Opini
Ekonomi Indonesia di Tengah Konflik Global
Meski konflik global meningkat, ekonomi Indonesia masih relatif kuat dengan pertumbuhan sekitar 5%, lebih tinggi dari rata-rata global dan ASEAN.
Oleh: Dr Margiyono
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan
TRIBUNKALTARA.COM - Kondisi Global tidak baik-baik saja. Bukan hanya bencana dan perselisihan. Saat ini konflik terjadi di mana-mana. Rusia-Ukraina belum usai. Hampir empat minggu Amerika & Israel vs Iran meletus. Hal itu sebenarnya sudah disampaikan oleh World Economic Forum 2025 melaporkan risiko global.
Artinya Dunia menghadapi ketidakpastian. Tak ayal muncul rumor tentang krisis. Tulisan ini mencoba merespons rumor berdasarkan indikator statitik ekonomi. Untuk itu akan kita bahas ekonomi Indonesia berdasarkan data; pertumbuhan ekonomi, inflasi, kondisi fiskal, nilai tukar dan harga BBM.
Pertumbuhan dan Stabilitas Ekonomi
Empat risiko teratas yang dirilis oleh World Economic Forum 2025 yaitu; 1. Konflik bersenjata 2. temperatur ekstrim 3. naiknya biaya hidup dan 4. polarisasi antar negara. Resiko pertama sedang membara. Dampak dari resiko teratas itu akan pengaruhi resiko ke-3 dan ke-4. Lalu bagaimana dampaknya terhadap Indonesia mari kita coba untuk memahaminya.
Memasuki tahun 2026 atau akhir 2025 pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami peningkatan bahkan tertinggi beberapa tahun terakhir. Triwulan-4 tahun 2025, ekonomi nasional tumbuh 5,39 persen. sehingga rata-rata pertumbuhan ekonomi tahun 2025 sebesar 5,11 % .
Pertumbuhan itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ASEAN yang hanya 4,4 % pada periode yang sama. Pertumbuhan global sebesar 3,3 % kemudian tahun 2026 pertumbuhan global tumbuh lebih rendah yaitu 3,2 % . Periode tersebut ASEAN juga menurun menjadi 4,3 % .
Baca juga: Menanti Janji Kepala Daerah Terpilih
Bagiamana pertumbuhan Indonesia tahun 2026 diprediksi berada pada rentang 4,9 % - 5,7 % (yoy). Sebagaimana tahun 2025 pertumbuhan Indonesia lebih banyak didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi.
Awal tahun ini Indonesia miliki banyak bonus ekonomi. Untuk menggerakan konsumsi Tw-1 2026 paling banyak hari libur. Konsumsi transportasi naik drastis. Bahkan semua tiket pesawat dari Tarakan, Balikpapan, Samarinda dan Banjarmasin ke kota-kota di Pulau Jawa full. Baik ke Surabaya, Semarang, Solo, Jogjakarta dan Jakarta semuanya full.
Konsumsi pangan juga meningkat. Terutama memasuki bulan ramadhan dan idul fitri. Realitas itu biasanya akan berdampak pada harga pangan. Betul bahwa Inflasi IHK Februari 2026 sebesar 4,76 % (yoy). Kenaikan itu lebih dipengaruhi oleh dicabutnya subsidi listrik. Oleh karena inflasi inti masih berada pada 2,5 % .
Inflasi inti adalah kenaikan harga yang dipengaruhi oleh ketersediaan dan permintaan pangan. Produktifitas pangan cukup stabil. Apalagi di Pulau Jawa banyak daerah yang mengalami panen raya. Meskipun permintaan meningkat, penawaran juga meningkat, sehingga inflasi pangan cukup stabil.
Variabel inilah yang menentukan stabilitas harga dan stabilitas daya beli. Oleh karena setiap hari orang belanja dan makan. Sepanjang tahun orang juga makan. Jika harga pangan stabil maka inflasi akibat dicabutnya subsisdi listrik hanya bersifat temporer. Sehingga tingkat harga akan cenderung stabil.
Stabilitas harga yang meningkat, sebagaimana februari 2026 justru memberikan stimulus produksi kepada produsen. Kondisi ini tentunya berdampak pada peningkatan penyerapan angkatan kerja, mengurangi pengangguran dan selanjutnya meningkatkan daya beli.
Indikator stabilitas yang lain adalah nilai tukar. Pada tanggal 18 Maret 2026 niliati tukar rupiah sempat berada pada Rp 17.041,-/per 1 $ AS, setelah itu terus mengalami penguatan. Hari ini sudah kembali mengalami penguatan yaitu 1 $ AS menjadi Rp 16.811,20 Rupiah. Berdasarkan data itu berarti seminggu terakhir rupiah mulai menguat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/EKONOMI-INDONESIA-Dosen-Fakultas-Ekonomi-UBT-Dr-Margiyono.jpg)