Selasa, 14 April 2026

Berita Malinau Terkini

Kisah Inspiratif Eldawati, IRT Banting Setir jadi Perajin Batik Malinau, Modal 2 Helai Kain

Kisah inspiratif Eldawati, ibu rumah tangga yang banting setir menjadi perajin batik Malinau, Kalimantan Utara, berawal dari modal dua helai kain.

Penulis: Mohamad Supri | Editor: Cornel Dimas Satrio
TribunKaltara.com/Mohamad Supri
BATIK KHAS MALINAU – Aktivitas rumah produksi batik Pinungoh Langsat Lisumali, Desa Salap, Malinau Utara. Perajin terlihat sibuk mengerjakan pola batik, Kamis (25/9/2025). Dari tempat sederhana ini lahir karya batik khas Malinau yang mengangkat identitas lokal. (TribunKaltara.com/Mohamad Supri) 

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU – Berawal dari dua helai kain, Eldawati, ibu rumah tangga asal Desa Salap, Kecamatan Malinau Utara, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, nekat banting setir menjadi perajin batik.

Pemilik jenama Pinungoh Langsat Lisumali — yang telah resmi terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM — membuktikan keterbatasan modal bukan halangan untuk meraih kesuksesan.

Dari Ladang hingga Utang Garam

Sebelum tahun 2021, Eldawati tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang perajin batik.

Kesehariannya dihabiskan di ladang dan kebun, dengan kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas. Eldawati menggambarkan masa-masa sebelum beralih.

"Sekarang syukur, lumayanlah pendapatan. Mungkin tadi kita pergi ngebon (utang) garam di tetangga, sekarang sudah tidak lagi," ujarnya, Kamis (23/9/2025).

Perubahan nasib dimulai saat Eldawati mengikuti pelatihan membatik pada momentum 100 hari kerja Bupati dan Wakil Bupati Malinau tahun 2021.

Di sanalah Eldawati bertemu dua sosok perempuan yang menjadi pilar dalam perjalanannya: Betty, pelatih batik dari Desa Pulau Sapi, dan Maylenty, Ketua Dekranasda Malinau.

Menghadapi kendala modal yang besar, Eldawati nyaris putus asa.

Mentornya selalu memberi nasihat bagaimana seluruhnya dimulai dari dua modal awal: dua lembar kain dan dua pewarna.

pemilik Pinungoh Langsat Lisumali 250925
BANTING SETIR – Eldawati (kanan) pemilik rumah produksi batik Pinungoh Langsat Lisumali asal Desa Salap, Kecamatan Malinau Utara, bersama suami (kiri), dan Camat Malinau Utara, Nopis Muhramsyah Ishak (tengah). Perjuangan banting setir dari ubu rumah tangga menjadi perajin batik Malinau, Kaltara. (TribunKaltara.com/Mohamad Supri)

Baca juga: Malinau Utara Kaltara Bakal Hadirkan Batik Ikonik Spesial Irau, Terinspirasi Motif Lintas 6 Etnis

"Jangan pikir modal banyak. Beli dulu kain dua lembar, beli warna dua macam. Kerjakan dulu," kenangnya.

Seiring berjalan usahanya, Eldawati memahami kompleksitas dunia kerajinan. Keahlian saja tak cukup.

Sebuah rumah produksi batik tetap membutuhkan strategi jitu untuk memetakan pasar.

Dalam hal ini, peran Maylenty Wempi sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kabupaten Malinau sangat terasa.

Menurut Eldawati, istri Bupati Malinau tersebut berulang kali menopang pemasarannya melalui program pemberdayaan ibu rumah tangga.

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved