Berita Malinau Terkini

Hari Masyarakat Adat Sedunia di Malinau, Dolvina Damus Urai Keterkaitan Hutan Lawan Pandemi Covid-19

Hari Masyarakat Adat Sedunia di Malinau, Dolvina Damus urai keterkaitan hutan meLawan pandemi Covid-19.

Penulis: Mohamad Supri | Editor: M Purnomo Susanto
TRIBUNKALARA.COM/MOHAMMAD SUPRI
Ilustrasi, Tari-tarian dan ritual penyambutan tamu kehormatan dari masyarakat Adat di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, beberapa waktu lalu. (TribunKaltara.com / Mohammad Supri) 

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU – Tepat hari ini, Senin 9 Agustus 2021 diperingati sebagai Hari Masyarakat Adat Sedunia.

Kabupaten Malinau sebagai kabupaten dengan wilayah terluas di Kalimanatan Utara menyimpan khazanah, budaya dan kearifan local yang masih bertahan di lingkungan masyarakat adat Dayak di Kabupaten Malinau.

Ketua Badan Pengurus Harian Forum Musyawarah Masyarakat Adat (FoMMA) Kayan Mentarang, Dolvina Damus bercerita bagaimana perkembangan masyarakat adat dan perannya dalam merawat ekosistem hutan di Malinau.

Baca juga: Uji Kualitas Air Sungai Malinau Mengambang, Jatam Kaltara Layangkan Gugatan ke Komisi Informasi

Baca juga: Jadwal Speedboat Kaltara Rute Malinau-Tarakan Senin 9 Agustus 2021, Keberangkatan Mulai Pagi Hari

Baca juga: Info Prakiraan Cuaca Kaltara Senin 9 Agustus 2021, BMKG: Waspada Hujan Petir di Malinau Sore Ini

Bagi masyarakat adat suku Dayak, alam dan lingkungan adalah segalanya.

Alam adalah bagian yang melekat, menyatu sebagai identitas, rumah, penghidupan dan cerminan budaya.

Dolvina Damus, Perempuan kelahiran Malinau yang meraih gelar Doktor Prodi Ilmu Lingkungan Universitas Brawijaya tersebut menyampaikan, keseharian masyarakat adat dayak adalah berladang yang diadopsi berdasarkan kearifan leluhur.

Masyarakat adat merupakan penjaga sekaligus pelindung ekosistem hutan dan lingkungan.

Jadi, benarlah istilah bahwa ekosistem terbaik yang masih ada di bumi adalah wilayah masyarakat adat.

Kearifan local dan nilai leluhur menurutnya selalu mengajarkan tentang keseimbangan (balance), dan keberlangsungan.

Misalnya, dalam budaya masyarakat adat Dayak Lundayeh, dikenal istilah Ara’ Mefetamat.

Yang bermakna bibit yang digunakan di ladang, tidak akan diperuntukkan untuk keperluan lain.

Hal tersebut bertujuan untuk menjaga agar ketersedia bibit dan tanaman tidak “Metamat” atau terputus, selalu tersedia setiap waktu.

“Begitu masyarakat adat Dayak menjaga ketersediaan bibit benih di ladang, melestarikannya.

Jadi Masyarakat adat adalah Pelestari benih yang sangat berperan penting dalam ketahanan pangan masyarakat di Kabupaten Malinau,” ujarnya kepada Tribunkaltara.com, Senin (9/8/2021).

Halaman
123
Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved