Sabtu, 2 Mei 2026

Virus Corona

Covid-19 Varian Delta Telah Bermutasi Jadi Delta Plus, Benarkah Varian Baru Ini Lebih Cepat Menular?

Covid-19 telah bermutasi berulang kali sejak muncul di China akhir 2019. Setelah Covid-19 varian Delta kini telah bermutasi lagi menjadi Delta Plus.

Tayang:
Editor: Sumarsono
TribunKaltara.com
ILUSTRASI- Tabung Oksigen medis untuk pasien Covid-19 varian Delta. (TribunKaltara.com) 

TRIBUNKALTARA.COMCovid-19 telah bermutasi berulang kali sejak muncul di China akhir 2019. Setelah Covid-19 varian Delta kini dikabarkan telah bermutasi lagi menjadi Delta Plus.

Berawal dari India, varian Delta menyebarkan ke beberapa negara dan memicu lonjakan kasus Covid-19, termasuk Indonesia.

Sebelumnya, setelah Covid-19 asal Wuhan, China sedikit mereda, muncul varian Alpha, kemudian varian Delta yang telah menjadi strain dominan secara global dan kini telah bermutasi menjadi varian Delta Plus.

Menurut sejumlah pakar Kesehatan dunia, varian Delta Plus dinilai lebih mengkhawatirkan, karena berpotensi lebih menular.

Dikutip dari CNBC News pada 16 Juni 2021 kasus varian Delta Plus juga telah diidentifikasi di Amerika Serikat, Kanada, India, Jepang, Nepal, Polandia, Portugal, Rusia, Swiss, dan Turki.

Baca juga: Varian Delta Covid-19 Semakin Merebak, Bagaimana Stok Tabung Oksigen Medis? Kemenkes Beri Penjelasan

Sebanyak 200 kasus virus Corona varian Delta Plus diketahui telah tersebar di 11 negara seluruh dunia.

Dilansir Tribunnews dari CNN, pejabat kesehatan mengungkapkan versi baru dari varian Delta dilaporkan telah menginfeksi sejumlah negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat, dan India.

Kini yang menjadi perhatian media global disebut B.1.617.2.1 atau AY.1, singkatnya Delta Plus.

Sebelumnya World Health Organization (WHO) memperingatkan varian Delta berpotensi menjadi lebih mematikan daripada virus Corona yang berasal dari Wuhan.

Varian Delta disebut lebih cepat menular dan membuat pasien menjadi sakit parah.

Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO Dr. Mike Ryan mengungkapkan, varian Delta menjadi varian paling dominan di seluruh dunia.

Baca juga: Antisipasi Varian Delta, Dinkes Tana Tidung Kirim 9 Sampel Pasien Covid-19 ke Lab Surabaya

Varian Delta yang sangat menular adalah jenis virus Corona tercepat dan terkuat yang pernah ada dan akan mengambil orang yang paling rentan, terutama di tempat-tempat dengan tingkat vaksinasi Covid-19 yang rendah.

“Varian Delta ini lebih cepat, lebih bugar daripada varian sebelumnya, dan oleh karena itu jika ada orang yang dibiarkan tanpa vaksinasi, mereka tetap berada pada risik tertinggi,” kata Ryan.

Bahkan WHO melabeli varian Delta sebagai varian yang menjadi perhatian bulan lalu.

Sebuah varian dapat diberi label sebagai 'perhatian' jika terbukti lebih menular, lebih mematikan, atau lebih resisten terhadap vaksin.

"Varian Delta sekarang menggantikan Alpha, varian yang sangat menular yang melanda Eropa dan kemudian AS awal tahun ini," ujar Dr. Paul Offit, Direktur Pusat Pendidikan Vaksin di Rumah Sakit Anak Philadelphia dikutip Tribunnews dari CNBC News, Kamis (24/6/2021).

Maria Van Kerkhove, Pejabat Teknis WHO untuk Covid-19 mengungkapkan varian Delta kini telah menyebar ke 92 negara.

Update Info Corona. Dua tenaga kesehatan atau nakes di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara ( Kaltara ), dinyatakan sembuh dari Covid-19 atau virus Corona.
Update Info Corona. Dua tenaga kesehatan atau nakes di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara ( Kaltara ), dinyatakan sembuh dari Covid-19 atau virus Corona. (Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S)

Varian ini membuat setidaknya 10% dari semua kasus baru di Amerika Serikat.

Inggris baru-baru ini melihat varian Delta menjadi strain dominan di sana, melampaui varian Alpha yang pertama kali terdeteksi disana.

Varian Delta sekarang membuat lebih dari 60% kasus baru di Inggris

Ia mengatakan ada laporan bahwa varian delta juga menyebabkan gejala yang lebih parah, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi kesimpulan tersebut.

Namun ada tanda-tanda varian Delta dapat memicu gejala yang berbeda dari varian lainnya.

"Tidak ada varian yang benar-benar menemukan kombinasi penularan tinggi dan mematikan, tetapi varia Delta adalah yang paling mampu dan tercepat dan terkuat dari virus-virus lainnya,” kata Maria.

Baca juga: Klaster Perusahaan Jangkiti Penduduk, Jubir Satgas Covid-19 Nunukan Sebut Zona Oranye Bakal Kembali

Maria mengungkapkan jika saat ini belum ada vaksin yang tepat untuk melindungi dari bahaya varian Delta.

WHO telah mendesak negara-negara kaya, termasuk Amerika Serikat untuk menyumbangkan dosis vaksinnya.

Studi menunjukkan varian Delta 60% lebih mudah menular daripada Alpha yang sebelumnya disebut lebih menular daripada jenis asli yang muncul dari Wuhan, Cina pada akhir 2019.

Kementerian Kesehatan Indonesia menemukan indikasi varian Delta menulari anak-anak.

Baca juga: Kasus Covid-19 di Jakarta Tertinggi, Anies Khawatir Terjadi Kolaps Jika Kapasitas RS Tidak Ditambah

Diprediksi Melandai pada Pertengahan Juli

Kabid Penanganan Kesehatan Satgas Covid-​19 Alexander Ginting memprediksi kasus Covid-19 di Indonesia akan melandai atau turun pada pertengahan bulan Juli 2021.

Namun, pelandaian kasus Covid terjadi jika pengendalian zonasi berbasis Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro dapat dimaksimalkan.

"Kalau misalnya zonasi-zonasi ini bisa dikunci, itu pertengahan Juli tentunya sudah mulai ada pelandaian," ujar Alex dalam diskusi daring di Jakarta, Sabtu (26/6/2021).

Aleks meminta masyarakat untuk membatasi mobilitas serta interaksi terlebih dahulu untuk menurunkan angka Covid-19.

Segala kegiatan yang berpotensi menciptakan kerumuman, menurutnya, harus dihindari.

"Kita berharap kita semua sekarang ini yang ngantor ya 75 persen ada di rumah, dan kemudian mal-mal itu jangan kita kunjungi dulu. Jangan ada interaksi," tutur Alex.

Meski begitu, Alex mengkhawatirkan lonjakan Covid-19 dapat terjadi kembali jika ada kegiatan perayaan keagamaan maupun kebudayaan.

"Sehingga kita nanti mencapai satu kelandaian di sekitar pertengahan Juli, tapi kalau nanti ada perayaan-perayaan keagamaan, ada perayaan-perayaan budaya. ini yang dikhawatirkan bisa menimbulkan lagi kasus," tutur Alex.

Alex mengingatkan masyarakat bahwa virus corona dapat terus berkembang biak karena manusia terus saling menularkan.

Baca juga: UPDATE Tambah 4, Kasus Covid-19 Nunukan jadi 1.532, Alami Pemburukan Kondisi 1 Pasien Meninggal

Virus ini, kata Alex, terus muncul akibat interaksi masyarakat dan ketidaktaatan terhadap protokol kesehatan.

"Oleh karena itu kalau kita dekat-dekat. Kita tidak menjaga jarak berarti kita memberi kesempatan virus untuk bereplikasi.

Kita tidak memakai masker, berarti kita memberi kesempatan untuk virus mencari host-nya untuk dia bisa berkembang biak di situ," jelas Alex.

Sehingga, dirinya meminta masyarakat mengetahui risiko yang dapat terjadi jika terus berinteraksi tanpa memperhatikan protokol kesehatan.  

(Tribunnews.com/Mohay)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Delta Plus Muncul sebagai Mutasi Baru dari Varian Delta, Ini Penjelasan dan Perbedaannya

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved