Senin, 4 Mei 2026

Jejak Islam di Kaltim

Penyebaran Islam di Paser Diawali oleh Abu Mansyuh, Murid Sunan Giri

Penyebaran Islam di Paser, Kalimantan Timur tak lepas dari peran seorang ulama dari Kesultanan Demak yang bernama Abu Mansyuh.

Tayang:
Editor: Sumarsono
Tribun Kaltim/Dwi Ardianto
Museum Sadurengas merupakan peninggalan Kesultanan Paser. Di museum ini kita bisa melihat jejak-jejak perkembangunan Islam di wilayah Paser, termasuk menyimpang Al Quran tua . 

“Beliau (Abu Mansyuh) memang suka berkelana, apalagi setelah perkawinan dengan Petri Petong, karena memang ada jalur perdagangan,” imbuh Jamil.

Setelah Abu Mansyuh mangkat dan khatib Dayyan menetap di Kerajaan Banjar, maka secara otomatis dakwah Islam di Kerajaan Sadurengas mulai menurun.

Baca juga: Penyebaran Islam Makin Masif Pasca Kepemimpinan Raja Aji Dilanggar, Gelar Raja Diubah Jadi Sultan

Maka Raja Sadurengas yang berkuasa saat itu adalah Aji Mas Pati Indra berusaha keras untuk mencari ulama atau mubaligh untuk bertugas serta berdakwah di Kerajaan Sadurengas.

Lalu ia mengirim utusan ke Demak dan Banten, agar kiranya kedua Kesultanan itu sudi mengirimkan mubaligh untuk berdakwah di Kerajaan Sadurengas.

Karena saat itu kedua Kesultanan sedang terjadi ketidakstabilan politik, maka lama tidak ada kiriman mubaligh yang diinginkan oleh Raja Sadurengas Aji Mas Pati.

Barulah sekitar tahun 1622 Masehi, Kesultanan Banten mengirimkan ulama atau mubaligh yang lama menetap di Kerajaan Mempawah bernama Sayyid Ahmad Maulana Khairudin yang diberi gelar Imam Pawah atau Datu Bejambe.

Beliau datang berdakwah ke Kerajaan Sadurenges dan melanjutkan dakwah dari Abu Mansyuh, kemudian dinikahkan atau dijodohkan dengan putri Abu Mansyuh yakni Aji Putri Mitir.

Selain itu, jalur perdagangan turut menyebabkan sebagian masyarakat tertarik untuk memeluk agama Islam.

Pada saat itu jalur perdagangan ditempuh melalui salah satu Pelabuhan yang terletak di Pasir Mayang.

Pada saat itu, Imam Pawah memerintahkan putra pertamanya Aji Sayyid Abdul Rahman untuk memimpin atau menjadi mubaliq di daerah pelabuhan Kerajaan Sadurengas yakni di Pasir Mayang.

Melalui tutus keturunan atau zuriat Abu Mansyuh Indra Jaya dan Imam Pawah inilah dahwah islam menyebar keseluruh Kerajaan Sadurengas.

 Kemudian di tahun 1703 berubah menjadi Kesultanan Paser. (*)

Penulis : Ary Nindita Intan R S

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved