Perbatasan RI Malaysia
Problem Perbatasan RI-Malaysia Tak hanya Sinyal & Listrik, Tenaga Pengajar Muda Ungkap Hal Lain
Setahun mengabdi, tenaga pengajar muda di perbatasan RI-Malaysia kesulitan mendapat sinyal & listrik, serta ini.
Penulis: Febrianus Felis | Editor: M Purnomo Susanto
"Setiap sore kita sempatkan untuk ngajar anak-anak. Kalau saya di sekolah ngajar khusus Bahasa Inggris. Tapi di luar sekolah mata pelajaran lain juga bisa. Karena sebelum pandemi Covid-19 masuk ke Nunukan, banyak guru di sana yang sering tidak masuk sekolah. Mau tidak mau kita harus gantikan, bahkan kami jadi wali kelas mereka. Minimal pengetahuan dasar kita kuasai," tutur Yuga.
Susah Sinyal dan Listrik, Jalan Masih Tanah Merah
Yuga mengaku, kendala yang mereka temui selama setahun mengabdi di perbatasan RI-Malaysia yakni sinyal dan listrik.
Sehingga konsep mengajar Daring ala Menteri Pendidikan RI, Nadiem Makarim terbilang rumit untuk diterapkan di perbatasan RI-Malaysia, utamanya di pelosok desa Kabupaten Nunukan.
"Di tempat kami sinyal dan listrik masih susah. Selama pandemi ini, kami dan guru lakukan pendekatan langsung ke rumah siswa. Jadi guru itu ke rumah siswa untuk mengajar dan memberikan tugas. Meskipun ada beberapa guru yang menyuruh siswa datang ke sekolah secara bergantian mengambil tugas. Kalau di tempat saya sama sekali nggak ada tatap muka. Berbeda di Desa Binter, bisa tatap muka karena nggak ada kasus positif. Sudah gitu, jauh akses dari perkotaan, kalau nyeberang sungai tiga sampai empat jam," ungkap Yuga.
Bahkan, parahnya jika turun hujan, akses jalan menuju sekolah tidak bisa dilalui kendaraan baik motor begitupula mobil.
"Di tempat saya, kalau hujan motor nggak bisa jalan. Suka tidak suka kita harus jalan kaki. Soalnya belum tersentuh aspal, masih tanah merah. Jadi kalau hujan anak sekolah jarang masuk," imbuhnya.
Baca juga: Gebrakan Zainal Paliwang Seusai Dilantik Jokowi Jadi Gubernur Kaltara, Langsung Perketat Perbatasan
Baca juga: Dipesan Jokowi, Gubernur Kaltara Zainal Paliwang Akan Buka Posko Pengawasan Covid-19 di Perbatasan
Baca juga: Cerita Bajib, WNI Asal Nunukan yang Ditangkap di Perbatasan RI Malaysia, Speedboat Sempat Diserempet
Diketahui, Rabu (17/02/2021) lalu, keenam pengajar muda itu sudah berpamitan secara langsung kepada orang nomor satu di Nunukan, Asmin Laura.
Mereka kembali ke tempat asalnya masing-masing, lantaran kontrak kerja antara Yayasan Indonesia Mengajar dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan hanya berlansung 5 tahun.
Sebelumnya, empat tahun sudah diselesaikan oleh 8 pengajar muda angkatan XVIII. Sedangkan pengajar muda angkatan XIX hanya setahun.
Penulis: Febrianus felis
Jangan Lupa Like Fanpage Facebook TribunKaltara.com
Follow Twitter TribunKaltara.com
Follow Instagram tribun_kaltara
Subscribes YouTube Tribun Kaltara Official
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/pengajar-muda-di-perbatasan-ri-malaysia-yuga-putri-pramesty.jpg)