Bukan Bangunan Biasa, Berikut Makna Filosofis Arsitektur Panggung Budaya Fadan Liu' Burung Malinau

Bukan bangunan biasa, berikut makna filosofis arsitektur panggung budaya Fadan Liu' Burung Malinau.

Penulis: Mohamad Supri | Editor: M Purnomo Susanto
TRIBUNKALTARA.COM/MOHAMMAD SUPRI
Panggung Budaya Fadan Liu' Burung Pro Sehat Malinau Memiliki Makna Filosofis dari Aspek Arsitektur dan Dekorasinya. Panggung ini merupakan Satu dari Tiga Paket Pembangunan Pro Sehat yang Diresmikan Bupati Malinau Pagi Tadi, Senin (14/12/2020). TRIBUNKALTARA.COM/MOHAMMAD SUPRI 

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Bukan bangunan biasa, berikut makna filosofis arsitektur panggung budaya Fadan Liu' Burung Malinau.

Panggung budaya Fadan Liu' Burung yang diresmikan Bupati Malinau Yansen TP pagi tadi, ternyata memiliki makna filosofi.

Tak hanya dekorasi, arsitektur, denah dan bentuk Panggung Fadan Liu' Burung memiliki simbol dan makna khusus.

Baca juga: KPU Bulungan Gelar Pleno Rekapitulasi Suara, Pasangan Syarwani-Ingkong Ala Masih Unggul

Baca juga: Logistik Pilkada 5 Kecamatan Asal Krayan Belum Tiba, Ketua KPU Nunukan Rahman Beber Penyebabnya

Baca juga: Pasca Pilkada Serentak, Dua SSK Brimob Masih Siaga di Kaltara, Ada Apa ?

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPR-Perkim) Kabupaten Malinau, Tomy Labo merinci makna filosofi fasilitas tersebut.

"Panggung Budaya Fadan Liu Burung dari mengandung makna dan filosofinya. Mulai bentuk sampai arsitekturnya semua ada maknanya," ujarnya.

Tomy menjelaskan, nama Fadan Liu' Burung diambil dari nama pahlawan dan gelar pemimpin suku Dayak yang gagah berani.

Menurut Tomy, nama tersebut bermakna harapan bahwa Pemimpin di Kabupaten Malinau mampu mengayomi dan memimpin masyarakat agar maju dan sejahtera.

Tiga pasak besar di atap panggung utama mencerminkan tiga program unggulan gerakan desa membangun (Gerdema) Kabupaten Malinau.

"Ketiga program Gerdema yakni RT Bersih, wajib belajar 16 tahun dan Beras daerah (Rasda)," ungkapnya.

Pasak keseluruhan bagian atas mencirikan binatang khas di Kabupaten Malinau, Burung Enggang.

Ini melambangkan panggung tersebut akan menjadikan Malinau lebih dikenal khalayak dengan tetap mempertahankan budaya dan adat istiadatnya.

"Metafora Burung Enggang bermakna siap membawa Kabupaten Malinau terbang tinggi dengan elegan," katanya.

Denah tribun panggung lanjut Tomy, mengadopsi bentuk perisai yang dimaknai sebagai perlindungan dan pertahanan.

Baca juga: Alasan Mahfud MD Diancam Dibunuh 4 Simpatisan FPI, Terpancing Gegara Sebut Rizieq Shihab Tanpa Habib

Baca juga: Jual Sianida ke Tambang Ilegal Sekatak, Habib Munir Ditangkap Polda Kaltara Seusai Dua Kali Mangkir

Baca juga: Akhirnya Jadi Starter di Inter Milan, Christian Eriksen Tak Kunjung Puaskan Antonio Conte

Sedangkan warna pelangi di badan panggung dan lanskap menggambarkan keharmonisan ragam budaya, agama, ras, suku dan golongan yang ada di Kabupaten Malinau.

Tomy mengatakan, pembangunan panggung budaya Fadan Liu' Burung diharapkan dapat menjadi wadah dan fasilitas umum untuk pengembangan budaya dan kesenian daerah.

"Panggung ini kita harapkan dapat menjadi wadah kesenian dan kebudayaan yang edukatif dan memicu daya kreativitas masyarakat di Malinau," ungkapnya.

(*)

( TribunKaltara.com / Mohammad Supri )

Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved