Berita Tarakan Terkini

Intip Proses Pembuatan Anyaman Tikar Daun Pandan di Desa Liagu Bulungan, Dijadikan Tempat Duduk

Seorang ibu di Desa Liagu Bulungan Kalimantan Utara (Kaltara) terlihat asyik menganyam tikar yang biasa digunakan sebagai tempat duduk.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/ ANDI PAUSIAH
MENGANYAM TIKAR - Ibu Tija di Desa Liagu Bulungan Kalimantan Utara (Kaltara) saat melakukan proses anyaman membentuk tikar yang biasa digunakan suku Tidung untuk kegiatan pernikahan dan acara lainnya. 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN -Tampak seorang ibu di Desa Liagu Bulungan Kalimantan Utara sedang duduk dan asyik mengayam tikar di tengah hiruk pikuk warga yang menyambut kedatangan rombongan Delegasi Sri Lanka, Kamis (28/8/2025).

Ibu yang mengayam tikar ini bernama Tija. Seingatnya ia kini berusia 75 tahun. Meski lupa tanggal dan bulan lahir, Tija tak lupa cara mengayam tikar dari daun pandan atau bahasa Tidung dikenal 'belungis'. Keterampilan untuk mengayam tikar ia peroleh dari orangtuanya semasa gadis.

Kegiatan mengayam tikar dari daun pandan ini ternyata dilakukan sejak turun temurun oleh suku Tidung di Kalimantan Utara.

Biasanya anyaman tikar digunakan untuk tempat duduk bersanding pengantin dan bisa juga digunakan sebagai tempat duduk di malam berpupuran yang menjadi salah satu prosesi calon pengantin yang biasa dilakukan suku Tidung.

Baca juga: Delegasi Sri Lanka Kunjungi Desa Liagu di Bulungan, Lakukan Pengamatan dan Penanaman Mangrove

Kata Ibu Tija, proses pembuatan 1 lembar tikar berbahan dasar daun pandan kering bisa menghabiskan waktu seminggu. Mulai dari proses perebusan kemudian penjemuran dan pengeringan kemudian pengguntingan.

Penjemuran yang membutuhkan waktu beberapa hari sampai kering. Panjang setelah diraut bisa sampai tiga meter yang paling panjang. 

Semua dikerjakan dengan cepat. Tangannya gesit menganyam lembar daun pandan. Alat untuk menggunting bukan menggunakan gunting pada umumnya. Ia juga punya alat untuk meraut daun pandan agar bisa memisahkan serat kasar daun pandan.

"Kalau pisaunya alatnya dari bambu sama besi. Dirangkai membentuk sampai 3-4 mata pisau atau silet," ujarnya.

Kata Ibu Tija, satu tikar ini membutuhkan sampai 100 -200 lembar daun pandan. Setelah jadi memiliki panjang 1,5 meter dan lebar hampir satu meter.

Baca juga: Rehabilitasi Mangrove Kaltara jadi Rujukan Internasional, Sri Lanka Siap Terapkan di Negeri Sendiri

Satu lebih bisa dihargai Rp200 ribu. Karena ada juga pernak-pernik lainnya yang ditambahkan untuk mempercantik tikar.

Sementara untuk yang bisa tanpa hiasan tambahan pernak pernik dijual Rp150 ribu. 
Untuk ukuran panjang bisa sampai 1,5 meter dan lebar hampir 1 meter. 

Bahannya sendiri ia tak sulit mencari karena di Desa Liagu masyarakat punya tanaman pandan sendiri. Ibu Tija mengakui sudah lima tahun tinggal di Desa Liagu. Sebelumnya tinggal di Tarakan.

Alasan akhirnya pindah ke Liagu, desa terjauh Kecamatan Sekatak karena ingin ikut anak dan cucu dan buyut.

 "Saya juga punya buyut di sini. Kemarin di Tarakan tinggal sama ada anak cucu," aku Ibu Tija yang saat ini memiliki 7 anak ini.

Pemesan tikar sendiri sudah sampai ke Samarinda permintaannya. Pemesan juga dari kerabat keluarga di sana. 

Anyaman tikar di Desa Liangu 02 29082025.jpg
MENGANYAM TIKAR - Ibu Tija di Desa Liagu Bulungan Kalimantan Utara (Kaltara) saat melakukan proses anyaman membentuk tikar yang biasa digunakan suku Tidung untuk kegiatan pernikahan dan acara lainnya.

"Kalau yang beli ada dari orang di Bulungan juga," ujar Ibu Tija.

Tikar ini juga lanjutnya selain digunakan di kegiatan pengantin juga sehari-harinya bisa digunakan untuk baring termasuk bisa menjadi tempat alas sajadah salat lanjutnya.

"Tapi biasanya dipakai untuk nikahan dipakai duduk bersanding. Juga untuk malam bepupur juga bisa," pungkasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

Sumber: Tribun Kaltara
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved