Selasa, 7 April 2026

Opini

Masa Depan Ketersediaan Pangan di Kaltara

Hidup memang bukan untuk makan, namun tanpa makan dijamin tidak hidup. Untuk tetap  hidup, setiap orang harus makan, dan syaratnya harus ada pangan.

Editor: Sumarsono
IST
Dr. Margiyono, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan 

Oleh: Dr Margiyono, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan / Penulis Kebijakan Bank Indonesia

TRIBUNKALTARA.COM - Hidup memang bukan untuk makan, namun tanpa makan dijamin tidak hidup. Untuk tetap  hidup, setiap orang harus makan.  Syaratnya untuk  bisa makan harus ada pangan.

Artinya kelimpahan dan keberadaan pangan adalah kuncinya. Ketersediaan pangan sangat tergantung dua faktor yaitu, sumberdaya yang dialokasikan  dan kebijakan yang diterapkan.

Untuk membangun pertanian yang tangguh butuh alokasi sumberdaya dan dukungan kebijakan. Pembangunan pertanian di Kaltara adalah  prioritas.

Hal itu tertuang pada dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah ( RPJPD ) Kalimantan Utara.

Hal itu sangat beralasan.  Karena, posisi sektor pertanian pada  Pendapatan Domestik Regional Bruto ( PDRB ) Kaltara  termasuk dominan. Kontribusinya mencapai 14  persen terhadap  PDRB.  

Ditengah ancaman kelangkaan pangan global baik oleh katrena perang dan pemanasan global, ketersediaan dan kecukupan pangan membutuhkan  perhatian lebih.

Karena,  pertanian   menentukan stabilitas: harga, ekonomi, sosial, bahkan politik.

Baca juga: Bank Indonesia Perkuat Jejaring UMKM Lokal di Kaltara

Pembiayaan Pertanian oleh Perbankan

Pertumbuhan dana perbankan 9 tahun terakhir (2016-2024) di Kaltara terus meningkat.   

Tahun 2016 total serapnya hanya Rp 7,3 triliun. Kemudian 2023  naik menjadi Rp 18,18 triliun. Tumbuh hingga 250 persen atau lebih atau 31 persen/tahun.

Bahkan untuk tahun 2024 hingga bulan Agustus jumlah dana yang diserap naik menjadi  Rp 19,21 triliun.

Porsi penyerapan dana perbankan oleh lapangan usaha di tahun 2023 sebesar Rp 12,3 triliun. Itu sebagai penyerapan yang tertinggi. Porsinya mencapai 67,65 persen.

Sementara tahun 2024 hingga Agustus lapangan usaha menyerap hingga Rp 12,83 triliun.

Namun porsinya turun hanya 66,79 persen, sehingga non lapangan usaha  porsinya  33,21 persen.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved