Jejak Islam di Kaltim
Penyebaran Islam di Paser Diawali oleh Abu Mansyuh, Murid Sunan Giri
Penyebaran Islam di Paser, Kalimantan Timur tak lepas dari peran seorang ulama dari Kesultanan Demak yang bernama Abu Mansyuh.
Meski pada waktu itu agama Islam sudah banyak dianut oleh masyarakat setempat, termasuk Putri Petong.
Kemudian untuk meneguhkan serta memperkuat kepercayaan agama Islam, jalur perkawinan dilakukan antara Putri Petong dan Indra Jaya yang bergelar Abu Mansyuh atau Abu Mansyur.
Baca juga: Pemakaman Kelambu Kuning, Saksi Bisu Penyebaran Islam di Kesultanan Kutai Kartanegara
Abu Mansyuh merupakan seorang mubalig sekaligus murid dari Sunan Giri.
Atas izin Sunan Giri dan Kesultanan Demak, beliau melakukan dakwah dan mensyiarkan Islam di Bumi Kalimantan, khususnya Kerajaan Sadurengas.
Tak hanya itu, kedatangan Abu Mansyuh ke Paser juga digadang untuk menjalin hubungan persahabatan antara Kesultanan Demak dengan Kerajaan Sadurengas, serta menjalin hubungan perdagangan antara kedua kerajaan.
“Pada saat itu Putri Petong sudah Islam, kemudian Indra jaya ini hanya memperkuat beliau (Petri Petong) sebagai pemimpin yang beragama Islam.
Karena waktu itu kekuatan ada pada laki-laki, untuk menghadapi masyarakat yang banyak menganut kepercayaan animisme dengan memakai ilmu-ilmu kedigdayaan,” ulas Jamil.
Dari hasil pernikahan tersebut, Putri Petong dan Abu Mansyuh memperoleh keturunan tiga orang putra dan seorang putri.
Antara lain Aji Mas Raden Bosi Indra, Aji Putri Mitir, Aji Mas Arum Indra dan Aji Mas Pati Indra.
Dari keempat tutus atau keturanannya itu, Abu Mansyuh mengamanatkan bahwa anak lelakinya yang tertua Aji Mas Raden Bosi Indra menjadi Ratu Agong atau pemimpin adat tertinggi di Kerajaan Sadurengas.
Lalu anak lelakinya yang ketiga yakni Aji Mas Arum Indra menjadi pemimpin Alim Ulama dan cikal bakal pemimpin ulama di Kerajaan Sadurengas.
Baca juga: Masjid Tertua di Tarakan, Jami Nurul Islam jadi Saksi Sejarah Perang Dunia Masa Penjajahan Belanda
Sementara anak lelakinya yang ke empat yakni Aji Mas Pati Indra menjadi Raja Sadurengas untuk menggantikan ibundanya Ratu Aji Petri Botung/Petong jika sudah mangkat dan akan menjadi cikal bakal Raja-raja di Kerajaan Sadurengas.
Selang waktu berlalu, pada tahun 1526, Abu Mansyuh diperintahkan oleh Sultan Demak untuk membantu Raden Samudera dari Kerajaan Banjar untuk perang memperebutkan tahta kekuasaaan Kerajaan Banjar dari pamannya Pangeran Temenggung.
Akan tetapi, Abu Mansyuh urung ke Banjar lantaran dilarang oleh Putri Petong. karena pada saat itu ia baru hamil anak pertama mereka.
Abu Mansyuh mengutus Khatib Dayyan, ialah seorang yang sejak awal ditugaskan sebagai juru bicaranya untuk memimpin pasukan dari Kesultanan Demak menuju Kerajaan Banjar yang terletak di Kuin Muara Sungai Barito.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/museum-paser.jpg)