Berita Malinau Terkini

Makna Upacara Adat Betimbang Anak Suku Tidung di Malinau, Sambut Kelahiran Bayi di Bulan Safar

Mayoritas masyarakat suku Tidung Malinau masih mengamalkan sejumlah prosesi tersebut diperagakan dalam pentas seni budaya di Balai Adat Tidung Malinau

Penulis: Mohamad Supri | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/ MOHAMMAD SUPRI
Prosesi Adat Betimbang Anak Suku Tidung Malinau, diperagakan di Balai Adat Tidung Malinau dalam rangkaian Pentas Seni Budaya, Kamis (13/10/2022). Upacara Adat ini hidup dan bertahan hingga saat ini di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara. 

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Sejumlah prosesi warisan budaya leluhur suku Tidung di Malinau menyambut kelahiran buah hati masih bertahan hingga saat ini.

Mayoritas masyarakat suku Tidung Malinau masih mengamalkan sejumlah prosesi tersebut diperagakan dalam pentas seni budaya di Balai Adat Tidung Malinau, Kalimantan Utara, Kamis (13/10/2022).

Diantaranya ada Prosesi Betimbang Anak, Gunting Abuk, Ampnendong dan Masakinendong.

Baca juga: Festival Seni Budaya Adat Tidung Dijadwalkan Oktober 2022, Rangkaian Direncanakan Lebih Sepekan

Ketua Umum Lembaga Adat Tidung Kabupaten Malinau (LABT Malinau), Edy Marwan menjelaskan Betimbang Anak hanya bagi bayi yang lahir pada bula Istimewa.

Prosesi Betimbang Anak merupakan diperuntukkan khusus bagi bayi yang lahir pada Bulan Safar, atau bulan ke dua dalam kalender Islam.

Baca juga: Mengenal Prosesi Bepupur, Rangkaian Pernikahan Khas Suku Adat Tidung Malinau, Pernah Raih Rekor MURI

"Betimbang Anak adalah prosesi khusus bagi bayi yang lahir pada Bulan Safar dalam kalender Islam. Bayi yang baru lahir ini ditimbang di atas timbangan besar," ujarnya ditemui TribunKaltara.com, Kamis (13/10/2022).

Biasanya prosesi ini dilaksanakan di kediaman masyarakat. Lembaga Adat menyiapkan sebuah timbangan berukuran besar untuk menimbang bayi.

Betimbang Anak 01 13102022

Prosesi Adat Betimbang Anak Suku Tidung Malinau, diperagakan di Balai Adat Tidung Malinau dalam rangkaian Pentas Seni Budaya, Kamis (13/10/2022). Upacara Adat ini hidup dan bertahan hingga saat ini di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara.
(TRIBUNKALTARA.COM / MOHAMMAD SUPRI)

Dari kedua orang tua dan kerabat bayi, akan menyiapkan kebutuhan pokok, sayur-sayuran, buah-buahan dan sejumlah jenis kebutuhan lain.

Bayi akan diletakkan di atas timbangan, sementara di sisi timbangan lain akan diletakkan jenis-jenis kebutuhan pokok.

Baca juga: Peringati Hardiknas, Bupati Bulungan Bersama Guru dan Siswa Pakai Baju Adat Tidung hingga Bugis 

"Di satu sisi timbangan diletakkan bayi. Kebutuhan pokok, sayuran, buah dan sejenisnya diletakkan di sisi lain, sampai seimbang antara timbangan kiri dan kanan tadi," ungkap Edy Marwan.

Prosesi ini disaksikan sejumlah masyarakat, pemangku adat hingga letak dua sisi timbangan sejajar, seimbang.

Diulang hingga berkali-kali. Biasanya 7-9 kali dengan hitungan ganjil.

Sejak dulu masyarakat Tidung Malinau mengamalkan prosesi adat tersebut sebagai wujud syukur serta menghindarkan bayi dari malapetaka seusai kelahiran.

"Tujuan utamanya, agar anak tumbuh bisa seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat. Prosesi ini diselingi doa-doa," katanya.

Baca juga: Makna Tradisi Imbaya Ngakan Suku Tidung di Malinau, Makan Semeja Pererat Kebersamaan

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltara
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved