Selasa, 12 Mei 2026

Opini

Kartini Bukan Sekadar Riasan dan Kebaya: Refleksi Perjuangan Perempuan Masa Kini

Catatan Ketua DPW Srikandi Pemuda Pancasila Kalimantan Utara sebagai refleksi perjuangan perempuan masa kini di momen Hari Kartini 2026.

Tayang:
Editor: Amiruddin
ARSIP-TRIBUNKALTARA.COM
HARI KARTINI - Foto Ketua DPW Srikandi Pemuda Pancasila Provinsi Kalimantan Utara, saat ditemui di Tanjung Selor beberapa waktu lalu. Simak catatan Ketua DPW Srikandi Pemuda Pancasila Kalimantan Utara sebagai refleksi perjuangan perempuan masa kini di momen Hari Kartini 2026. ARSIP-TRIBUNKALTARA.COM 

Oleh: Lili Suryani, SE.MM

Ketua DPW Srikandi Pemuda Pancasila Provinsi Kalimantan Utara

TRIBUNKALTARA.COM - Setiap tanggal 21 April, kita kembali disuguhi narasi manis tentang Kartini: potret perempuan bangsawan berbalut kebaya, duduk manis di pendopo, atau sekadar tagar #HariKartini di media sosial.

Tak salah memang, tapi jika peringatan ini hanya berhenti pada euforia busana dan untaian puisi, kita telah mereduksi makna perlawanan seorang Kartini menjadi sekadar seremoni tahunan.

Sebagai seseorang yang sehari-hari bergulat dalam organisasi perempuan dan menyaksikan langsung denyut perjuangan emansipasi, saya melihat bahwa pertempuran yang Kartini mulai lewat tinta dan air matanya, hingga kini belum usai.

Bedanya, medan laga kita sudah berubah.

Dulu Kartini berjibaku dengan tembok adat yang melarang perempuan mengenyam bangku sekolah.

Kini, tantangannya lebih sistemik dan berwajah modern.

Perjuangan saat ini bukan lagi sekadar meminta izin untuk belajar.

Perjuangan sekarang adalah memastikan anak-anak perempuan di pelosok desa tidak
putus sekolah karena harus menikah muda, atau karena fasilitas sanitasi di sekolah tak
layak.

Perjuangan kini adalah melawan bias gender dalam kurikulum pendidikan yang
masih kerap menempatkan laki-laki sebagai pemimpin dan perempuan sebagai
pengasuh.

Dulu Kartini meratapi nasibnya yang dipingit.

Kini, perempuan justru harus berjuang melawan ekspektasi ganda (double burden).

Seusai bekerja 9 jam di kantor, pulang ke rumah masih harus mengurus anak, memasak, membersihkan rumah, sementara suami atau pasangan belum tentu berbagi peran secara adil. 

Emansipasi bukan berarti perempuan harus kuat sendirian, melainkan ada kesetaraan tanggung jawab di ruang privat.

Baca juga: Peringatan Hari Kartini, Ibu dan Anak Ikut Lomba Kebaya dan Wastra Nusantara Digelar TP PKK Nunukan

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved