Kamis, 7 Mei 2026

Berita Tarakan Terkini

Panen Pertama Sukses Hasilkan 9,4 Ton Demplot Bawang Merah, Berpotensi Dikembangkan di Tarakan

Tahun ini untuk pertama kalinya Kelompok Tani Flora dan Fauna Mandiri berhasil melakukan panen perdana program pengembangan bawang merah.

Tayang:
Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/ ANDI PAUSIAH
Sri Darmawan, Ketua Kelompok Tani Flora dan Fauna saat menunjukkan hasil panen perdana dari tanam pertama bibit bawang merah Bima Brebes di area Kelurahan Juata Permai, Minggu (28/11/2021). 

Perlakuan sendiri kata Sri Darmawan, harus bisa menyesuaikan kondisi cuaca labil di Kota Tarakan. Tarakan diketahui memiliki perkiraan cuaca yang bisa saja meleset.

Baca juga: Tekanan Inflasi Turun karena Pasokan Terjaga, Bawang Merah Masih Ikut Sumbang di Angka 0,04 Persen

Sebagai petani harus berusaha mengantisipasi saat curah hujan tinggi.

Otomatis kata Sri, risiko bisa lebih besar. Itu menjadi kunci, mengatasi curah hujan dengan beberapa teknik dan perlakuan.

Dalam satu lubang sendiri awal tanam hanya diisi satu umbi saja. Dan hasilnya setelah masa tanam 47 hari ada dalam satu lubang berisi 7,8 sampai 12 umbi bawang merah.

“Bervariasi, besaran juga berbeda. Kalau semakin banyak umbinya rata ukurannya. Kalau banyak yang besar, isi dalam lubang lebih sedikit,” jelasnya.

Diperkirakan dalam setahun jika komitmen menanam, bisa sampai empat kali.

Sri mengestimasikan mulai dari proses pematangan lahan, olah tanah, semai bibit dan tanam bibit bisa membutuhkan waktu 2,5 bulan.

Itu jika stok bibit selalu ada saat akan masa tanam dimulai. Karena untuk proses menjadikan bibit saja membutuhkan waktu sekitar 60 hari.

“Juga menyesuaikan kondisi cuaca. Kalau melihat cuaca Tarakan, curah hujan tinggi mulai November, Desember, Januari dan Februari. Maka mulai Maret, sudah bisa dilakukan penanaman,” jelasnya.

Hal yang harus diantisipasi dengan kondisi Tarakan yang terus-menerus terjadi hujan yakni jangan sampai bawang merah berjamur.

Curah hujan tinggi bisa sebabkan tanaman rusak dan menimbulkan jamur. Cara mengantisipasinya kata Sri, dilakukan pestisida.

Tahun depan lanjutnya, jika melihat keberhasilan panen pertama tahun ini kata Sri, bisa diperkirakan bertahan di angka 9,6 ton kering.

Target pasti ada kata Sri, dan ia berharap lebih dari target karena ia juga berencana mengubah SOP menyesuikan kondisi cuaca Tarakan.

“Kemarin tanam perdana kan masih menggunakan SOP dari Jawa,” jelas pria yang juga merangka sebagai Sekretaris Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Tarakan.
Dari pengalaman penanaman bawang yang sudah pernah dilakukan, memang hasil perlakuan dan teknik ikut andil menyukseskan masa panen.

Terbukti dari tiga titik yang ditanam di lokasi yang dilakukan panen pada Minggu (28/11/2021) kemarin yang paling berhasil.

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved