Berita Tarakan Terkini

23 Obat Sirup Aman Dikonsumsi, Dinkes Tarakan Sebut Nakes Bisa Berikan, Apotek Dapat Jual Kembali

Kemenkes dan BPOM sudah mengumumkan obat sirup yang dapat dikonsumsi, karena tidak mengandung Etilen Glikol dan Dietilen Gliko melebihi ambang batas.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/ ANDI PAUSIAH
Kepala Dinkes Kota Tarakan, dr Devi Ika Indriarti. 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKANDinkes Tarakan menerima surat edaran terkait petunjuk terbaru yang dikeluarkan Kemenkes RI terkait penggunaan obat sirup pada anak dalam rangka pencegahan peningkatan kasus gagal ginjal akut progresif atipikal (GGA) atau Atypical Progressive Acute Kidney Injury.

Dikatakan Kepala Dinkes Tarakan, dr Devi Ika Indriarti, pihaknya menerima instruksi obat sirup dan petunjuk pada Senin (25/10/2022) dan surat bernomor HK.0202/III/3515/2022.

“Jadi sesuai surat edaran dari Kemenkes dan rilis BPOM sudah ada diumumkan terkait obat sirup yang tidak mengandung Etilen Glikol dan Dietilen Gliko melebihi ambang batas sudah bisa dipergunakan,” ungkap dr Devi Ika Indriarti.

Baca juga: Masyarakat Kaltara Diminta tak Konsumsi Obat Sirup, Kepala Dinkes Usman: Bisa Pakai Puyer

Untuk saat ini masih ada 5 produk masih dilarang penggunaan dan peredarannya dan sudah pernah dirilis BPOM RI. Sementara itu, terbaru ada 133 daftar nama produk yang tidak mengandung propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol dan atau gliserin atau gliserol dirilis BPOM RI.

“Jadi itu bisa dterllihat yang sudah bisa dikonsumsi. Tindak lanjutnya kami sudah menyebar informasi ke faskes bahwa obat yang dalam list BPOM sudah bisa digunakan. Ini instruksi Kemenkes juga,” ungkapnya.

Ia menambahkan, terhadap lima produk saat ini yang dilarang dan sudah diinstruksikan ditarik dari peredaran, dari Puskesmas di Tarakan juga tidak pernah meresepkan obat-obatan yang dimaksud.

Baca juga: Dinkes Tarakan Lakukan Pengawasan ke Puskesmas, Hasil Temuan Pemberian Obat Sirup Nihil

“Di Apotek kan pasti ada makanya mereka yang di Apotek akan mengembalikan stoknya. Sementara yang sudah diperbolehkan silakan. Teman-teman di apotek juga masih hati-hati dalam mengeluarkan itu,” urai dr.Devi Ika Indriarti.

Dalam pengumuman yang disampaikan Kemenkes RI melalui Plt Dirjen Pelayanan Kesehatan, drg. Murti Utami, untuk GGA pada anak terus bertambah. Berdasarkan data sampai 23 Oktober 2022, kasus sembuh mencapai 16 persen, sedang dalam perawatan 27 persen dan kasus meninggal 57 persen dari total 245 kasus.

Per 18 Oktober 2022 lalu, Kemenkes sudah mengeluarkan kebijakan surat Plt Dirjen Pelayanan Kesehatan Nomor SR.01.05/III/3461/2022 dan telah melaksanakan penyelidikan epidemologi melalui kegiatan pemetaan, telusur, cross check pada fasilitas pelayanan kesehatan, sumber pembelian obat yang digunakan pasien, dan rumah keluarga pasien.

Salah satu apotek di Tarakan yang menjual berbagai jenis obat.
Salah satu apotek di Tarakan yang sedang mencatat berbagai jenis obat. (TRIBUNKALTARA.COM/ ANDI PAUSIAH)

Hasil dari kegiatan dimaksud diperoleh informasi obat-batan yang diperguakan oleh pasien sebelum mendapatkan perawatan di rumah sakit. Obat-obatan tersebut telah dilakukan kajian oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

Dibeberkan Plt Dirjen Pelayanan Kesehatan, drg. Murti Utami, jika mengacu penjelasan Kepala BPOM RI Nomor HM01.1.2.10.22.172 pada lampiran 1 ada 133 daftar nama produk dan lampiran 2A surat penjelasan Kepala BPOm RI Nomor HM.01.1.2.10.22.173 ada 23 daftar nama produk tanggal 22 Oktober 2022, dimana 23 daftar obat tersebut tidak menggunakan propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol dan atau gliserin atau gliserol. 23 daftar obat tersebut, berdasarkan data Kemenkes yang mencatat 102 produk yang diknsumsi pasien.

Baca juga: BPOM Rilis 133 Obat Sirup Dinyatakan Aman, Balai POM Tarakan Masih Lakukan Pengujian Sampling

“Dan dinyatakan aman sepanjang digunakan sesuai aturan pakai. Maka nakes pada faskes dapat meresepkan atau memberikan obat dalam bentuk sediaan cari atau sirup berdasarkan pengumuman BPOM RI,” urai drg. Murti Utami.

Kemudian, nakes pada faskes dapat meresepkan atau memberikan obat dalam bentuk sediaan lain sebagaimana tercantum dalam lampiran dua yang merupakan bagian tak terpisahkan dari surat petunjuk yang diturunkan sampai hasil pengujian dan diumumkan BPOM RI. Pemanfaatan obat harus melalui monitoring terapi dan nakes.

Lalu terhadap apotek dan toko oabt dapat menjual bebas dan atau bebas terbatas kepada masyarakat sebagaimana terantum dalam lampiran satu dan lampiran 2.

Baca juga: Update Balita di Tarakan Meninggal Diduga Gagal Ginjal Akut, Obat Sirup yang Diminum Dikirim ke Lab

“Dineks provinsi, kabupaten dan kota dan faskes harus melakukan pengawasan dan memberikan edukasi kepada masyarakat terkait penggunaan oabt sirop dalam ketentuan surat petunjukan sesuai kewenangan masing-masing,” pungkasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved