Breaking News:

Puluhan Babi di Bulungan Mati

Dinas Pertanian Bulungan Pastikan Babi Mati Mendadak Akibat Virus ASF, Tak Ada Penularan ke Manusia

Dinas Pertanian Bulungan memastikan African Swine Fever atau ASF, yang menjangkiti babi tidak memiliki sifat zoonosis.

Penulis: Maulana Ilhami Fawdi | Editor: Junisah
TRIBUNKALTIM.CO
Ilustrasi pengambilan sampel pada babi yang diduga terjangkit ASF di Berau, Kaltim. 

TRIBUNKALTARA.COM, BULUNGAN - Dinas Pertanian dan Perternakan Kabupaten Bulungan memastikan African Swine Fever atau ASF, yang menjangkiti babi tidak memiliki sifat zoonosis.

Sehingga penyakit yang disebabkan oleh virus, dengan Genus Asfivirus dan Family Asfarviridae ini, tidak menular pada manusia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Staf Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Peternakan Bulungan, Deny, Jumat (11/6/2021).

Baca juga: Puluhan Babi Mati Mendadak di Desa Long Yin, Dugaan Virus ASF, Dinas Pertanian Bulungan Ambil Sampel

Baca juga: Waspada! Virus ASF pada Babi Ditemukan di Malaysia, Balai Karantina Pertanian Tarakan Beber Gejala

"Penyakit ternak ada dua sifatnya, satu zoonosis yang bisa menular ke manusia, dan non zoonosis yang tidak menular," ujar Staf Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian Bulungan, Deny.

"Untuk ASF, dia ini bukan zoonosis, artinya dia tidak menyebar ke manusia," tambahnya.

Baca juga: Akibat Penambangan Pasir Ilegal, 14 Rumah di Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan Rusak

Baca juga: Bupati Berau Temui Masyarakat Kampung Gunung Sari: Mari Kita Aksi Damai dan Duduk Bersama

Sehingga pihaknya meminta agar masyarakat tidak perlu khawatir atau takut terkena ASF, bila melakukan kontak langsung dengan babi.

Kendati bukan zoonosis, penyakit yang pertama kali masuk di Indonesia pada awal 2020 ini, dapat menyebabkan penyakit pada babi, bahkan dengan fatalitas 100 Persen.

Menerapkan protokol kesehatan dan menjaga imun tubuh juga menjadi kunci utama agar puasa lancar dan terhindar dari penularan virus.
Menerapkan protokol kesehatan dan menjaga imun tubuh juga menjadi kunci utama agar puasa lancar dan terhindar dari penularan virus. (Parla)

Ini berarti bila ada sepuluh ekor babi yang terjangkit, maka kesepuluh babi tersebut, besar kemungkinannya berujung pada kematian.

"Tapi untuk kerugian ekonominya bagi peternak itu bisa 100 Persen, artinya bisa semua ternak itu mati bila terjangkit," katanya.

Baca juga: Krisis Air, Warga Kerok Laut Kabupaten PPU Antre Air Bersih, Dijatah 2 Sampai 4 Jerigen 

Baca juga: Tolak Pembangunan Pabrik Kelapa Sawit, Masyarakat Gunung Sari Unjuk Rasa di Kantor Bupati Berau

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved