Senin, 18 Mei 2026

Berita Malinau Terkini

Kepala BPPD Kaltara Udau Sebut Kesehatan dan Pendidikan Prioritas Pembangunan Perbatasan RI-Malaysia

Badan Pengelola Perbatasan Daerah Provinsi Kalimantan Utara (BPPD Kaltara) menyoroti pembangunan infrastruktur di perbatasan RI-Malaysia.

Tayang:
Penulis: Mohamad Supri | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/ MOHAMMAD SUPRI
Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah Provinsi Kalimantan Utara (BPPD Kaltara), Udau Robinson saat ditemui di Kantor Bupati Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, Kamis (17/6/2021). 

Hal itu dialami oleh Santi (31), seorang warga Sebatik, Kabupaten Nunukan, sejak 2015 menjadi guru honorer di SDN 012, Jalan Sei Banjar, RT 07, Desa Binusan Dalam, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Sebelumnya, Santi merupakan guru honorer di sebuah sekolah Paud di Sebatik selama 5 tahun, sejak 2009 lalu.

Lalu, pada 2015, ia memutuskan pindah ke Kecamatan Nunukan, lantaran mengikuti sang suami yang juga guru di SDN 012. Namun bedanya, sang suami sudah berstatus PNS.

Baca juga: 18 Tahun jadi Guru Honorer di Perbatasan RI-Malaysia, Lulusan S1 ini Diupah Rp 300 Ribu Per Bulan

Ibu dua anak itu, mengaku selama di Nunukan, ia tinggal 4 tahun di ruang Unit Kesehatan Sekolah ( Ruang UKS ) yang berukuran 3×5 meter, bersama suami dan anaknya.

"Ya 4 tahun kami tinggal di ruang UKS. Makan dan tidur di situ. Lalu 2019 kami pindah ke perumahan guru belakang sekolah. Sudah direnovasi tapi tiangnya rumahnya masih goyang. Apalagi kalau banjir, tiangnya goyang kayak mau roboh. Tapi ya sedikit lebih besar ruangannya dari UKS," kata Santi kepada TribunKaltara.com, Rabu (26/05/2021), pukul 10.00 Wita.

Tak hanya itu, menjadi guru di SDN 012, Santi harus terbiasa dengan situasi ketiadaan listrik dan jaringan alias blankspot.

Hal itu sedikit membuat santi dan 5 guru lainnya kewalahan, lantaran harus mengantarkan materi ke rumah peserta didik yang letaknya terpisah-pisah dan berjauhan.

"Di sini hanya air saja yang berlimpah karena ada mata air. Pemilik tanah sudah wakafkan ke sekolah. Jadi kalau mau antar materi kami harus mengendarai sepeda motor dengan jarak berkilo-kiloan. Bahkan rumah paling jauh itu 20 km," ucapnya.

(*)

Penulis : Mohammad Supri

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved