Jumat, 24 April 2026

Berita Bulungan Terkini

Diskusi Kolaboratif PWI Bulungan Kaltara - Inaya Kayan: Membingkai Perempuan dan Alam

Diskusi dihelat secara daring pada Jumat (23/05/2025), dengan mengusung tema relevan, “Membingkai Perempuan dan Alam: Perspektif Media di Kaltara” .

Penulis: Edy Nugroho | Editor: M Purnomo Susanto
ISTIMEWA
DISKUSI - Tangkapan layar diskusi publik PWI Bulungan-Inaya Kayan terkait peran perempuan yang digelar secara online, Jumat (23/05/2025). (istimewa) 

TRIBUNKALTARA.COM, BULUNGAN – Dalam upaya memperluas cakrawala pemahaman dan membangun sinergi lintas sektor, Inaya Kayan Indonesia, sebuah organisasi yang berdedikasi pada penguatan kapasitas perempuan dan keadilan ekologis di Kalimantan, menggelar diskusi kolaboratif bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bulungan, Kalimantan Utara ( Kaltara).

Diskusi dihelat secara daring pada Jumat (23/05/2025), dengan mengusung tema relevan, “Membingkai Perempuan dan Alam: Perspektif Media di Kaltara” .

Diskusi pun menjadi titik temu yang kaya, antara jurnalis, pegiat komunitas, dan penggerak isu perempuan. Mereka saling berbagi pengalaman, tantangan, dan refleksi dari perspektif masing-masing. 

Ajang dialog terbuka, atau yang lebih akrab disebut sharing session ini, merupakan ruang penting untuk menggali lebih dalam bagaimana narasi media selama ini merefleksikan isu-isu seputar perempuan dan lingkungan di Kalimantan Utara. 

Baca juga: PWI Sepakati Panitia Kongres Persatuan

Ketua PWI Bulungan Fathu Rizqil Mufid menegaskan, komitmen PWI mengawal isu perempuan dan lingkungan dalam bingkai media. 

Ia menekankan pentingnya tetap mengacu pada kode etik jurnalistik, sembari mengakui bahwa isu-isu semacam ini masih minim terakomodasi dalam kebijakan pelaku media. 

Fathu bilang, perlu edukasi bersama agar perspektif media dan pegiat isu perempuan dapat sejalan.

Hal ini penting agar pemberitaan tidak hanya terpaku pada kasus kekerasan terhadap perempuan, melainkan juga menyoroti langkah-langkah nyata dalam edukasi dan pemberdayaan.

“Tagline kami adalah integritas dan berdaya saing. Kami siap mendukung gerakan teman-teman perempuan, kita bisa sinergikan ini,” ujar Fathu, menandakan kesediaan PWI untuk menjadi mitra strategis dalam perjuangan isu-isu ini.

Sementara itu, Anti, seorang penggerak isu perempuan dan lingkungan dari Inaya Kayan, menekankan peran fundamental media dalam membentuk opini publik. 

“Kami percaya, media memiliki peran krusial membentuk pemahaman publik, sekaligus menjadi mitra strategis memperjuangkan keadilan sosial dan ekologis,” ujarnya.

Anti memaparkan hasil studi mendalam yang telah dilakukan di Desa Long Pelban, Kecamatan Peso, Kabupaten Bulungan, bersama Kelompok Perempuan Adat Uma Kulit. 

Studi yang menggunakan metode Feminis Partisipatori Action Riset (FPAR) ini telah diinterpretasikan menjadi karya seni oleh seniman muda Kalimantan, dan kini menjadi bagian dari pameran digital “Perempuan, Seni dan Lingkungan” yang digagas oleh Inaya Kayan Indonesia.

“Studi ini menjadi titik awal suara akar rumput, khususnya kelompok perempuan Uma Kulit, yang ada di Desa Long Pelban,” ujarnya. 

Melalui riset partisipatoris ini, perempuan diberi ruang bersuara dan menyampaikan pendapat serta pengetahuannya tentang kampung dan ruang hidupnya, termasuk proyeksi dampak jika kampung mereka kelak tenggelam akibat pembangunan PLTA Kayan. 

Baca juga: Wujudkan Organisasi Solid, Konflik Berakhir Lewat Mediasi,  Begini Tanggapan PWI Kaltara dan Tarakan

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved