Senin, 27 April 2026

Berita Nunukan Terkini

Dijual ke Makassar & Surabaya, Dinas Perikanan Nunukan Sebut 2.500 Ton Rumput Laut Dikirim Per Bulan

Dijual ke Makassar & Surabaya, Dinas Perikanan Nunukan sebut 2.500 ton rumput laut dikirim per bulan.

Penulis: Febrianus Felis | Editor: M Purnomo Susanto
TRIBUNKALTARA.COM/FELIS
Kabid Pemberdayaan Usaha Kecil Pembudidaya Ikan, Dinas Perikanan Kabupaten Nunukan, Sidik Agus. TRIBUNKALTARA.COM/ Febrianus felis 

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Dijual ke Makassar & Surabaya, Dinas Perikanan Nunukan sebut 2.500 ton rumput laut dikirim per bulan.

Dinas Perikanan Kabupaten Nunukan beber rumput laut yang dikirim ke Makassar dan Surabaya rata-rata 2.000 hingga 2.500 ton per bulan.

Hal itu diungkapkan oleh Kabid Pemberdayaan Usaha Kecil Pembudidaya Ikan, Dinas Perikanan Kabupaten Nunukan, Sidik Agus.

Baca juga: Prakiraan Cuaca di Nunukan Hari Ini, BMKG Prediksi Lumbis dan Lumbis Ogong Diguyur Hujan Ringan

Baca juga: UPDATE Tambah 8, Kasus Covid-19 Nunukan jadi 1.050, Semua Transmisi Lokal Termasuk 2 Bayi Baru Lahir

Baca juga: Kisah Panwascam Nunukan, Mulai Jaringan, Geografis Hingga Kehadirannya tak Disukai Simpatisan Paslon

"Selama ini rumput laut yang keluar dari Nunukan baik yang dikirim ke Makassar maupun Surabaya rata-rata 2.000-2.500 ton per bulan," kata Sidik Agus kepada TribunKaltara.com, Senin (01/03/2021), pukul 14.00 Wita.

Sapaan akrabnya Sidik mengatakan, keberlangsungan budidaya rumput laut di Kabupaten Nunukan menjadi penopang perekonomian di tengah pandemi Covid-19.

"Dengan harga jual Rp10 ribu per kilo saja uang yang beredar pada penjualan itu sekitar Rp20-25 miliar. Itu baru penjualan material. Karena rata-rata yang kita jual mentahnya.
Penyerapan tenaga kerja di bidang budidaya rumput laut atau kita kenal dengan sebutan ma'betang (ikat rumput laut) juga bertambah. Kuliner rumput laut mulai berjalan," ucap Sidik.

Diketahui, harga rumput laut sekarang mulai Rp10.500-Rp11.000. Sementara harga normal Rp7-8 ribu.

"Harga pengepul ngambil ke petani itu bervariasi. Tergantung lokasi. Kalau jauh agak lebih murah karena dipotong biaya pengangkutan ke pengepul. Dengan harga segitu, sebenarnya pembudidaya rumput laut masih untung saja. Tapi yang sering mereka keluhkan itu soal untungnya yang jadi berkurang. Kan sempat Rp20 ribu per kilo, sekarang jadi turun. Apalagi di tengah pandemi tahun lalu, permintaan jadi menurun," ujarnya.

Sidik mengaku, kendati produktivitas rumput laut menjadi meningkat sama sekali tidak menyumbang pada PAD Nunukan.

Baca juga: Kapan Bupati Malinau & Nunukan Dilantik, Ini Kata Kepala Biro Pemerintahan Kaltara Taufik Hidayat

Baca juga: Barang Bukti Uang Tunai Rp 26 Juta Masih Diamankan Bawaslu Nunukan, Yusran: Belum ada Regulasi

Baca juga: Tugas 63 Panwascam Selesai, Ketua Bawaslu Nunukan Beber Kendala Selama Pilkada 2021

"Dia masuk ke Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Itupun kecil, untuk per kilo hanya 15 rupiah yang masuk ke PNBP," tuturnya.

Sidik menjelaskan, pihaknya sering mendapat keluhan dari pembudidaya rumput laut, lantaran kualitas sebaik apapun selalu mendapat harga yang sama di pasaran.

"Kita sedang berupaya bangun sistem. Sehingga kualitas rumput laut kita dapat bersaing di pasaran dan memang dibutuhkan oleh daerah luar. Kita khawatirkan kalau daerah lain juga panen, sementara kita tidak jaga kualitas, maka barang kita hanya jadi pengganti saja. Tunggu tidak ada hasil panen baru pakai punya kita. Kami bersama bidang karantina sedang melakukan pembinaan. Jadi sebelum barang dikirim ke pelabuhan, setidaknya dilakukan pengecekan lebih dulu di gudang pengepul oleh tim," ungkapnya.

Penulis: Febrianus Felis

Jangan Lupa Like Fanpage Facebook TribunKaltara.com

Follow Twitter TribunKaltara.com

Follow Instagram tribun_kaltara

Subscribes YouTube Tribun Kaltara Official

Sumber: Tribun Kaltara
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved