Sabtu, 11 April 2026

Jejak Islam di Kaltim

Penyebaran Islam di Paser Diawali oleh Abu Mansyuh, Murid Sunan Giri

Penyebaran Islam di Paser, Kalimantan Timur tak lepas dari peran seorang ulama dari Kesultanan Demak yang bernama Abu Mansyuh.

Editor: Sumarsono
Tribun Kaltim/Dwi Ardianto
Museum Sadurengas merupakan peninggalan Kesultanan Paser. Di museum ini kita bisa melihat jejak-jejak perkembangunan Islam di wilayah Paser, termasuk menyimpang Al Quran tua . 

TRIBUNKALTARA.COM - Penyebaran Islam di Paser, Kalimantan Timur tak lepas dari peran seorang ulama dari Kesultanan Demak yang bernama Abu Mansyuh.

Beliau juga disebut sebgai murid Sunan Giri yang menikah dengan Petri Petong, ketika itu memimpin Kerajaan Sadurengas.

Secara topografi wilayah Kabupaten Paser terbagi menjadi dua, yakni bagian timur merupakan daerah dataran rendah landau hingga bergelombang.

Membentang panjang dari Utara hingga Selatan yang lebih melebar.

Di bagian selatan daerah Paser, terdiri rawa-rawa dan daerah aliran Sungai dengan Jalan Negara Penajam-Kuaro-Kerang Dayo sebagai batas topografi.

Sementara bagian barat, daerah dataran yang bergelombang, berbukit dan bergunung sampai ke perbatasan Provinsi Kalimantan Selatan.

Adapun proses penyebaran Islam di Kalimantan berlangsung secara efektif mulai abad 15 hingga 16 Masehi.

Baca juga: Perjalanan Dakwah Pangeran Noto Igomo, Menyebarkan Agama Islam Sembari Membuka Perkebunan

Perkembangan Islam di Kalimantan ini turut berdampak pada munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan.

Menurut Sejarawan Paser, Aji Jamil, Paser sendiri merupakan nama dari seseorang yang pertama kali membuka suatu tempat di wilayah Tanah Paser .

Dalam artian, nama Paser bukan berasal beriringan dengan masa kerajaan.

Penyebaran Islam di Kerajaan Paser tersiar melalui beberapa jalur, diantaranya jalur perkawinan dan jalur perdagangan.

Makam Abu Thalhah di Tenggarong Kutai Kartanegara saat dikunjungi Tribun Kaltim 28 Februari 2024. Makam salah seorang ulama besar ini sampai sekarang menjadi lokasi wisata religi di Tenggarong.
Makam Abu Thalhah di Tenggarong Kutai Kartanegara saat dikunjungi Tribun Kaltim 28 Februari 2024. Makam salah seorang ulama besar ini sampai sekarang menjadi lokasi wisata religi di Tenggarong. (Tribun Kaltim/Dwi Ardianto)

Mengutip dari beberapa sumber terkait penyebaran Islam di Paser, jauh sebelum mengenal agama, masyarakat Paser mengenal kepercayaan animisme.

Sebuah kepercayaan yang terikat dengan makhluk-makhluk halus, roh-roh halus, kekuatan gaib dan kekuatan sakti.

Senada demikian, menurut Jamil, kepercayaan animisme masih membalut masyarakat dalam zaman Kerajaan Sadurengas.

Saat itu dalam masa pemerintahan Aji Rentik Manik Jalan Ngembang atau lebih dikenal dengan Ratu Aji Putri Botung/Petong.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved