Breaking News:

Berita Nunukan Terkini

9 Tahun jadi WBP Kasus Pembunuhan, Pria Ini Aktif Beri Kultum Bagi Jamaah di Dalam Lapas Nunukan

9 tahun jadi WBP kasus pembunuhan, pria ini aktif beri kultum bagi jamaah di dalam Lapas Klas IIB Nunukan.

TRIBUNKALTARA.COM/FELIS
Rahmat Bin Mansur (34) merupakan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Klas IIB Nunukan sejak 2011 lalu. TRIBUNKALTARA.COM/ Febrianus felis 

"Kami mulai pesantren Ramadan di pagi hari, kemudian setelah itu kembali ke kamar hingga kembali lagi nanti untuk salat Zuhur. Setelah itu keluar salat Azhar. Nah, untuk buka puasa bersama itu tergantung pembina Kalapas. Kemudian, malam hari dilanjutkan salat Isya dan Tarawih berjamaah," ujarnya.

Selain itu, Rahmat mengaku, kegiatan lainnya yang ia geluti yakni produksi tempe untuk dikonsumsi seluruh penghuni Lapas.

"Saya ototidak. Untuk bahannya didatangkan oleh pegawai Lapas. Baru kami yang olah. Bahannya simpel saja dari kedelai sama ragi. Kalau kami gunakan tepung beras," tuturnya.

Per dua hari, Rahmat dan rekan WBP lainnya bisa produksi tempe hingga 100 bungkus.

"Harusnya kami produksi tempe tiap hari, karena dapur butuhkan itu tiap hari. Tapi karena kita pikirkan juga biaya produksi harus pakai gas kalau nggak ada kayu bakar, jadinya per dua hari produksi. Dapur biasanya ambil 50 bungkus perhari. Jadi 100 bungkus untuk dua hari dengan berat 10 Kg," ungkapnya.

Baca juga: Terima Beasiswa Repatriasi, 243 Pelajar Indonesia dari Malaysia Tiba di Nunukan, Akan Dikirim Kesini

Baca juga: 134 PMI Dideportasi dari Malaysia, Didominasi Kasus Narkoba, Berikut Keterangan BP2MI Nunukan

Baca juga: 134 Pekerja Migran Deportasi dari Malaysia Tiba di Nunukan, Wajib Diswab PCR, KKP Beber Alasannya

Dia menuturkan tiga harapannya di bulan Ramadan ini yakni mendapat ampunan dari Allah Swt termasuk orang-orang yang pernah dilakukan kesilapan.

Serta mendapat tempat yang baik di lingkungan masyarakat kelak.

"Saya selalu berharap ketika WBP bebas, masyarakat mau terima kami. Sejatinya kami dijuluki sampah masyarakat. Semoga ketika bebas nanti itu stigma masyarakat ke kami tidak demikian. Selama pandemi ini tidak ada kunjungan dari keluarga. Kalau saya sudah cerai dan anak saya satu usia 10 tahun. Dia saat ini SD," imbuhnya.

Penulis: Febrianus felis

Jangan Lupa Like Fanpage Facebook TribunKaltara.com

Follow Twitter TribunKaltara.com

Follow Instagram tribun_kaltara

Subscribes YouTube Tribun Kaltara Official

Penulis: Febrianus Felis
Editor: M Purnomo Susanto
Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved