Kamis, 7 Mei 2026

Mutiara Ramadan

Pancasila dalam Perbedaan Awal Ramadhan Tahun 2022

Perbedaan awal Ramadhan adalah keniscayaan yang terjadi karena adanya perbedaan metodologi dalam menentukan awal bulan.

Tayang:
Editor: Sumarsono
HO
KH. Zainuddin Dalila, Ketua Umum MUI Provinsi Kaltara (paling kiri) 

Oleh : K.H.Zainuddin Dalila (Ketua Umum MUI Provinsi Kaltara)

TRIBUNKALTARA.COM - Tahun ini kita harus memulai puasa Ramadhan dengan perbedaan.

Ada yang mulai hari Sabtu (2/4/2022) seperti warga Muhammadiyah dan beberapa kelompok masyarakat lainnya, ada yang mulai hari Minggu (3/4/2022). yaitu masyarakat muslim pada umumnya sesuai pengumuman resmi dari Menteri Agama.

Perbedaan awal Ramadhan adalah keniscayaan yang terjadi karena adanya perbedaan metodologi dalam menentukan awal bulan.

Tentu kita sudah mafum adanya karena ini bukan kejadian baru.

Sepanjang perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini, sudah pernah beberapa kali terjadi perbedaan tersebut, baik dalam memulai Ramadhan maupun pelaksanaan idul fitri.

Baca juga: Apa Itu Hisab dan Rukyatul Hilal? Intip Cara Kerja Kemenag Tentukan Awal Puasa 1 Ramadhan 1443 H

Namun jika dibanding-bandingkan, tentunya masih banyak waktu yang bersamaan daripada yang berbeda.

Alhamdulillah umat Islam tetap bersatu dan menjunjung tinggi ukhuwah Islamiyah.

Ada komentar dan reaksi dari satu dua orang, biasalah terjadi begitu. Apatah lagi di media sosial, apa sih yang tidak diviralkan.

Saya yakin umat Islam tidak akan terpecah belah hanya gara-gara perbedaan musiman seperti itu.

Itulah semangat Firman Allah swt. “wa’tashimu bi hablillahi jamiian walaa tafarroquu” artinya “Dan berpegang teguhlah kamu semua pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai berai.” (QS. Ali Imron : 103).

Kita ini berbeda tiap hari aja sudah biasa koq.

Setiap hari saat sholat shubuh, ada yang melakukan qunut ada yang tidak.

Hal itu terjadi sudah berabad-abad bagi umat Islam di seluruh dunia.

Baca juga: Hari Pertama Buka, Pasar Ramadan di Tarakan Diserbu Pembeli, Sumiati Bersyukur Bisa Jualan Lagi

Alhamdulillah tidak pernah sampai mengarah kepada perilaku teror atau tindakan anarkis dari satu kelompok tehadap kelompok lainnya.

Semua berlangsung dalam suasana legowo saling menghargai dan menghormati pilihan keyakinan masing-masing.

Setiap pilihan tentu memiliki alasan dan argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Pilihan oleh masyarakat awam sekalipun, tentu memilih untuk mengikuti ulama yang diyakini dapat mempertanggungjawabkan fatwanya.

Sebagai ilustrasi kalau kita dengan beberapa teman masuk ke warung makan. Kemudian masing-maisng memilih menu makanan dan minuman.

Ada yang pesan nasi kuning dan teh panas, ada yang pesan soto dan teh panas, ada yang pesan rawon dan jeruk panas, ada juga yang tidak pesan makanan hanya minum teh es saja.

Nah bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut ?

(1) Kita harus legowo dan menghargai pilihan masing-masing;

(2) Kita tidak bisa menyalahkan orang lain yang memilih soto, hanya karena kita sendiri memilih nasi kuning misalnya.

(3) Kita bahkan tidak boleh membandingkan pilihan yang satu lebih baik dari yang lainnya, misalnya kita katakan soto lebih bagus daripada rawon. 

Baca juga: Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa pada 2 April 2022, Kapan Pemerintah dan Organisasi Islam lain?

Kita yakin setiap pilihan ada alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Justru hal indahnya adalah di tengah suasana makan dengan menu yang berbeda itu, tak jarang yang satu memuji makanan temannya.

“Nampaknya enak sotonya ?” kata seseorang yang dia sendiri sedang menikmati makanan rawon.

Diapun menjawab,” ya enak ternyata sotonya, saya baru kali ini mencoba.

Biasanya kalau ke warung ini saya senang makan rawon,” katanya kepada temannya yang makan rawon tadi.

Begitulah jika terbangun rasa saling mengerti dan menghargai pilihan masing-masing.

Adapun halnya dengan perbedaan awal puasa Ramadhan sesungguhnya adalah satu. Baik yang mulai hari Sabtu maupun yang mulai hari Minggu sama-sama Ramadhannya tanggal satu.

Persis seperti pita yang dicengkeram burung garuda dalam falsafah Pancasila “bhinneka tunggal ika” berbeda-beda tetapi tetap satu juga, berbeda harinya tetapi tetap sama 1 Ramadhan 1443 Hijriyah.) (*)

Sumber: Tribun Kaltara
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved