Minggu, 19 April 2026

Berita Malinau Terkini

Curhat Nelayan Malinau, Penghasilan Menurun Drastis hingga Usulan Pengadaan Mesin Ditolak Pemerintah

Hasil perikanan di wilayah periran Kabupaten Malinau cenderung menurun dari tahun ke tahun.

Penulis: Mohamad Supri | Editor: Amiruddin
TRIBUNKALTARA.COM/MOHAMMAD SUPRI
Ketua Kelompok Nelayan, Imbayud Taka Desa Malinau Seberang, Hasan saat menghadiri pertemuan kelompok nelayan bersama Bupati dan Wakil Bupati Malinau, Provinsi Kalimantan Utara. (TRIBUNKALTARA.COM/MOHAMMAD SUPRI) 

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Curhat nelayan di Malinau, penghasilan menurun drastis hingga usulan pengadaan mesin ketinting ditolak Pemerintah

Hasil perikanan di wilayah periran Kabupaten Malinau cenderung menurun dari tahun ke tahun.

Selain dikeluhkan oleh nelayan, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malinau, Sofyan juga memaparkan hal yang sama.

Karena potensi hasil laut menurun, imbas merosotnya potensi perairan daerah, berdampak langsung terhadap menurunnya kesejahteraan nelayan di Bumi Intimung.

Baca juga: Lampu Lalu Lintas Dipertigaan Bandara Malinau Dinonaktifkan, Ini Penyebanya, Segera Diperbaiki

Baca juga: Hari Keempat MTQ Ke-17 Kabupaten Malinau, Digelar Lomba Cabang Tahfiz dan Tilawah

Baca juga: Info Cuaca BMKG Kamis 10 Juni 2021, Waspada Hujan Disertai Petir di Malinau Kaltara pada Malam Hari

Ketua Kelompok Nelayan, Imbayud Taka, Hasan mengatakan dampak menurunnya potensi perairan sangat mempengaruhi kualitas hidup nelayan.

Ayah dari 2 orang anak tersebut bercerita. Dulu, potensi wilayah perairan di Kabupaten Malinau sangat menjanjikan. Penghasilan nelayan bisa dikatakan sangat berkecukupan.

Dulunya, nelayan di Sungai Sesayap bisa memperoleh hingga Rp 200 ribu dalam sehari. Jumlah tersebut dinilainya lebih dari cukup untuk menutupi kebutuhan hidup keluarga.

Dari tahun ke tahun, tangkapan hasil laut mulai merosot. Hasil melaut saat ini paling banyak Rp 50 ribu sehari.

Hasil tersebut diperoleh nelayan setelah seharian berjemur terik dan hujan di sungai. Rutinitasnya, nelayan akan mulai melaut sekira pukul 06:00 Wita hingga pukul 17:30 Wita.

"Memang sangat menurun. Kalau sebelumnya bisa dapat Rp 200 ribu sehari. Sekarang kalau dirupiahkan dapat Rp 50 ribu sehari, setelah dipotong bensin dan biaya lain-lain.

Itupun kita sudah bersyukur, jumlah itu banyak untuk sekarang," ujarnya kepada TribunKaltara.com, Kamis (10/6/2021).

Dalam pertemuan perwakilan kelompok nelayan bersama Bupati dan Wakil Bupati Malinau kemarin, rata-rata perwakilan nelayan mengeluhkan hal yang sama. Tangkapan hasil laut semakin menurun.

Dalam kelompok, masing-masing nelayan punya spesifikasi keahlian penggunaan alat tangkap.

Hasan mengatakan dia lebih condong menggunakan jala. Dan komoditas incarannya adalah Udang Galah.

Dialog bersama Perwakilan Kelompok Nelayan di Kabupaten Malinau bersama Bupati dan Wakil Bupati Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, Rabu (9/6/2021)
(TRIBUNKALTARA.COM/MOHAMMAD SUPRI)
Dialog bersama Perwakilan Kelompok Nelayan di Kabupaten Malinau bersama Bupati dan Wakil Bupati Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, Rabu (9/6/2021) (TRIBUNKALTARA.COM/MOHAMMAD SUPRI) (TRIBUNKALTARA.COM/MOHAMMAD SUPRI)

"Kalau di kelompok kami, ada yang pakai pukat, dan ada juga yang pakai jala. Tiap nelayan punya keahlian penggunaan alat tangkap. Saya sendiri lebih condong nyari Udang Galah, pakai jala," katanya.

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved