin Besok, Wajib Rapid Antigen
Mulai Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jepara, Sukabumi, dan Yogyakarta.
Yuga Putri Pramesty (24), satu diantara 6 pengajar muda yang memutuskan untuk mengabdi di pelosok desa Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, sejak tahun 2020.
Mereka tersebar di lima kecamatan yaitu Sebatik Tengah, Tulin Onsoi, Sembakung Atulai, Lumbis Ogong dan Lumbis.
Di tiap kecamatan, enam tenaga pengajar itu mengajar untuk 6 sekolah yang berbeda.
"Kami angkatan XIX, angkatan pengajar muda terakhir. Kami berenam itu terbagi untuk mengajar dienam sekolah. Kalau saya ditempatkan di Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah. Jadi ada satu kecamatan yang ditempatkan dua orang," kata wanita yang akrab disapa Yuga kepada TribunKaltara.com, Minggu (21/02/2021), pukul 13.00 Wita.
Menurut lulusan Universitas Gadjah Mada itu, tugas mereka selama setahun yakni mengajar di sekolah yang notabene masih kekurangan SDM tenaga pengajar.
Bahkan dari pengakuan Yuga, wilayah tempat mereka mengabdi masih terbilang cukup sulit, mulai akses jalan, sinyal hingga transportasi.
"Tugas kami mengajar anak SD. Ada beberapa wilayah yang dari segi SDM tenaga pengajarnya masih kurang. Demikian akses jalan, sinyak hingga transportasi. Seperti di Binter, Patal, Sukamaju, Semunak, Sembakung dan Lourdes tempat saya," ucapnya.
Tak hanya itu, selama di sana mereka juga mengajak aktor lokal atau penggerak muda lainnya untuk terlibat dalam program membuat rumah baca.
Hal itu dilakukan Yuga, pasalnya anak usia sekolah di desa pelosok itu masih bermain tanpa tau manfaatnya.
"Kami sempat ajak Kepala Desa dan orang di desa itu yang mau bersama buat rumah baca. Di sana anak-anak masih bermain tapi nggak ada manfaatnya. Nah di luar sekolah, kami aktif membuat rumah baca. Waktu itu kami buat rumah baca di rumah Kepala Desa, kemudian juta di dekat Posyandu," ujarnya.
Meskipun baground pendidikan Yuga yaitu gizi kesehatan, namun pengetahuan dasar ditambah loyalitas mengajar, sehingga membuat dirinya mampu mengajar mata pelajaran IPA, Matematika, Bahasa Inggris, membaca dan lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/pengajar-muda-di-perbatasan-ri-malaysia-yuga-putri-pramesty.jpg)