Minggu, 19 April 2026

Berita Tarakan Terkini

Pengakuan Soleh, Penjual Sapi di Tarakan yang Terhimpit Modal hingga Kurangi Pasokan

Begini pengakuan Soleh, seorang penjual sapi di Tarakan yang mengaku terhimpit modal hingga terpaksa kurangi pasokan jelang Idul Adha 2026.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: Amiruddin
TribunKaltara.com/Andi Pausiah
PANTAU SAPI - Pak Soleh saat memantau sapi di lokasi penjualan wilayah Pasir Putih, Kelurahan Karang Anyar, Kota Tarakan, Sabtu (18/4/2026). Begini pengakuan Soleh, seorang penjual sapi di Tarakan yang mengaku terhimpit modal hingga terpaksa kurangi pasokan jelang Idul Adha 2026. TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH 

Ringkasan Berita:
  • Penjualan sapi di Tarakan tahun ini lebih sepi, dipicu kenaikan harga dan daya beli masyarakat yang menurun.
  • Pedagang seperti Soleh kesulitan modal karena tidak mendapat KUR, sehingga pasokan sapi berkurang dan penjualan melambat.
  • Harga sapi naik hingga sekitar Rp45 juta untuk ukuran besar, namun transaksi tetap mengandalkan kepercayaan tanpa DP, meski berisiko pembatalan pembeli.

 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Lapak sapi di kawasan Pasir Putih, Kelurahan Karang Anyar, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, tak seramai tahun-tahun sebelumnya. 

Di bawah terik matahari, puluhan sapi tampak berdiri berjejer menikmati rumput yang disiapkan Pak Soleh.

Soleh merupakan pemilik usaha penjualan sapi, yang berlokasi di wilayah Pasir Putih, Jalan Bhayangkara, Kota Tarakan.

Di sanalah Pak Soleh, penjual sapi yang sudah lebih dari satu dekade menggantungkan hidup, tetap bertahan meski tahun ini terasa jauh lebih berat.

“Sekarang sapi mahal sekali,” ucap Pak Soleh pelan, membuka percakapan, Minggu (19/4/2026).

Kenaikan harga sapi tahun ini diakui cukup signifikan dibanding tahun lalu. 

Meski tidak merinci angka pasti, ia menyebut selisihnya terasa di lapangan. 

Baca juga: Geliat Penjualan Sapi di Pasir Putih Tarakan Jelang Idul Adha, Harga Rp 20 Juta hingga Rp 70 Juta

Jika sebelumnya harga masih relatif terjangkau bagi pembeli, kini banyak yang mulai menahan diri.

“Baru sekarang mahal, mahal banget,” katanya lagi.

Namun bukan hanya soal harga yang membuat usaha Pak Soleh tersendat. 

Ia mengaku tahun ini tak bisa mendapatkan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari perbankan, yang selama ini menjadi salah satu penopang modal usahanya. 

Tanpa tambahan dana, kemampuan untuk mendatangkan sapi dari luar daerah pun ikut terbatas. 

"Kalau biasanya saya bisa pesan ratusan ekor itu miliaran. 

Sekarang tidak bisa, tidak dikasih perbankan, ya namanya kita orang kecil," ungkapnya.

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved